My Hot ART

My Hot ART
Semakin panas



Aiden keluar dari dalam lift dengan perasaan kesal. "Jika bukan karena kamu calon kakak iparku, habis kau!" umpat Aiden, seraya mengayunkan kakinya menuju ruangannya.


"Cemburu bilang, Bos! Jangan ditahan, nanti jadi penyakit hati," jawab Irene, lalu segera berlari menuju rungannya sambil tergelak keras.


"Irene!! Awas kau ya!" teriak Aiden menggema, hingga membuat para karyawan disana menoleh namun hanya sesaat, karena Bos-nya yang arogan itu menatap mereka dengn tajam.


"Huh! Aku rasa bocah kerdil itu sudah ketularan virus gesreknya Sean," gerutu Aiden, saat sudah berada diruangannya kemudian ia melepaskan Jas-nya dan menyampirkan di kursi kerjanya. Dan mulai memeriksa dokumen yang menumpuk di atas mejanya. "Kalau begini terus bisa gila aku!" umpat Aiden, seraya mengacak rambutnya frustasi.


Ia sangat pusing dan lelah menggantikan posisi Sean yang menjadi seorang CEO tapi apa boleh buat lagi, ia sudah meminta Daddy-nya untuk mencabut hukuman Sean, tapi Xander tidak mengabulkannya, kecuali jika Sean sendiri yang meminta ingin kembali ke WG.


"Anda kenapa, Pak?" tanya Irene yang sudah berada didekat meja Aiden, membuat Bos-nya itu berjingkat kaget.


"Kamu ini sudah seperti jailangkung ya? Datang tidak di jemput pulangnya nyasar!" kesal Aiden, menirukan perkataan Papi Gwen.


"Pulangnya tidak diantar," ralat Irene, terkekeh geli lalu meletakkan setumpuk dokumen ke atas meja.


Aiden mendengus kesal saat melihat dokumen yang bersampulkan Map dengan berbagai warna.


"Tenang saja, ini sudah saya periksa tinggal ditanda tangani oleh Pak Aiden," ucap Irene seolah mengerti apa yang dirasakan Bos-nya itu.


"Dasar pendek! Walaupun kamu sudah memeriksanya, tapi aku juga harus memeriksanya ulang, karena aku tidak mau membubuhi tanda tangan ke dokumen yang belum aku periksa sendiri," jawab Aiden, kesal sekali dengan Irene pagi itu.


"Nah, itu Bapak pinter jadi selamat menikmati, ya," ucap Irene, lalu berjalan keluar dari ruangannya. Namun langkahnya terhenti saat Aiden memanggilnya.


"Irene!" seru Aiden.


"Ada apa?"


"Boleh minta tolong nggak, bujuk Sean untuk kembali ke WG?" pinta Aiden dengan datar.


"Apa nggak salah?" Irene bertanya sambil menatap Aiden dengan serius. Aiden mengangguk mantap sebagai jawaban.


Irene terdiam sejenak, seraya memikirkan permintaan Aiden dengan matanga. Lagi pula, ia sangat kasihan dengan Sean yang setiap hari harus bekerja Ekstra.


"Baiklah. Aku akan mencoba membujuknya," jawab Irene. Dan disambut ucapan terima kasih dari Aiden. "Cihh! Jika ada maunya saja bilang terima kasih!" gerutu Irene, saat keluar dari ruangan tersebut.


*


*


*


Waktu berajalan cepat dan tidak terasa sudah jam 12 siang. Aiden menyambar Jas-nya yang ia sampirkan ke kursi kerjanya. Seperti yang dikatakannya tadi pagi, jika dirinya akan menjemput Gwen sekaligus menyantakan cintanya.


Aiden mengendarai mobilnya menuju sekolahan Gwen, dengan jantung yang berdetak tidak karuan. Aiden menarik nafas panjang dan menghembuskannya berulang kali sampai ia merasa tenang. "Gila, gugup banget sih," gumam Aiden, saat ia sudah memarkirkan mobilnya didekat gerbang sekolah tersebut. Aiden keluar dari dalam mobil, menatap para murid yang sudah berhamburan keluar gedung sekolahan tersebut, karena jam pelajaran sudah usai.


Aiden mencari keberadaan Gwen yang tidak kunjung kelihatan. Cukup lama ia menunggu sampai sekolahan itu tampak sepi. "Apakah dia sudah pulang?" gumam Aiden.


Tidak berselang lama mata Aiden menggelap dan dadanya semakin terasa panas, saat melihat Gwen keluar dari gedung sekolah tersebut berjalan beriringan dengan seorang pria, yang ia yakini jika pria tersebut adalah salah satu guru disekolahan itu.