My Hot ART

My Hot ART
Bonus Chapter 1



Gwen berlari menuju kamar mandi saat merasakan perutnya bergejolak. Ia memuntahkan isi perutnya di wastafel.


"Hoekkk ...."


Suara Gwen yang sedang muntah, membangunkan Aiden yang masih pulas diatas tempat tidur. Ia segera meloncat dari atas tempat tidur saat mendengar istrinya muntah di kamar mandi.


"Gwen." Aiden mendekat lalu memijat tengkuk sang istri dengan lembut dan sesekali, mengusap punggung polos itu. Ya, tubuh Gwen polos tanpa sehelai benang, karena mereka tadi malam selesai bercinta tidak memakai pakainnya lagi, sedangkan Aiden hanya mengenakan boxer saja.


"Ini sangat menyiksaku!" ucap Gwen setelah selesai membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari kran wastafel.


"Sabar, Gwen. Jika aku bisa menggantikanmu, maka aku akan menggantikan posisimu," ucap Aiden, lalu menggendong istrinya dan merebahkannya di atas tempat tidur.


"Maksudnya, kamu akan hamil?" tanya Gwen dengan polos.


"Bukan, tapi aku akan menggantikan rasa mual itu, agar kamu tidak tersiksa lagi," ucap Aiden, seraya merebahkan tubuhnya lalu menarik tubuh Gwen ke dalam dekapannya. Dan kakinya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos.


"Dengan senang hati, aku rela jika kamu menggantikan rasa morning sikness ini, karena kamu juga turut andil dalam hal ini. Masa iya mau enaknya saja," jawab Gwen, bibirnya mengerucut gemas membuat Aiden tidak tahan untuk melumaatnya.


"Love you, Gwen," ucap Aiden setelah melepaskan pagutannya.


"Hem, aku tahu," jawab Gwen dengan cuek.


Eh! Kenapa menjadi terbalik begini? Bukankah dulu Aiden paling tidak suka mengumbar kata cinta? Lalu lihatlah sekarang dirinya yang menjadi pengemis cinta.


"Kenapa kamu tidak menjawab ucapan cintaku?" protes Aiden.


"Tidak tahu! Telingaku gatal saat kamu mengatakan cinta kepadaku dan juga sebal. Mungkin karena bawaan orok, anak kita cemburu jika daddy-nya mengungkapkan cinta kepada mommy-nya," jawab Gwen jujur. Ia serius mengatakannya, ia merasa sebal dan telinganya terasa gatal jika Aiden mengucapkan kata cinta kepadanya.


"Ck! Mana ada seperti itu! Anak kita baru sebesar biji kacang hijau! Kamu ingin mengarang!" Tidak terima dengan penuturan istri kecilnya ini.


"Terserah!" jawab Gwen, yang mulai memejamkan matanya lagi. Ia menelupkan wajahnya ke dada bidang suaminya. Ah, sungguh nyaman sekali rasanya.


Usia pernikahannya kini sudah 1 minggu, dan ia ingin merayakannya dengan membuat pesta kecil untuk istri kecilnya ini.


Hei! Sejak kapan dia menjadi sangat lebay? Sepertinya Aiden sudah terkena virus kebucinan yang hakiki.


*


*


*


"Cepat usap punggungku, Mas!" rengek Kirana kepada suaminya. Kehamilannya yang semakin membesar membuat Kirana merasa pegal di punggung dan kakinya.


"Aku ngantuk, Sayang," ucap Nathan sembari menguap dan mengusap punggung istrinya dengan lembut. Dia hanya tidur beberapa jam saja, karena Kirana semalaman terus mengeluh sakit punggung.


"Nanti Twins marah! Dan tidak mau di jenguk daddy-nya!" Sebuah kalimat yang di takuti oleh Nathan.


Jika istrinya sudah bilang seperti itu, dirinya akan kehilangan jatah enak-enaknya.


"Iya, ini sudah di pijat." Mata Nathan yang sudah lima watt kini terang kembali, dan memijat punggung istrinya lebih kencang. "Twins, jangan marah sama Daddy, ya." Nathan mengusap lembut perut buncit istrinya dengan penuh kasih sayang.


...****************...


Karena bonus chapter, Emak nggak bisa up setiap hari. Fokus sama yang On Going atau karya baru.


Sambil nunggu ini update lagi, yuk mampir ke karya baru emak berjudul Menggenggam rindu (Sebuah penantian).