My Hot ART

My Hot ART
Berikan cucu yang cantik dan tampan



Di Hotel Emanuel seluruh tamu udangan sudah berdatangan. Dari berbagai relasi perusahaan Holitron Grup dan Warjah Grup. Resepsi pernikahan itu sangat megah dan mewah, membuat siapa pun berdecak kagum saat melihatnya.


Ada beberapa artis ibu kota yang meramaikan resepsi pernikahan tersebut. Bahkan kedua orang tua Kirana pun turut hadir disana.


"Ediyannn tenan, meriah banget yo, Pak," ucap Ibu, sambil mengunyah somai dan memperhatikan sekitarnya.


"Ho'oh, besanku emang jos gandos kotos-kotos," jawab Bapak seraya mengusap kumisnya yang tebal itu.


"Ibu dan Bapak dari tadi di cari malah ngumpet di balik gerobak somai," ucap Nathan, ketika melihat kedua mertuanya asik makan somai bandung.


"He he he, laper, Le," jawab Ibu sembari memperlihatkan piring di tangannya.


"Kita foto bersama, Bu, Pak, diatas pelaminan bersama keluarga besar," ajak Nathan.


"Ndak usah, Ibu dan Bapak malu," tolak Ibu, merasa sungkan jika bersanding dengan keluarga Clark yang sangat terpandang dan di segani itu.


"Kenapa malu? Sudah di tunggu sama Daddy dan Mommy," ajak Nathan, lalu mengambil piring yang di pegang Ibu mertuanya dan meletakkannya asal. "Kalian juga bagian keluarga kami, jangan sungkan seperti itu." Nathan menarik tangan Ibu mertuanya dengan lembut.


"Yo wes, manut," jawab Bapak, seraya beranjak dari duduknya.


Acara foto bersama telah selesai. Sean dan Irene terlihat lelah karena seharian itu berdiri dan menyalami tamu undangan yang sangat banyak.


"Berhubung acaranya sudah akan selesai, kalian istirahatlah. Biar sisanya disini Mommy dan Daddy yang mengurus," ucap Jeje, sembari memberikan Card Door kepada Sean.


"Terima kasih, Mommy yang paling cantik," jawab Sean, sembari menerima Card Door itu.


"Mommy tidak butuh terima kasih, tapi Mommy ingin cucu yang yang cantik dan tampan," ucap Jeje sambil mengerling kearah putranya.


Sedangkan Irene sudah menelan ludahnya dengan kasar, dan tubuhnya menjadi menegang.


"Rileks ya, Ren, biar tidak sakit." Jeje sengaja menggoda Irene yang terlihat tegang.


"Hah? Apanya yang sakit Mom?" tanya Irene, menatap ibu mertuanya dengan polos.


"Aduh, Sean! Kamu yang brengsek beruntung sekali mendapatkan gadis polos seperti Irene. Kerahkan kemampuanmu, Nak! Dan semangat!" Ucapan absurd Jeje membuat pengantin baru itu terbengong.


"Sepertinya Mommy sedang dalam mode tidak waras," jawab Sean asal, lalu menarik tangan Irene keluar dari Ballroom hotel tersebut.


Tentu saja aksinya yang menarik Irene dari resepsi pernikahan yang masih berlangsung itu menjadi perhatian tamu undangan dan juga tiga saudaranya yang terus menggodanya.


"Duh, pengantin baru. Acara belum kelar woy!" seru Nathan, lalu tergelak keras.


"Sudah di ujung tanduk kayaknya," lanjut Aiden.


"Masih sore, Sean. Mau ngamar saja." Kali ini Ansel yang menyahut. Menggoda pengantin baru menjadi kesenangan tersendiri bagi mereka.


Wajah Irene sudah semerah tomat karena malu, sedangkan Sean terlihat tampak cuek saja. "Jangan dengarkan ucapan gila mereka," ucap Sean, sembari mengelus pundak istrinya yang terbuka itu.


*


*


*


Saat ini pengantin baru itu sudah berada didalam kamar hotel yang dihias seperti kamar pengantin baru pada umumnya.


Irene menatap Sean yang sedang melepaskan tuxedo yang melekat ditubuh kekar itu. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Sean.


"Ah, tidak," jawab Irene dengan gugup, lalu berjalan menuju meja rias untuk membersihkan riasan wajahnya.


Sean terkekeh pelan saat melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.


"Jadi tidak sabar ingin menerkamnya," gumam Sean, dan masih didengar oleh Irene.


"Tamatlah keperawananku malam ini," batin Irene, seraya menggigit bibir bawahnya.


Nungguin apa sih?🤣🤣


Sabar ya sabar, unboxingnya nungguin hilal dulu. Otakku mendadak ngelag ini.🤣