My Hot ART

My Hot ART
Kompor meleduk!



Aku kelarin kisahnya Aiden dulu ya, baru ke Sean dan Ansel.


Pagi hari telah menyapa, Gwen sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Aiden dan Ansel menuggu gadis cantik itu dihalaman rumah.


"Kenapa kamu masih disini?" tanya Ansel dengan ketus, kepada Aiden.


"Lalu kamu sendiri untuk apa berada disini?" Aiden membalikkan pertanyaan Ansel, membuat pria itu mendengus kesal. Lalu keduanya itu saling menatap tajam dan penuh permusuhan.


Tidak berselang lama, Gwen sudah berada dihalaman rumah lalu dengan santainya, ia menaiki mobil Ansel tanpa memperdulikan Aiden yang menatapnya dengan kesal.


Ansel tersenyum meledek kearah Aiden, lalu segera memasuki mobilnya, mengantarkan Gwen menuju sekolah.


Aiden mengumpat kesal, hatinya merasa sangat sakit saat diabaikan seperti itu. Dada naik turun tidak beraturan, menandakan jika dirinya sudah sangat emosi. "Sial!" umpat Aiden, seraya menendang ban mobilnya dengan sangat keras, sehingga membuat kakinya kesakitan.


"Dasar bodoh! Kenapa kamu berada disitu! Lihat kaki ku menjadi sakit karena menendangmu!" maki Aiden kepada Ban mobil yang tidak bersalah itu. Aiden mengibaskan kakinya yang terasa sakit berulang kali, kemudian ia memasuki mobilnya dengan perasaan yang campur aduk tidak karuan.


"Oke! Aku akan menjemputnya nanti siang untuk menyatakan perasaanku," ucap Aiden, lalu melajukan mobilnya menuju Warjah Grub.


Aiden sudah meyakinkan perasaannya sendiri, jika dirinya sudah mencintai dan menyayangi Gwen sepenuh hati. Gadis bau kencur itu kini sudah memenuhi hatinya dan telah berhasil menggeser posisi Kirana dari sana.


*


*


*


"Pagi, Bos," sapa Irene tersenyum manis. Saat akan memasuki lift.


"Cie, mukanya kusut banget sih," ledek Irene yang berdiri disamping Aiden, seraya mendongak menatap Aiden yang sangat tinggi itu.


"Pagi-pagi jangan kepo! Urus saja tinggi badan kamu! Dasar pendek!" balas Aiden menatap tajam Irene dari pantulan dinding lift yang ada didepannya.


"Ya, Tuan Tinggi!" jawab Irene berengut kesal. Seharusnya dia tidak boleh marah, karena yang diucapkan Aiden ada benarnya. Dirinya hanya setinggi perut Aiden. Sangat pendek sekali bukan?😆


"Dasar menyebalkan!" batin Irene kesal. Dan ada ide melintas di benaknya untuk mengerjai Aiden.


"Apakah anda tahu, Pak. Kemarin saya dan Gwen dobel date bareng pasangan masing-masing. Saya tidak menyangka jika Tuan Ansel sangat romantis sekali kepada Gwen. Membuatku iri sekali, tapi sayangnya Sean tidak bisa bersikap romantis," ucap Irene tersenyum bahagia lalu cemberut kesal, seolah-olah dirinya sebal dengan Sean.


Aiden diam saja tanpa berkomentar, tapi percayalah jika telinga pria itu berdengung dan terasa sangat panas. Ia mengeraskan rahangnya dengan kuat.


Irene mendongak menatap Aiden yang terlihat kesal. "Oke, anda bisa bersikap tenang seperti itu tapi sayangnya wajah anda tidak bisa membohongi, hi hi hi," batin Irene tertawa cekikikan didalam hati. Puas rasanya membuat Aiden panas hati dipagi hari yang indah dan sejuk itu.


"Dan satu lagi. Ansel beruntung sekali ya, setelah lepas dari Yuyu kangkang kini berhasil mendapatkan hati Gwen yang katanya primadona disekolah. Uh, ya ampun, sepertinya pasangan itu akan menjadi pasangan yang paling fenomenal ditahun ini. Mereka uwuuu beud!" lanjut Irene dengan bahasa gaulnya dan dibuat selebay mungkin.😆


"Panas 'kan tuh hati? kebakar 'kan?" batin Irene semakin puas.


Aiden semakin tidak tahan berada disatu lift bersama Irene. "Kenapa liftnya berjalan dengan lambat sih!" batin Aiden kesal, ingin sekali dia melakban bibir Irene agar berhenti bicara, tapi mana mugkin dia berani melakukannya. Karena dia akan di hajar oleh Sean jika hal itu terjadi.


Sumpah Irene bikin ngakak banget🤣🤣🤣


Kasih dukungannya dong, like dan votenya.❤