
"Sudah marahnya? Sekarang dengarkan penjelasanku," ucap Aiden seraya, menatap wajah cantik Gwen dengam lembut.
"Penjelasan apa lagi?!" Gwen melepaskan pelukan itu dengan perasaan kesal, namun Aiden menahan pergerakannya. "Sebenarnya apa mau mu?!"
Gwen tidak habis pikir dengan Aiden yang suka bertindak semaunya sendiri.
"Diam dan dengarkan aku!" tegas Aiden.
Gwen hanya berdehem malas menanggapinya, dan memalingkan wajahnya kesal.
"Oke, aku minta maaf jika selama ini menyakitimu, Gwen. Aku tidak sengaja melakukannya." Aiden berkata sembari membelai pipi tirus Gwen dengan penuh kelembutan.
Gwen masih terdiam menunggu penjelasan Aiden selanjutnya.
"Aku tidak peka dengan perasaanku sendiri. Hingga aku tersadar saat kamu berjalan bedua dengan Ansel," lanjut Aiden.
"Lalu?"
"Kamu pasti tahu sendiri selanjutnya 'kan? Aku cemburu dan .... " Aiden menjeda ucapannya sejenak, sehingga membuat Gwen sangat penasaran.
"Dan apa?"
"Dan tidak ada apa-apa," jawab Aiden, langsung mendapat pukulan dari Gwen.
"Dasar menyebalkan!!" Maki Gwen dengan penuh emosi, lalu memberontak dalam pelukan itu.
"Hei, apakah penting mendengar kelanjutan ucapanku? Sekarang aku tanya kepadamu, apa yang kamu pikirkan tentang diriku?" tanya Aiden, lalu merengkuh tubuh Gwen dan merebahkannya di atas tempat tidur, kemudian ia mengungkung gadis bau kencur itu.
Gwen menatap tajam pria yang sedang mengungkungnya itu. "Yang aku pikirkan tentangmu adalah aku membencimu dan sangat membencimu!! Puas!" jawab Gwen dengan emosi yang menggebu.
"Jadi kamu membenciku? Ah, baiklah, aku pikir kamu mencintaiku. Padahal aku baru saja akan menyatakan perasaanku," jawab Aiden, lalu menggulingkan tubuhnya kesamping tubuh Gwen.
"Apa dia bilang?" batin Gwen, menggeram kesal karena Aiden sudah berhasil memporak-porandakan hatinya.
"Terserah!" kesal Gwen, lalu menendang Aiden sehingga pria itu jatuh terjengkang diatas lantai marmer yang dingin itu.
"Karena aku membencimu dasar tukang gengsi dan tidak peka! Keluar sana dari kamarku!" usir Gwen lagi.
"Tidak mau! Enak saja, kau mengusir aku dari sini!" tolak Aiden, naik keatas tempat tidur dan memeluk Gwen lagi.
"Lepas!!!"
"Tidak mau! Aku sudah mengikatmu dan aku sudah melamarmu kepada Papi Nue," jawab Aiden, semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa?!" Gwen terkejut saat mendengar ucapan Aiden. Gwen yang tadinya memberontak didalam pelukan itu, kini menegang kaku. "Aku tidak salah dengar?" Gwen mengedipkan matanya berulang kali seraya menatap Aiden yang berada di atas tubuhnya itu.
"Menurutmu?" Aiden tersenyum simpul sembari mengangkat salah satu alisnya.
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Gwen, masih tidak percaya.
"Saat kamu mengungkapkan perasaanmu didepan Sekolah, aku langsung pergi menemui Papi Nue," jawab Aiden.
"Jadi itu alasanmu tidak mengejarku?" tanya Gwen lalu membekap mulutnya, karena keceplosan.
"Pengen dikejar banget ya?" tanya Aiden dengan nada meledek, membuat Gwen mendengus kesal.
"Nggak!!"
Aiden terkekeh, lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir ranum yang sudah membuatnya candu itu.
"Aiden!!" kesal Gwen, seraya mendorong wajah Aiden, agar menjauh dari wajahnya.
"Mulai hari kemarin, kamu sudah resmi menjadi tunanganku, dan aku akan menikahimu setelah kamu lulus sekolah," ucap Aiden dengan lancar, dan tidak ada romantisnya sama sekali. Membuat Gwen menggelengkan kepala seraya berdecak kesal.
"Kamu melamarku kepada Papi?" tanya Gwen, dan Aiden menganggukkan kepalanya pelan. "Dan, Papi menerima kamu?" Lagi-lagi Aiden menganggukkan kepalanya, seraya menatap wajah cantik yang ada di kungkungannya .
Gwen masih menggelengkan kepalanya, bertanda jika dirinya tidak percaya.