
Jika Sean dan Irene sudah berbaikan dan saat ini sudah bermesraan, berbeda dengan Melisa yang kesal dengan suaminya.
Pasalnya, Melisa melihat ada pesan masuk dari seorang wanita di ponsel suaminya. Sontak saja Melisa langsung meradang dan mengamuk kepada Ansel.
"Mel, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu kira." Ansel rasanya sudah sangat frustrasi menghadapi istrinya yang sedang emosi.
"Jelaskan apa lagi?! Mau aku bacakan pesan wanita itu?!" sentak Melisa lalu menatap layar posel suaminya yang ada di genggamannya, kemudian ia membuka aplikasi pesan berwarna hijau di ponsel tersebut.
"Hai, ganteng. Besok jam sembilan aku tunggu di Hotel X, ya. Jangan sampai telat😘."
Melisa membacakan isi pesan tersebut dengan nafas yang memburu dan wajah yang memerah menahan amarah yang sudah ingin meledak keluar.
"Mau apa di hotel? Hah?" Melisa menatap tajam suaminya itu.
"Dengarkan aku, Sayang. Itu hanya klien aku, dan memang dia genit," jelas Ansel kepada istrinya.
"Hanya klien kamu bilang? Dan kenapa klien kamu ini tidak menghubungi sekretaris kamu?!" cecar Melisa dengan menggebu-nggebu.
"Seharusnya kamu juga tegas dan menolak jika ada klien yang genit seperti ini. Ingat kamu itu sudah punya istri! Apakah kamu tidak memikirkan perasaan aku?!" Rasanya Melisa ingin menangis dan berteriak dengan keras. Melihat chat mesra di ponsel suaminya membuatnya darahnya mendidih dan naik kepermukaan.
Ansel tertunduk lesu, diakuinya dirinya memang salah karena menerima klien tersebut yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya.
"Ayo, ikut aku." Sebuah ide melintas di benak Ansel, agar istrinya itu percaya dengannya. Ansel menarik istrinya keluar dari kamar menuju kamar Nathan.
Ansel mengetuk pintu kamar tersebut dengan sedikit keras, dan tidak berselang lama Kirana membukakan pintu kamar tersebut.
"Ada apa?" tanya Kirana kepada pasangan suami istri berwajah kusut itu.
"Aku di sini." Nathan yang menjawab dari dalam kamar, lalu menghampiri istrinya yang berdiri di ambang pintu.
"Othan! Bantu aku, kamu harus menjelaskan tentang Bu Mega kepada Melisa," pinta Ansel dengan nada memohon kepada saudara kembar namun beda rupa itu.
Nathan menaikan salah satu alisnya, dan kedua tangan bersedekap di dada. "Bu Mega siapa?" tanya Nathan, yang memang tidak mengerti dengan arah pembicaraan Ansel.
"Othan please! Bu Mega, klien yang menor itu!" Ansel melirik istrinya yang tengah menatap tajam dirinya.
"Sebenarnya ada apa sih?" Kirana bertanya kepada Melisa.
"Lihatlah, Na." Melisa memperlihatkan layar ponsel yang tertera pesan singkat itu kepada Kirana, lalu Nathan yang penasaran pun ikut membaca pesan tersebut.
"Wah! Main api kamu!" Nathan menjadi kompor meleduk, menatap saudaranya itu sambil geleng-geleng kepala.
"Othan! Jangan memperkeruh suasana!" Rasanya Ansel ingin membungkam mulut saudara kembarnya itu yang sengaja memanasi Istrinya
Nathan tergelak keras saat melihat wajah pias Ansel. "Oke akan aku jelaskan kepada istrimu," ucap Nathan pada akhirnya, karena ia tidak tega melihat saudara kembarnya yang memelas kepadanya.
"Bu Mega ini sepertinya ingin merayu Ansel, agar perusahaannya di terima berkerja sama dengan Holitron Grup. Dan bodohnya Ansel tidak menyadarinya sama sekali jika ini adalah trik Bu Mega," jelas Nathan kepada Melisa.
Ansel yang mendengar penjelasan Nathan pun mengusap wajahnya dengan kasar, dan merutuki kebodohannya.
"Mungkin dia terpesona dengan kecantikan Bu Mega, maka dari itu dirinya tidak sadar jika akan di jebak!" sewot Melisa sambil melirik tajam suaminya.
Jangan lupa dukungannya ya, bestie😍