My Hot ART

My Hot ART
Bonus Chapter 5



Satu bulan kemudian.


Gwen sudah lulus sekolah dengan nilai yang terbaik. Pernikahannya dengan Aiden juga tertutup rapat, hanya pihak keluarga dan kerabat dekat saja yang mengetahui. Rencananya akan di adakan resepsi pernikahan jika Gwen sudah melahirkan nanti.


Sedangkan Sean dan Irene membuka sebuah bengkel dan juga mini market. Sean membangun usahanya dengan uang dari Sahamnya yang ada di Warjah Grup.


Sahamnya ternyata bernilai fantastis, karena setiap bulannya terus bertambah. Dan Sean sangat bersyukur akan hal itu, jadi ia bisa mempunyai tabungan untuk anak-anaknya nanti.


Tapi, mempunyai saham yang banyak, tidak membuatnya malas-malasan. Sean mengurus Bengkel mobil yang baru berjalan dua minggu, sedangkan Irene mengurus Mini market. Sean dan Irene saling bekerja sama, mereka berdua merintis usahanya dari-nol dan tidak mempunyai karyawan sama sekali. Mereka benar-benar bekerja keras. Beruntung kehamilan Irene tidak mengalami morning sickness atau ngidam yang aneh-aneh. Janin yang ada di dalam perutnya seolah tahu jika kedua orang tuanya sedang berjuang keras.


Ansel dan Melisa semakin mesra bagai permen karet yang menempel di rambut, sulit untuk di pisahkan.


Melisa tidak mau berjauhan dengan Ansel barang sedikit pun, ia akan mual dan muntah jika tidak berada di dekat suaminya. Bahkan ia juga masih suka sekali meminta jatah kepada suaminya dimana saja dan kapan saja.


Ansel, menyiapkan stamina yang kuat untuk melayani nafssu istrinya ini. “Kan, aku ngidam lontong kamu, Pi. Nanti anak kamu ngiler, kalau tidak dituruti.” Alasan Melisa ketika Ansel menolak ajakan bercinta. Dan dengan pasrah, Ansel pun menuruti kemauan istrinya walau badannya sedang sangat lelah. Karena ia tidak ingin anaknya jadi ileran nanti.


Nathan dan Kirana lebih bahagia lagi karena sebentar lagi akan menyambut kelahiran anak-anaknya. Ya, Kirana mengandung bayi kembar, dan itu adalah kebahagiaan yang tidak terkira untuk calon ibu dan ayah itu.


“Kata Dokter Ricky, hamil kembar itu jarang sekali sampai sembilan bulan, Mas. Kebanyakan usia tujuh bulan sudah melahirkan prematur,” jelas Kirana, saat suaminya menegurnya karena masukkan pakaian bayi ke dalam tas.


“Mommy katanya juga begitu saat mengandung kalian, usia kehamilan tujuh bulan sudah melahirkan,” lanjut Kirana.


“Biar aku saja, Dek. Nanti kamu lelah.” Nathan menghentikan pergerakan tangan istrinya.


“Lelah apanya? Cuma membereskan baju saja kok,” jawab Kirana cemberut kesal. Karena selama kehamilannya ia di perlakukan seperti seorang ratu, eh salah, seperti orang sakit, karena mau apa-apa tidak boleh, bahkan untuk berjalan saja ia harus menggunakan kursi roda atau di gendong oleh suaminya jika ada dirumah.


“CK! Ngeyel! Lihatlah, kamu sudah sangat lelah setiap hari menggendong kedua anakku di dalam perutmu. Aku tidak bisa membayangkan jika menjadi dirimu,” ucap Nathan, seraya mengusap lembut pipi istrinya yang putih nan lembut itu, lalu beralih mengusap perut buncit istrinya yang besarnya dua kali lipat dari kehamilan biasanya.


Kirana tersenyum lembut, lalu menangkup tangan kekar suaminya yang sedang mengelus perut buncitnya itu. Hatinya menghangat dan ia sangat bahagia karena mempunyai suami yang begitu mencintainya dan menyayanginya. “I Love You, Mas,” ucap Kirana dengan penuh cinta.


Nathan yang menatap istrinya dengan lembut, seraya mendekatkan wajahnya. “I Love you, too,” jawab Nathan dengan nada yang begitu sexy, sebelum ia membenamkan bibirnya di permukaan bibir Kirana yang kenyal dan lembut itu.


Keduanya saling berciuman, melumaat, dan menyesap penuh kelembutan. Namun ciuman yang lembut itu kini semakin menuntut. Deburan gairah yang membera menghantam dua jiwa yang menggelora itu.


Nafas keduanya terengah, melepaskan tautan bibirnya sesaat untuk meraup udara sebanyak mungkin, saling pandang penuh gairah dan cinta. Dan belanjut menyatukan kedua bibir mereka lagi penuh nafssu.


Tangan Nathan dengan cekatan melepaskan semua kain yang melekat di tubuh keduanya. Saat ini keduanya itu sudah polos tanpa sehelai benang. Nathan melepaskan pagutannya, dan memundurkan langkahnya. Ia memandangi tubuh istrinya yang semakin berisi, dan perut buncit yang berbentuk lonjong ke depan, membuat Kirana semakin terlihat sexy dan menggoda di mata Nathan.


“Kamu sangat sexy, sayang. Lihatlah perut buncitmu ini terlihat sangat menggairahkan. Ingin rasanya membuatmu setiap tahun melahirkan anak-anak ku,” jawab Nathan dengan suara seraknya, lalu merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya dan menggendong istrinya itu menuju ranjang panas yang sebentar lagi akan bergoyang.


“Ish! Memangnya aku kucing, yang setiap tahun harus melahirkan.” Sewot Kirana, memukul pelan bahu suaminya yang berotot itu. Saat ini ia sudah berada di bawah kungkungan suaminya. Ia menahan nafas sejenak saat melihat pedang pamungkas Nathan yang super jumbo dan panjang. Tidak di pungkiri, jika Kirana selalu terpesona dengan senjata suaminya dan juga tubuh suaminya yang kekar dan sempurna tanpa cela.


“Kalau perlu kita mencetak kesebelasan sepak bola,” jawab Nathan nyeleneh, sembari mengusap lembah yang berwarna pink kecoklatan dan merekah itu dengan pelan. Kirana mengeluh seraya mengangkat bokongnya saat merasakan kenikmatan itu.


“Kamu yang jadi wasitnya, ya,” ucap Kirana seraya memejamkan matanya, saat tangan kekar suaminya kini beralih memainkan dua gunung kembarnya bergantian dengan lidah dan juga tangannya. “Ahh, Mas.” Kirana mendesah tidak karuan.


"Iya, aku akan menjadi wasitnya," jawab Nathan, sembari memposisikan dirinya dicelah paha Kirana, sembari memegang pedang pamungkasnya, menggesekkanya di depan pintu surga yang selalu memberikannya kenikmatan. Perlahan tapi pasti, Nathan membenamkan senjatanya ke dalam inti istrinya dengan penuh kelembutan.


"Eumh." Kirana mendessah dan melenguh nikmat saat pedang suaminya sudah tertanam sempurna di dalam miliknya. Ungkapan kata cinta terdengar bersahutan, desaahan dan lenguhan pun terus menggema memenuhi kamar mewah itu.


Nathan menggesekkan pedangnya dengan gerakan lembut dan sangat hati-hati. Malahan gerakannya yang begitu pelan, membuat Kirana semakin menikmatin percintaan yang memabukkan itu. Gila! Ini sangat nikmat! Kirana mencengkram bahu suaminya dengan kuat. Ia telah sampai pelepasan pertama. Bergerak gelisah, dan membusungkan dadanya saat gelombang kenikmatan itu menghantam jiwanya.


Ini keterlaluan sekali nikmatnya!


Nathan mempercepat gerakkannya, ia pun segera mengejar pelepasannya. Ia tidak ingin terlalu lama bercinta dengan istrinya yang sedang berbadan dua itu. Tidak berselang lama, ia pun mengerang panjang. Dan menyemburkan Vla puding-nya ke dalam lembah sang istri, menyirami kepala botak kedua anaknya yang masih di dalam kandungan.


"Twins, pasti kesal denganmu, Mas. Karena hampir setiap hari mereka terkena semburan lava putih," ucap Kirana, kepada suaminya yang masih terengah dan saling menempelkan kening.


"Heum, mereka menyukainya karena Daddy-nya sangat baik hati memberikan nutrisi setiap hari," jawab Nathan, sembari mengatur nafasnya.


"Ish! Mana ada seperti itu!" kesal Kirana.


Nathan tergelak menanggapinya, seraya mengecupi seluruh wajah istrinya penuh cinta, sebagai tanda ungkapan terima kasih.


...****************...


Masih siang, jangan nagih yang hot-hot! Nanti eike di protes sama para emak-emak berdaster yang tidak ada lawannya. 🤣🤣🤣🙏


Jangan lupa like-nya dan vote.


Sembari nunggu bonchap, yuk mampir ke karya Baru Emak, yang berjudul menggenggan rindu (Sebuah penantian)❤