My Hot ART

My Hot ART
Ternyata ...?



"Jangan bohong kamu!" Jeje manatap tajam putranya.


"Mom, aku hanya tidak ingin kalau Gwen tertarik dengan pria lain, apalagi Gwen masih muda, cantik, cerdas dan juga jago bela diri, pasti di sekolahnya banyak yang menyukainya. Dan itu membuatku resah dan juga gelisah. Gwen itu paket komplit, Mom and Dad." Aiden memberikan alasan.


Xander dan Jeje terdiam dan mencerna alasan Aiden yang masuk akal. Bagaimana pun juga, Gwen adalah gadis yang masih belia dan masih labil, bisa saja suatu saat nanti akan lebih tertarik kepada pria lain yang lebih tampan dan muda dari Aiden.


"Bagaimana, Dad?" tanya Jeje, seraya menoleh ke arah suaminya.


Xander mengangkat kedua bahunya, lalu memijat pelipisnya, bertambah pusing.


"Ayolah Mom and Dad," rengek Aiden kepada kedua orang tuanya.


"Kamu ini sudah seperti ayam mau kawin saja! Tidak semudah yang kamu bayangkan, Ai! Gwen itu masih sekolah dan juga persyaratannya jauh lebih sulit!" Jeje semakin kesal kepada Aiden, yang terus merengek seperti anak kecil yang minta balon kepada ibunya.


"Yang aku dengar Om Nue dulu menikahi Tante Fika yang masih sekolah kelas 2 SMA?" tanya Aiden.


"Itu jaman dulu, Bambang!" kesal Jeje.


Xander menahan tawanya, ketika mendengar istrinya memanggil Aiden dengan sebutan 'Bambang' sedangkan Aiden sendiri berdecak kesal, tidak terima.


"Tapi 'kan Gwen juga sudah mempunyai KTP, Mom." Aiden masih ngeyel dan kekeh ingin di nikahkan dengan Gwen.


Jeje menghela nafas panjang, semakin kesal dengan putranya. "Daddy urus sendiri putra Daddy! Pusing aku!" Jeje beranjak menuju ruang tamu, dimana ada suara tangisan gadis kecil dari sana.


"Dad ..." Aiden menatap Daddy-nya dengan tatapan memohon.


"Iya, nanti Daddy pikirkan," jawab Xander.


Aiden besorak senang, sambil mengepalkan tinju diudara. "Terima kasih, Dad," ucap Aiden, tersenyum bahagia.


Xander mengangguk, seraya menepuk pundak putranya. "Kamu memang keturunan, Daddy."


*


*


*


Jeje memasuki kamar yang di tempati Zahra, dengan pelan, menatap gadis kecil yang menangis diatas tempat tidur.


Zahra terdiam seraya mengusap pipinya yang basah, menatap Jeje dengan mata sembabnya.


"Aunty siapa? Dan dimana aku?" tanya Zahra dengan lirih.


"Panggil Mommy saja ya. Dan kamu sedang berada di rumah Om Ansel," jawab Jeje, seraya mendudukan diri di tepian tempat tidur, lalu mengusap lembut pucuk kepala Zahra.


"Om Ansel? Dimana Om Tampan? Apakah Mommy adalah istri Om Ansel?" tanya Zahra dengan polosnya.


Jeje terkekeh pelan. "Bukan, Mommy adalah ibunya Om Tampan," jawab Jeje.


"Benarkah? Kenapa Mommy masih terlihat sangat cantik dan muda?" tanya Zahra lagi dengan mata yang membulat sempurna, terlihat lucu dan menggemaskan.


Jeje tersenyum saja menanggapinya, lalu menyibakkan selimut yang di kenakan Zahra. "Sudah siang, ayo mandi," ajak Jeje dan menggendong Zahra menuju kamar mandi.


Zahra pun tidak menolak, malah memeluk Jeje dengan erat. Mungkin gadis kecil itu merindukan kehangatan seorang ibu.


"Ouh, kamu berat sekali, Zahra," ucap Jeje lalu mendudukan Zahra diatas closet kamar mandi.


*


*


*


Xander saat ini sedang berada di ruang pribadinya bersama orang kepercayaannya. "Apakah informasinya sudah valid?" tanya Xander, sembari melihat berkas diatas meja, tepatnya di hadapannya.


"Sudah valid, Tuan dan sangat terpercaya," jawabnya.


"Baiklah, kamu boleh pergi," ucap Xander seraya mengibaskan tangannya.


"Baik, Tuan, terima kasih." Pamit undur diri, seraya menundukkan sedikit kepalanya.


Xander membaca berkas tersebut, seraya mengepalkan salah satu tangannya dengan erat. "Ternyata dia adalah Ayahnya Zahra."


Like dan Vote jangan lupa, syukur-syukur di kasih bunga sama kopi, ya bestie, alhamdulillah syekali.🤣