My Hot ART

My Hot ART
Bonus chapter 2



Pagi hari di ruang makan.


Sudah menjadi rutinitas keluarga Clark jika setiap paginya akan sarapan bersama. "Kamu harus bisa membujuk Sean dan Irene untuk tinggal di rumah utama. Apa kata orang nanti jika mengetahui mereka tinggal di paviliun belakang sana. Pokoknya Mommy tidak mau tahu! Sean dan Irene harus tinggal disini!" titah Oma Airin kepada putranya yang sedang menyeruput kopi.


"Ya, nanti aku usahakan, Mom," jawab Xander.


"Kamu jangan bilang usaha saja! Tapi, harus bisa! Aku tidak ingin terjadi sesuatu kepada cucu menantuku yang sedang mengandung penerus keluarga Clark! Ah, ya ampun! Andai saja dulu kamu tidak terlalu keras kepada Sean, pasti semua ini tidak akan terjadi!" keluh Oma Airin lagi, menyudutkan Xander.


"Iya," jawab Xander.


"Nanti aku akan berbicara dengan Irene, Mom. Mommy tenang saja, jangan banyak pikiran." Jeje menimpali seraya menepuk punggung tangan yang sudah kisut itu.


"Pokoknya kamu harus bisa membujuk cucu dan cucu menantuku," tegas Oma Airin, dan di angguki oleh Jeje.


Tidak berselang lama semua anggota keluarga sudah berkumpul di ruang makan.


"Zahra, sini Mommy suapi," ucap Jeje kepada Zahra yang sedang duduk di pangkuan Melisa.


"Iya, Mom." Zahra menurut lalu duduk di pangkuan Jeje.


"Di perut Mama Zahra ada dede bayinya, jadi Zahra tidak boleh duduk di pangkuan Mama atau pun meminta gendong Mama." Jeje memberi pengertian kepada cucunya ini. Zahra mengangguk mengerti.


"Ya, Mom. Aku 'kan sudah besar dan sebentar lagi akan menjadi Kakak," jawab Zahra, tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi dan putih.


"Anak pintar." Jeje menjawil hidung mungil cucunya itu.


Semua tersenyum senang saat melihat interaksi Zahra dan Mommy Jeje.


"Hei, kenapa wajahmu terlihat lesu begitu?" tanya Nathan kepada Ansel yang duduk di kursi sebelahnya.


"Tenagaku tekuras habis," jawab Ansel, berbisik kepada Nathan.


Nathan mengernyit heran karena belum mengerti arah pembicaraan Ansel.


"Ck! Melisa sudah seperti singa betina yang kelaparan. Ah, ya ampun. Lututku terasa ingin copot," keluh Ansel masih dengan nada berbisik.


"Pffttt." Nathan menahan tawanya dengan mengulum bibirnya. Merasa kasihan dengan saudara kembarnya yang setiap hari harus di peras.


"Apakah kamu punya obat kuat?" tanya Ansel, dan di jawab gelengan kepala Nathan.


"Jangan meminum obat yang seperti itu, perbanyak olah raga saja, agar staminamu tetap. fit," nasehat Nathan.


"Baiklah," jawab Ansel mengangguk setuju. Karena yang pernah ia dengar, jika memimum obat kuat itu mempunyai efek samping di kemudian hari.


Acara sarapan bersama dimulai, mereka memakan sarapannya dengan khidmat dan tenang.


*


*


*


"Irene, sayang. Ayolah sekali celup saja," rengek Sean seperti anak kecil yang meminta balon kepada ibunya.


"No!"


"Please! Apa lo nggak kasihan kepada Joni yang sudah satu minggu tidak bertemu dengan bestie-nya?" keluh Sean sembari menggosok Si Joni yang sudah tegang di balik boxer-nya itu.


"Aku mual mencium aroma tubuhmu, Se." Irene menutup hidungnya saat berbicara dengan Sean. Ia benar-benar mual ketika berada di dekat suaminya.


"Lo sengaja nyiksa gue ya?!" kesal Sean, mengerucutkan bibirnya dengan tajam.


"Bukan aku, tapi anak kamu!" jawab Irene.


"Alasa! Bilang saja kalau lo ingin membalas dendam sama gue!" sungut Sean, lalu memalingkan wajahnya kesal. "Kalau lo nggak melayani gue, lebih baik gue jajan saja!"


"Heh! Apa?!!! Coba saja kalau kamu berani!! Aku pastikan si joni akan kehilangan kepalanya!!" ancam Irene tidak main-main, matany menatap tajam Sean.


Sean menelan ludahnya dengan kasar, sambari meremat si joni yang sudah menggigil ketakutan di dalam boxer-nya.


"Cuma bercanda kok, he he hee."