
Oma Airin dan Jeje beranjak dari duduknya saat melihat Sean dan Irene keluar dari ruangan Xander.
"Bagaimana? Apa Daddy menyetujui hubungan kalian?" tanya Jeje, sangat antusias.
Sean menganggukan kepala dengan lesu, sebagai jawaban.
"Lalu kenapa kamu tidak bersemangat seperti ini?" tanya Oma Airin saat melihat Sean lesu.
"Masa hukumannya masih berlanjut, Oma dan Nyonya." Irene yang menjawab pertanyaan Oma Airin sambil menahan tawanya.
"Oh, ya ampun. Ha ha ha haa." Oma Airin dan Jeje tertawa bersamaan.
Sean mendengus kesal lalu menarik Irene kluar dari rumah tersebut.
"Hei!! Anak nakal kamu mau membawa Irene kemana?" seru Oma Airin.
"Mau kawin lari!" jawab Sean asal dan sedikit berteriak karena saat ini dirinya sudah berada dihalaman rumah.
"Sean!!" teriak Jeje sangat marah saat mendengar perkataan putranya yang badel itu.
"Sabar ... Sabar ... Anak bangor itu cuma bercanda, jangan marah nanti wajahmu berkeriput." Oma Airin mengelus punggung Jeje berulang kali agar tetap tenang.
"Huh!" Jeje menghembuskan nafasnya kasar dan ia melakukannya berulang kali hingga dirinya tenang.
*
*
Sementara itu ditempat yang sama namun berbeda lokasi. Nathan sedang mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Nathan, sambil menyeka keringat yang ada dikening Kirana dengan penuh kelembutan.
"Ya, Mas," jawab Kirana, sembari memejamkan matanya, lalu membasuh wajahnya dengan air dari wastafel tersebut. Namun beberapa detik kemudian, ia merasa mual lagi.
"Hoek ... ."
"Sayang, kenapa sejak selesai makan malam, kamu terus muntah? Apa kamu keracunan?" tanya Nathan sangat cemas, sembari memijat tengkuk istrinya.
"Kalau aku keracunan, kamu juga pasti merasakan mual dan muntah, Mas. Mungkin aku hanya masuk angin," jawab Kirana, lalu menegakkan badannya, dengan sigap Nathan menggendong istrinya ala bridal style menuju tempat tidur mereka.
"Tidak perlu, Mas. Aku tidak membutuhkan Dokter," rengek Kirana, lalu menepuk sisi sebelahnya yang kosong.
"Bobok sini dan peluk aku," ucap Kirana, sembari memasang wajah sedih, namun malah nampak lucu dimata Nathan.
Nathan terkekeh geli saat melihat ekspresi wajah istrinya yang menggemaskan. "Baiklah, sayang," ucap Nathan, seraya melepaskan kaosnya dan melemparkannya kedalam keranjang baju kotor, setelah itu ia naik keatas tempat tidur lalu memeluk istrinya dengan erat.
"I Love You sayang," ucap Nathan, lalu mengecup pipi Kirana bertubi-tubi.
"Love You, too," jawab Kirana, sambil terkekeh geli karena suaminya terus menghujami wajahnya dengan kecupan hangat.
"Wah, sudah pintar sekarang, ya?" tanya Nathan, sambil menoel dagu istrinya.
"Ya, dong. Kan, rajin belajar," jawab Kirana tersenyum, lalu menelusupkan wajahnya didada bidang suaminya yang kekar itu.
Ya, setelah menjadi menantu keluarga Clark, Kirana menjalani les bahasa inggris dan juga belajar tentang bisnis.
Nathan mengusap pipi mulus istrinya dengan sangat lembut lalu mengecupnya dengan penuh cinta.
"Dulu kamu dingin banget sama aku, tapi sekarang kok malah sebaliknya?" tanya Nathan, ia menjadi mengingat saat pertama kali bertemu dengan Kirana.
"Bukankah kamu juga sama?" Kirana membalik pertanyaan suaminya, membuat Nathan terkekeh pelan.
"Bahkan kamu sangat dingin seperti batu es," lanjut Kirana, sambil mencubit roti sobek suaminya dengan gemas, namun Nathan tidak merasa sakit sama sekali, justru pria itu merasa kegelian.
"Cubitanmu itu membangunkan sesuatu yang lagi bobok ganteng," ucap Nathan, sambil menuntun tangan istrinya menuju bagian bawah sana yang sudah menonjol keras.
"Ih! Mesum!" kesal Kirana, lalu menarik tangannya kembali.
Nathan tergelak keras, lalu semakin mengeratkan pelukkanya. Jika tidak mengingat istrinya sedang sakit, mungkin ia akan meminta jatah jungkat-jungkit saat itu juga.
Bonus Visual Bang Othan
Kirana