
Pagi hari telah menyapa, Gwen merenggangkan otot tubuhnya seraya mengerjabkan kedua matanya. Tidurnya malam ini terasa sangat nyenyak, berbeda dari biasanya. Ia menoleh kesamping kanan dan kiri, tidak ada siapa pun disampingnya, tapi Tadi malam merasa mendapat pelukan dari seseorang.
"Apa aku hanya bermimpi," gumam Gwen, seraya beranjak menuju kamar mandi untuk segera membersihkan diri.
Setengah jam kemudian, ia sudah siap berangkat kesekolah. Seperti biasa, Gwen selalu terlihat cantik dan menawan. Berjalan dengan santai menuju ruang makan, untuk sarapan bersama keluarga Clark.
"Morning semuanya." Gwen menyapa seluruh anggota keluarga yang sudah berkumpul mengelilingi meja makan. Ia pun mendudukan disamping ibunya.
Sapaan Gwen disambut hangat oleh semua orang yang berada diruang makan itu, kecuali Aiden yang terlihat cuek.
Sarapan dimulai, mereka semua menikmati makanan mereka dengan hikmat dan tenang. Sampai acara sarapan selesai. Jeje berdehem keras, membuat semua orang yang ada disana menoleh kearahnya. Semua orang disana yang awalnya nampak tenang, kini terlihat gusar saat melihat amarah diwajah Jeje yang cantik itu.
Jeje menatap Ansel dengan dalam, sedangkan yang ditatap menundukkan kepala, tanpa berani menatap ibunya yang terlihat marah kepadanya.
"Mommy bersyukur jika wanita itu sudah pergi dari rumah ini. Apa kamu tahu, Ans. Kesan pertama saja sudah buruk sekali! Bahkan dia berbicara yang tidak-tidak tentang Kirana. Mommy tidak setuju jika kamu bersanding dengannya! Pokoknya putuskan hubunganmu sama dia. Lebih baik mendapat menantu janda tapi terhormat dari pada gadis tapi tidak ada sopan santunnya!" Jeje berkata panjang kali lebar, terdengar tegas dan lugas.
Ansel sangat terkejut saat mendengar kalimat terakhir ibunya. Namun, ia tidak berani protes atau membantah.
Dan situasi yang sempat mengang tadi menjadi mencair begitu saja, saat mendengar kalimat terakhir dari Jeje.
"Janda lebih menggoda, Ans," ledek Fika, membuat Ansel mengercutkan bibirnya kesal.
"Sttt!" Nue menyenggol kaki istrinya. Fika yang terkikik geli langsung membekap mulutnya. Karena situasi tidak mendukung jika untuk bercanda.
Xander menghela nafas sejenak, sebelum membuka suaranya. "Seperti yang dikatakan Mommy mu tadi, lebih baik mendapat menantu janda tapi terhormat dari pada gadis tapi tidak mengerti akan sopan santun. Di keluarga Clark sejak dulu selalu menanamkan kebaikan dan menomer satukan kesopanan, menghargai antara satu sama lain. Sepertinya nasib percintaanmu tidak seberuntung dengan para saudaramu, Ans. Iya 'kan Aiden?" Xander meminta persetujuan dari putra ketiganya.
Aiden mengernyit heran seraya menunjuk dirinya sendiri dengan raut wajah yang bingung. "Aku? Kenapa Daddy meminta persetujuan dariku? Bukankah aku ini jomblo," ucap Aiden, tidak mengerti maksud dari perkataan Daddy-nya.
"Benarkah jomblo?" Xander bertanya seolah tidak percaya dengan ucapan putranya.
Aiden mengangguk sebagai jawaban, dan sorot matanya menatap tajam Ansel yang enggan menatapnya.
"Pasti bocah tengik itu sudah mengadu kepada Daddy jika aku berciuman dengan Dia!" batin Aiden merasa kesal.
"Kalau begitu Daddy tunggu kabar baiknya. Atau menunggu dia lulus sekolah?" Xander berkata, seraya beranjak dari duduknya karen acara sarapan sudah selesai.
"Apa?" Aiden menjadi cengok ketika mendengar perkataan Daddynya. Kemudian ia menatap Gwen yang terlihat biasa saja.
"Jangan syok begitu Aiden, tutup mulutmu yang menganga lebar itu, nanti ada lalat masuk," ledek Fika, sembari terkekeh geli.
Seketika itu Aiden langsung tersadar dan dengan cepat ia beranjak dari duduknya, diikuti oleh Ansel dan Gwen. Sedangkan Nathan masih berada di dalam kamar menemani istrinya yang mengalami morning sicknees.
Hai bestie .... Sawerannya jangan lupa ya💃💃💃