
Pagi hari telah menyapa. Terdengar suara erangan dan lenguhan di dalam kamar mewah. Ya, siapa lagi kalau bukan pengantin baru yang sedang melakukan olah raga pagi.
"Ah ah." Irene mendesaah nikmat, memejamkan mata, kedua tangannya mengalung kuat di leher sang suami yang sedang berpacu atas tubuhnya dengan ritme yang sedang.
Sean melakukan berbagai macam gaya eklorasi untuk menikmati tubuh istrinya, dari gaya nempok di dinding samai ke gaya monyet minta di gendong.
Sean memaju mundurkan senjatanya ke dalam bagian inti istrinya dengan penuh kenikmatan. Milik istrinya sangat sempit dan mengigit, membuatnya sangat candu dan ingin terus bercinta setiap saat.
"Ah .... Sean, aku lelah." rengek Irene, yang baru saja mencapai pelepasan kedua kalinya.
Bagaimana tidak lelah? Tadi malam saja, ia digempur Sean sebanyak dua ronde dan pagi hari suaminya minta tambah lagi. Sebenarnya, ia bisa saja menolak keinginan Sean, Akan tetapi, ia tidak bisa mengabaikan permintaan suaminya, bukankah sudah menjadi kewajibannya untuk menyenangkan hati dan memuaskan suaminya? Apalagi, ia pun menikmati kegiatan yang mengenakan itu.
"Sebentar lagi, Sayang," ucap Sean dengan nafas yang memburu, lalu menundukkan kepala, meraup bibir mungil istrinya yang sudah terlihat bengkak karena ulahnya. Dan ciuman yang di bibir itu kini turun ke dada istrinya, menyesap pucuk dada istrinya bergantian.
Sean mempercepat gerakannya, dan tidak berselang lama ia melenguh panjang, menghentakkan senjatanya sampai titik yang terdalam, saat si Joni gumoh di dalam rahim istrinya.
Nafas keduanya terengah, dan peluh membasahi tubuh keduanya. Sean mengecup seluruh wajah istrinya dengan penuh kasih sayang, dan berakhir mengecup bibir mungil istrinya dan menyesap atas bawah bergantian.
"Terima kasih, Irene." Sean mengucapkan terima kasih saat tautan bibir itu terlepas. Dan di respon anggukan lemah dari istrinya. Kemudian ia mencabut penyatuannya, lalu menggulingkan badannya ke samping kiri dan memeluk tubuh mungil Irene ke dalam dekapannya.
"Baru jam 5 pagi. Tidur lagi, Ren. Pasti lo capek banget," ucap Sean, saat menatap jam dinding yang ada di kamarnya.
"Heum, bukan capek lagi, tapi seluruh tulangku rasanya remuk. Apakah durasi permainanmu bisa di kurangi? Aku heran, kenapa kekuatanmu itu tidak ada habisnya?" gerutu Irene, sambil menjauhkan tubuhnya dari suaminya, terasa gerah, walaupun ada pendingin ruangan, akan tetapi belum bisa mendinginkan tubuh keduanya.
Sean terkekeh mendengarnya. "Semua itu alami, Ren," jawab Sean seadanya, tidak ingin menjalaskan apapun lagi, takut jika istrinya salah paham lagi, seperti pada waktu itu.
"CK!" Irene menanggapinya dengan decakan kesal.
"Sudah jangan protes. Sekarang tidur lah," ucap Sean, menarik istrinya lagi ke dalam pelukkannya.
"Tubuh lo mungil banget sih, kayak guling, enak banget di peluknya," ucap Sean lagi, sambil mengecup kening istrinya dengan kasih sayang.
"Ya, anggap saja aku guling." gerutu Irene, yang mulai memejamkan mata. Semenjak menikah dengan Sean, waktu tidurnya kini berkurang.
Sean mengusap-usap punggung Irene yang polos itu dengan lembut, sampai istrinya terlelap dan pulas dalam tidurnya. Sean beringsut perlahan, turun dari atas tempat tidur dengan pelan, lalu memungut pakaiannya yang berserak diatas lantai, dan memakainya. Setelah itu, ia keluar dari dalam kamar, menuju ruang Gym.
*
*
*
"Bangun jam berapa, Ai?" tanya Sean, ketika memasuki ruang Gym ternyata sudah ada Aiden disana yang sudah mandi keringat. Bertanda jika Aiden sudah lama berolah raga.
"Jam 3, aku tidak bisa tidur. Kamu sendiri, kenapa ada disini? Tidak ngelonin istri kamu?" tanya Aiden yang terdengar seperti olokan.
Sean terkekeh, seraya membuka kaosnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang kekar. "Istri gue sudah terlelap lagi, karena kelelahan melayani nafssu suaminya," jawab Sean absurd, membuat Aiden mengumpat kesal.
"Sial!" umpat Aiden.
Sean tergelak. "Makanya cepat menikah, biar merasakan yang enak-enak," ucap Sean, sembari mengangkat dumbbell.
Kasih Likenya jangan lupa, udah mulai mengendor nih. 🤧🤧