
"Katakan kepada Mama yang sejujurnya! Apakah kamu sudah melakukannya dengan Aiden?" tanya Fika dengan wajah yang cemas, dan jantung berdetak tidak karuan, berharap jika putrinya berkata 'tidak'.
Deg
Jantung Gwen terasa akan lompat dari tempatnya, ketika mendapatkan pertanyaan itu. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu dan tenggorokannya tercekat.
"Katakan kepada Mama! Jangan diam saja!!" bentak Fika, emosinya tidak tertahan lagi saat melihat putrinya terdiam membatu.
Air mata Gwen meluncur begitu saja membasahi pipi mulusnya. "Maaf, Ma," lirih Gwen dengan penuh rasa bersalah, karena sudah mengecewakan orang tuanya.
Tubuh Fika langsung lunglai tidak bertenaga seraya menatap nanar putrinya. Rasa kecewa, sedih dan marah bercampur menjadi satu. Dadanya bagai di hantam batu besar. Putrinya yang selama ini di jaga sudah kehilangan kehormatannya.
"Mama tidak menyangka jika kamu bisa melakukan hal sehina ini!" Fika berkata dengan lirih, seraya memalingkan wajahnya.
"Ma ..." Gwen menangis sesegukan, lalu bersimpuh di bawah kaki Ibunya. Memohon pengampunan, dengan sangat tulus dan menyesali perbuatannya. Akan tetapi, penyesalannya sudah tidak berarti karena semua yang hilang sudah tidak bisa di kembalikan lagi.
Fika menepis kasar tangan putrinya yang akan menggenggam tangannya. Merasa enggan menatap putrinya, ia hanya menatap lurus kedepan dengan pandangan mata yang kosong.
Salah satu pelayan yang ada di rumah tersebut, melihat kejadian itu pun segera menghubungi Arjuna dan Emanuel.
"Ma—"
"Diam kamu!!" sentak Fika, lalu mendorong tubuh Gwen hingga terjengkang kebelakang. "Dengan mudahnya kamu meminta maaf! Apakah saat kamu melakukannya mengingat Mama, Papi dan Abang kamu? Tidak 'kan? Mama benar-benar kecewa sama kamu!" sentak Fika dengan keras, membuat Gwen semakin menangis sesegukan.
*
*
*
Arjuna dan Nue memasuki rumah dengan tergesa, wajah mereka tampak cemas saat mendapat kabar dari salah satu pelayan di rumah.
"Bu, dimana Mama dan Gwen?" tanya Arjuna kepada Pelayan yang sedang membereskan meja makan.
"Di kamarnya masing-masing, Bang."
"Mama?" Arjuna dan Nue mendekati Fika yang menangis sesegukan diatas tepian tempat tidur.
"Ada apa, Sayang?" Nue memeluk istrinya yang mulai menangis histeris.
Fika menunjukkan tespeck yang ada di atas nakas. Ya, sebelum anak dan suaminya datang, Fika memerintahkan salah satu pelayan untuk membeli alat tes kehamilan itu.
Mata Nue dan Arjuna pada benda pipih yang tergeletak diatas nakas itu, lalu Nue mengambilnya dan mengamatinya. Bibirnya melengkung saat melihat ada garis dua disana.
"Kamu hamil lagi? Ini rejeki, kenapa harus menangis?" ucap Nue berbinar bahagia.
"Itu bukan milikku, Pi," jawab Fika, seraya mengurai pelukannya dan menatap suaminya dengan penuh kesedihan.
"Lalu milik siapa kalau bukan kamu," jawab Nue, masih tersenyum bahagia.
"Itu milik Gwen," jawab Fika, lalu menenggelamkan wajahny di dada bidang suaminya, menumpahkan tangisnya disana.
Senyum di bibir Nue mengendur, wajahnya yang kini berbinar, menjadi syok.
Arjuna mengambil tespeck yang ada di tangan ayahnya, lalu menatap benda pipi itu sejenak. Sesaat kemudian matanya memerah dan mengeraskan rahangnya dengan kuat, hingga giginya bergemelutuk. Ia beranjak menuju kamar Gwen.
BRAK!
Arjuna menendang pintu kamar Gwen sampai jebol, membuat Gwen yang sedang menangis diatas tempat tidur terkejut.
"Abang," lirih Gwen, tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan, saat melihat aura mengerikan dari Arjuna.
"Bangun kamu!" bentak Arjuna, seraya berjalan mendekati Gwen dan langsung menyeret Gwen keluar dari kamar.
"Abang ampun!" Gwen meringis kesakitan saat tubuhnya di seret begitu saja oleh Arjuna.
Nah 'kan, macannya ngamuk.
Jangan lupa likenya ya❤