
Warning aja pokoknya! Nggak perlu diperjelas lagi 'kan? 🙄
"Hei!! Apa yang ingin kamu lakukan kepadaku?!" teriak Aiden, berusaha untuk menepis tangan Gwen yang akan mencekik lehernya. Dengan cepat, ia membalikkan posisi Gwen yang tadinya berada diatas perutnya kini berada dibawah kungkungannya dan segera mengunci kedua tangan itu diatas kepala Gwen.
"Lepas!!!" sentak Gwen, seraya menatap tajam pria yang menyeringai diatas tubuhnya.
"Tidak akan pernah aku lepaskan! Apa kamu tahu, dari kemarin aku ingin sekali merobek mulutmu yang selalu berkata kasar ini!" ucap Aiden terdengar dingin dan datar, salah satu tangannya membelai kasar bibir ranum itu dengan ibu jarinya.
Gwen memalingkan wajahnya, namun dengan kasar Aiden mencengkram rahang gadis itu dengan kuat.
"Apa kamu pikir bisa melawanku?! Walaupun kamu jago bela diri sekalipun! Kamu tidak ada apa-apanya untukku!" desis Aiden terdengar sangat menakutkan di indra pendengaran Gwen.
Gwen memejamkan matanya, seketika itu ia menjadi ketakutan kepada pria yang sedang mengungkungnya ini.
"Kenapa kamu takut? Lalu dimana keberanianmu?" tanya Aiden, seraya menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya ke bibir ranum yang sedikit terbuka itu.
"Katakan dimana keberanianmu?" bisik Aiden, tepat didepan bibir itu. Matanya menggelap saat melihat bibir yang terlihat menggoda itu, ada hasrat untuk mengecupnya, menyesap, dan melumaatnya.
Gwen tidak menjawab, karena saat ini dia benar-benar sangat takut melihat sisi lain dari Aiden. Gadis itu terus memejamkan mata, namun beberapa detik kemudian matanya terbuka lebar saat merasakan benda kenyal menempel dibibirnya.
"Emph!!" Gwen tersadar dan memberontak. Akan tetapi, kedua tangannya dicekal dan kedua kakinya diduduki Aiden membuatnya tidak bisa melawan atau pun bergerak.
Ia menggelengkan kepalanya dengan kasar agar tautan bibir itu terlepas.
"Aiden!! Hentik .... Emphhh!" Bibir Gwen kembali dibungkam oleh bibir Aiden.
Aiden memejamkan matanya. Ia menyesap bibir itu atas bawah bergantian.
Sial! Bibirnya sangat manis, juga sangat kenyal dan lembut. Membuatku tidak ingin berhenti. Umpat Aiden didalam hati.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Aiden menelusupkan lidahnya kedalam mulut itu, mengobrak-abrik didalam sana.
Gwen yang tadinya memberontak kini mulai menikmati ciuman panas itu, dan mulai membalasnya walau masih kaku. Merasa Gwen sudah jatuh kedalam permainannya, Aiden melepaskan kedua tangan tersebut dan mengalungkannya di lehernya.
Dan kini keduanya berperang lidah dan bertukar saliva-nya hingga bunyi decapan mulai terdengar memecah kesunyian kamar itu.
"Ughhh." Gwen mengeluh, saat ciuman panas itu turun dileher jenjangnya. Gwen merasakan geleyar aneh didalam tubuhnya yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitu pula Aiden yang merasakan hal yang sama seperti Gwen. Bukan hanya itu saja, bagian bawahnya pun ikut menegang kuat dan minta ingin dipuaskan.
"Aiden ... Stop!" Gwen berusaha menghentikan pria tersebut yang sudah berkabut gairah. Aiden mengoyakkan kaos yang dikenakannya, terbelah menjadi dua bagian. Dan tampaklah dua bulatan kenyal yang masih terbungkus kain penutup berwarna merah, sangat indah.
"Aiden hentikan!!" Gwen berusaha untuk menyadarkan Aiden.
"Aku tidak bisa berhenti, Gwen," ucap Aiden, dengan suara seraknya. Lalu meraup bibir ranum itu lagi dengan sangat rakus, dan salah satu tangannya merambat masuk kedalam kain penutup itu, mencari sesuatu didalam sana.
"Ah, Aiden." Tanpa diminta, suara laknat itu keluar dari mulutnya saat merasakan pucuk dadanya di pilin dan dimainkan oleh Aiden dengan sangat gemas. Rasanya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, karena ini pengalaman pertamanya.
"Kamu suka?" tanya Aiden, dan dengan bodohnya Gwen mengangguk pelan dan menatap sayu Aiden bertanda jika dirinya turut terbakar gairah.
Aiden tersenyum tipis saat melihat jawaban Gwen, kemudian ia menundukkan kepalanya dan mencium bibir ranum yang mulai bengkak itu penuh kelembutan.
Ya! Kan! Udah Kayak gitu gimana coba? 😁😁
Kasih sawerannya ya! terima kasih😘