
Mendengar suara teriakan atasannya, Irene segela berlari menuju ruangan Aiden.
"Pak, anda berdarah?!" Irene terlihat panik saat memasuki ruangan bosnya itu dan ia melihat Aiden sedang berdiri seraya mendongakkan kepala sambil memegangi tisu yang penuh darah.
"Ya, hidungku berdarah," ucap Aiden, masih mendongakkan kepala.
Irene berjalan mendekat dan menuntun Aiden agar duduk disofa.
Aiden menyenderkan punggungnya dan juga merebahkan kepalanya disenderan sofa, dengan kepala menghadapan keatas seraya memejamkan matanya.
Sementara itu Irene mengambil tisu yang ada diatas meja kerja Aiden.
"Biar saya bantu bersihkan," ucap Irene merasa kasihan dengan bos-nya yang terlihat kesakitan.
"Ya, terima kasih," balas Aiden, masih memejamkan mata dan membiarkan Irene membersihkan sisa darah yang ada disekitar hidungnya.
"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Irene, menatap lubang Aiden yang terlihat kembang kempis.🤣
"Gadis sialan itu pelakunya," jawab Aiden, enggan menyebut nama Gwen. Karena mengingat namanya saja, sudah membuat emosinya naik ke ubun-ubun.
"Gadis siapa? Gwen?" tanya Irene lagi, tangannya sibuk membersihkan sekitar hidung Aiden dengan tisu.
"Jangan menyebut namanya!" tegas Aiden.
Irene tertawa pelan saat mendengar ucapan Aiden. "Pak, saya heran dengan anda dan Gwen yang tidak pernah akur. Sebenarnya kalian ini ada masalah apa?" tanya Irene masih menyisakan tawanya.
Aiden terdiam dan otak cerdasnya berfikir sejenak. Membenarkan perkataan Irene jika dirinya dan Gwen selalu bertengkar karena masalah yang tidak jelas.
"Entah aku juga tidak tahu. Asal bertemu dengannya selalu ingin marah dan emosi. Mungkin kami berdua saling membenci satu sama lain, maka dari itu kami tidak pernah akur," jawab Aiden, menegakkan punggungnya, karena Irene sudah selesai membersihkan darah disekitar hidungnya.
"Hati-hati because hate and love are thin," ucap Irene, seraya beranjak dari duduknya.
"Bullshit!" ucap Aiden seraya tersenyum miring menanggapi perkataan Irene.
"Tidak percaya? Maka coba raba hati anda yang paling dalam apakah ada nama Gwen disana?" jelas Irene, lalu segera keluar dari ruangan bosnya itu.
Aiden menggeleng pelan, seraya beranjak dari duduknya dan kembali ke meja kerjaanya. Aiden melepaskan Jas-nya yang terkena darah dan meletakkan disandaran kursinya.
*
*
*
"Irene, aku pulang dulu. Apa kamu mau ikut nebeng kerumah besar?" tawar Aiden, saat memasuki ruangan Irene. Karena ia tahu jika Irene pun turut diundang oleh Mommy Jeje datang kerumah.
"Saya naik taksi saja, Pak." jawab Irene, takut menimbulkan kontroversi.
Aiden menganggukkan kepala, tidak memaksa. Kemudian beranjak dari ruangan tersebut dan segera keluar dari perusahaannya.
Saat sudah didalam mobil, Aiden memijat keningnya yang masih terasa sakit setelah merasa lebh baik, ia baru menjalankan mobilnya.
Setengah jam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarainya sudah sampai dihalaman rumah. Ia mengernyit heran saat banyak mobil yang terparkir rapi disana. Tidak ingin banyak berfikir, ia keluar dari dalam mobilnya dan segera melangkah masuk kedalam rumah besar tersebut.
"Ada acara apa ini?" tanya Aiden saat keluarganya besarnya berkumpul disana. Bukan hanya itu saja, ada Kakaknya Raya beserta suaminya dan juga kedua anaknya. Dan ada Emanuel dan Fika, juga dengan kedua anaknya yaitu Gwen dan Arjuna.
"Om Aiden!!" seru Crystal saat melihat pria itu berjalan menuju ruang tamu. Ia segera menyerahkan bayinya kepada Safira dan berhambur ingin memeluk pria tersebut.
"Jangan memelukku bodoh!" Aiden mendorong kepala Crystal saat akan memeluknya, karena ia tahu jika suami keponakannya itu sangat posesif dan ia tidak ingin menimbulkan keributan.
"Hei, jangan khawatir. Aaron Ryan sedang bertugas keluar kota jadi dia tidak hadir disini untuk merayakan hari bahagia Nathan dan Kirana yang sebentar lagi akan menjadi Orang tua," jawab Crystal lalu memeluk Om tampannya itu dengan erat.
Deg
Jantung Aiden berdetak dengan cepat saat mendengar perkataan Crystal.
"Apa?! Maksudmu Kirana hamil?!"
Crystal melepaskan pelukannya. "Iya, kenapa kamu terlihat terkejut seperti itu?" tanya Crystal.
"Oh, tentu saja aku terkejut karena mereka baru menikah 2 minggu. Aku bahagia ... Ya, aku ikut bahagia," jawab Aiden tersenyum paksa dan berusaha bersikap biasa saja, untuk menutupi rasa sakit hatinya.
Bang Aiden, sini peluk Emak aja. 🤗😘
Jangan lupa kasih vote dan like. saweran bunganya dikencengin dong.😘