My Hot ART

My Hot ART
Jantung berdebar-debar



Sean melajukan motornya dengan kecepatan penuh, dadanya berdegup kencang saat mendengar suara ketakutan itu.


Tidak berselang lama ia sampai ditempat tujuan, ia melangkahkan kakinya menuju pintu kontrakan berwarna hijau itu.


"Ren!" seru Sean sambil mengetuk pintu tersebut berulang kali. Ia menatap sekelilingnya, disana tampak sepi tidak ada orang satu pun yang ia lihat. Mungkin karena sudah tengah malam, semua penghuni kontrakan disana sudah terlelap.


"Irene! Ini gue Sean!" seru Sean lagi.


Pria tersebut tampak sangat cemas karena Irene tidak kunjung membuka pintu. Namun tidak berselang lama pintu tersebut terbuka dari dalam, memperlihatkan Irene yang tampak kacau.


"Se," lirih Irene lalu memeluk pria bertubuh jangkung itu dengan erat, dan menumpahkan tangisnya disana.


"Ayah tiriku tahu jika aku ada disini dan tadi dia mau membawaku lagi ke Klub malam tapi untung saja aku bisa melarikan diri. Se, aku takut. bawa aku pergi dari sini," ucap Irene di iringi dengan isak tangis yang memilukan.


Seperti dugaannya jika hal ini akan terjadi, maka dari itu ia ingin Irene tinggal dilingkungan yang aman, tapi gadis itu terlalu keras kepala.


Sean menghela nafasnya dan mengusap punggung Irene dengan lembut. Salah satu tangannya mengepal dengan kuat. Hatinya berdenyut nyeri saat melihat Irene menangis seperti itu.


"Sudah jangan menangis, kita akan pindah dari sini," ucap Sean seraya mengurai pelukan Irene. Lalu ia menundukkan badannya untuk menghapus air mata Irene dengan lembut.


Mata Sean memicing saat melihat pipi Irene memar. "Siapa yang melakukannya?" tanya Sean dengan nada yang dingin, rahangnya semakin mengeras hingga giginya bergemelutuk.


"Ayah," jawab Irene dengan pelan.


"Bajingan!" umpat Sean, dengan penuh emosi. Hingga membuat Irene bertambah ketakutan.


"Se!" Irene mendongak lalu menarik ujung baju Sean agar pria itu mengendalikan emosinya.


Sean menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu menarik tangan Irene keluar dari kontrakan tersebut.


"Sebentar Se, aku belum mengambil tasku." Irene melepaskan tangan Sean dan berlari ke kamar kontrakannya dan membawa tasnya.


"Sudah?? Ada yang tertinggal tidak?" tanya Sean, dibalas gelengan kepala dari Irene sambil mendekap tasnya didada.


Kemudian Sean menjalankan motornya lagi membelah jalanan Ibu kota yang sepi itu.


*


*


*


"Tidak apa-apa 'kan kalau kamu tinggal disini lagi?" tanya Sean, saat mereka sampai di paviliun.


"Iya, tidak apa-apa," jawan Irene, mengulurkan tangannya agar Sean membantunya turun dari motor.


Sean mengangguk lalu tersenyum dan menatap Irene dengan tatapan lembut.


Irene yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah, dan segera memalingkan wajahnya seraya membenarkan kacamatanya yang melorot dari hidung mungilnya.


"Ayo, masuk." Sean menggandeng tangan Irene. Entah sadar atau tidak pria itu, tapi tindakan Sean mampu membuat jantung Irene bedetak tidak karuan.


Masa iya, aku jatuh cinta sama tukang celup ini sih? Batin Irene, sambil mengelus dadanya.


"Setidaknya kamu aman berada disini," ucap Sean, saat mereka berada didalam paviliun tersebut, dan melepaskan genggaman tangannya setelah ia tersadar.


"Ah, Iya. Terima kasih, Se, karena sudah sangat baik kepadaku. Dan maaf kemarin aku terlalu keras kepala, tidak mau mendengarkan ucapanmu," ucap Irene tulus, dan penuh penyesalan.


"Iya, jangan diulangi lagi," jawab Sean, sambil menipiskan bibirnya.


Lalu keduanya itu memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.


Mulai ada rasa nihh, cieeee Sean sama Irene๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†