My Hot ART

My Hot ART
Polosnya Irene



"Daddy sangat menyebalkan!" kesal Ansel, kemudian berjalan menjauhi kedua orang tuanya dengan perasaan yang teramat kesal.


Jeje menatap punggu putranya yang mulai menjauh dari pandangannya sembari menggelengkan kepalanya, kemudian beralih nenatap suaminya. "Daddy sama anak sendiri kenapa harus cemburu?!"


"Honey, dia sudah menjadi pria dewasa dan aku tidak suka jika anak ingusan itu mendekatimu!" jawab Xander, seraya menarik pinggang istrinya hingga tubuh keduanya tanpa jarak sama sekali.


Jeje memutar kedua bola matanya jengah, sembari menahan dada bidang suaminya.


"Kita ke kamar, Yuk!" bisik Xander seraya mengerling nakal, lalu menarik istrinya menuju kamar mereka yang sudah di sewa.


"Daddy, malu sama anak-anak!" tolak Jeje, wajahnya bersemu merah ketika melihat Aiden menatapnya sambil menaik turunkan alisnya.


"Mereka sudah dewasa pasti mengerti, jangan kalah sama pengantin baru," jawab Xander tidak ingin dibantah.


Jeje menggerutu di dalam hati karena suaminya walau sudah tua, staminanya sangat kuat seperti kuda lumping.😆


*


*


*


Sedangkan pengantin baru yang sedang di bicarakan kini sedang makan malam bersama didalam kamar.


"Jangan menatapku seperti itu," ucap Irene sembari mengiris steak yang ada di atas piringnya.


"Memangnya kenapa? Gue 'kan hanya menikmati keindahan tubuh istri tercinta," jawab Sean sembari mengunyah potongan steak yang ada di dalam mulutnya.


"Ck!" Irene hanya berdecak kesal, sembari membenarkan lingerie berwarna merah yang melekat ditubuh mungilnya itu. "Apa tidak ada pakaian lain?" tanya Irene, cemberut kesal. Karena sejak selesai membersihkan diri, ia di suruh memakai pakaian saringan tahu itu oleh suaminya, dengan alasan tidak ada baju lainnya.


"Tidak ada, apa lo nggak lihat, kalau gue cuma mengenakan kaos oblong dan boxer ini?" Sean menunjuk Boxer bermotif si kuning spongebob.


"Ini pasti alasan kamu 'kan?!" tuduh Irene sembari memasukan potongan steak kedalam mulutnya dan mengunyahnya kasar, pandangan matanya menatap sengit suaminya.


"Jangan fitnah deh! Ini semua ulah Mommy karena beliau ingin mendapatkan cucu secepatnya," jawab Sean menatap mesum istrinya, sembari menaik turunkan alisnya.


"Ih! Nggak ada ya! Masih sakit, Se!" Irene berengut kesal, lalu menyilangkan garpu dan pisau steak diatas piring, karena makanannya sudah habis, kemudian menenggak jus jeruk hingga habis tidak tersisa.


Irene mendengus kesal seraya menatap sebal suaminya. "Jangan modus, Se!"


"Siapa yang modus? Coba baca di internet," jawab Sean, seraya meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, kemudian menyerahkannya kepada Irene.


Irene menerima ponsel tersebut lalu jarinya berselancar membuka google di ponsel Sean. Dan mencari tahu tentang kebenaran yang di katakan oleh suaminya.


"Sudah ketemu jawabannya?" Sean bertanya sembari membereskan meja tersebut.


Irene menatap Sean kemudian mengangguk pelan.


"Lalu?"


"Ya, seperti yang kamu katakan tadi, biar tidak sakit lagi harus sering berhubungan," jawab Irene, seraya cemberut kesal dan juga malu saat mengatakannya.


"Tunggu apalagi? Ayo kita lakukan!" Sean beranjak dari sofa, seraya menarik tangan istrinya.


Sepertinya pria itu sudah tidak sabar untuk melahap istrinya lagi.


"Tunggu, Se!" Irene menahan tangan suaminya yang menariknya itu.


"Ada apa lagi, Sayang?" tanya Sean, sudah tidak sabar lagi. Kemudian menggendong istrinya ala bridal style dan merebahkannya diatas ranjang panas.


"Sean! Sabar dulu, aku hanya ingin bertanya sesuatu!" Irene membekap bibir Sean yang akan menciumnya.


"Apa lagi!"


"Punyamu besar sekali, Se. Sangat sesak di dalam milikku, apakah tidak bisa di kecilkan?" tanya Irene sangat polos, membuat Sean tercengang.


Nggak bisa di kecilkan Irene. Anunya itu All Size. 🤣🤣


Sawer bestie, jangan lupa like-nya ya. 🤧


Yang baca banyak tapi pada lupa nge-like.🤧