
Sean menyeka keringat yang ada didahinya, siang itu cuaca sangat panas ditambah lagi situasi direstoran tersebut juga sangat ramai, karena sudah memasuki jam makan siang. Bahkan ia harus mondar-mandir untuk mengantarkan pesanan kemeja makan pengunjung restoran dan membersihkan meja kotor yang baru selesai di pakai pengunjung lainnya.
"Jo! Antarkan pesanan ini keruang VIP no 5," titah Supervisor tersebut kepada Sean dengan nada yang keras, sambil menunjuk nampan yang sudah berisi berbagai jenis makanan yang sudah siap untuk diantar.
Sean menghela nafasnya sejenak, ia yang baru akan menengguk air minum pun mengurungkan niatnya dan segera mengantarkan pesanan tersebut.
Sean mengetuk pintu Ruang VIP tersebut, sebelum masuk kedalam sana. Tubuhnya membeku saat melihat dua orang yang dikenalnya berada disana, namun ia mencoba untuk bersikap biasa saja dan profesional.
Begitu pula dua orang tersebut juga tidak kalah terkejutnya saat melihat Sean bekerja direstoran tersebut.
"Permisi Tuan dan Nyonya," ucap Sean dengan sopan, lalu meletakkan makanan tersebut diatas meja dengan hati-hati.
Kedua orang itu masih memperhatikan Sean dengan intens, dengan tatapan yang sulit diartikan. Yap, kedua orang tersbeut adalah Xander dan Jeje.
Mata Jeje mengembun saat melihat putranya bekerja sebagai waiter disana. Sedangkan Xander berusaha untuk bersikap cuek dan tidak peduli kepada putranya itu.
"Se..." Jeje ingin beranjak dan ingin memeluk putranya pun ditahan oleh Xander.
"Silahkan menikmati makan siangnya, Tuan dan Nyonya," ucap Sean, menundukkan setengah badannya memberi hormat, lalu segera keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang sesak.
*
*
*
Xander dan Jeje saling terdiam saat Sean sudah keluar dari ruangan tersebut. Rasa lapar yang mereka rasakan langsung sirna begitu saja.
"Apa kita tidak telalu kejam?" tanya Jeje dengan lirih, lalu menatap suaminya dengan sendu.
"Ayo makan, jangan sampai karena memikirkan anak itu kamu menjadi sakit!" tegas Xander, kemudian Jeje segera memakan makan siangnya tidak bersemangat.
Sean menghembuskan nafas panjangnya saat sudah berada diluar ruangan tersebut. Kemudian ia segera melanjutkan pekerjaannya. Ia yakin bisa melalui semua ini. Tapi setidaknya ia bisa sudah melihat ayah dan ibunya walau hanya sesaat tapi mampu mengobati rasa rindunya.
"Lo pasti bisa, Se! Lo pasti bisa!" Sean menyemangati dirinya sendiri.
*
*
*
Pukul 10 malam. Sean sudah selesai dengan pekerjaannya dan restoran juga sudah tutup, saat ini dirinya bersiap untuk pulang.
"Jo, apa malam ini aku boleh nebeng?" tanya Ibu Manager menghampiri Sean yang sudah akan memutar gas motornya.
Sean mematikan motornya, dan menatap malas wanitaa tersebut. "Maaf, Bu, kita beda arah." tolak Sean dengan halus dan kenyataannya dia berbeda arah dengan Managernya itu. Sean sudah hafal dengan wanita seperti itu, menggunakan alasan 'menebeng' untuk mendekatinya.
"Tapi—" ucapannya terhenti saat mendengar ponsel Sean berbunyi.
Sean mengambil ponselnya dari kantong celananya. Bibirnya melengkung saat melihat siapa yang menghubunginya.
Tidak membutuhkan waktu lama, ia segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo—" tubuh Sean menegang saat mendengar suara ketakutan dari seberang sana. Sean segera mematikan ponselnya dan menyalakan mesin motornya setelah itu menacap gasnya meninggakan tempat parkir itu tanpa memperdulikan Managernya yang berteriak memanggilnya.
Aduh kenapa tuh? Dan siapa yang menghubungi Sean ya?