My Hot ART

My Hot ART
Obat lelah



Aiden menutup pintu kamarnya dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara, tidak lupa ia mengunci pintu tersebut. Kemudian ia berjalan menuju tempat tidur dimana Gwen sangat lelap dalam tidurnya.


Aiden mendudukan dirinya, seraya menyugar rambutnya kebelakang dengan kasar, lalu menoleh kearah Gwen, kemudian merebahkan dirinya disamping gadis tersebut dengan berbantalkan kedua lengannya, seraya menatap langit-langit kamarnya.


"Kenapa saat berdekatan seperti ini terasa beda ya?" gumam Aiden seraya meraba dada kirinya, dimana jantungnya berdetak tidak karuan. Sama halnya saat ia berdekatan dengan Kirana.


Kemudian merubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Gwen. "Aku tidak mungkin menyukai gadis bau kencur ini, kan?" gumamnya lagi, menatap dalam wajah Gwen yang terlihat tenang saat tertidur.


Rasa kantuk mulai melanda, kelopak matanya semakin terasa berat untuk terbuka, dan akhirnya ia pun terlelap disamping Gwen.


*


*


*


Tepat jam 12 malam Sean baru sampai dipaviliun. Hari pertama mengambil 2 Sif, tubuhnya terasa sangat lelah dan remuk. Ia memakirkan motornya didepan paviliun tersebut dan melangkah gontai memasuki bangunan yang tidak terlalu besar itu.


Ceklek


Suara pintu terbuka dari luar. Irene yang tertidur di atas sofa terlonjak kaget dan menoleh kearah pintu tersebut, dimana Sean memasuki paviliun dengan gontai dan wajah tampannya terlihat sangat lelah.


"Se?" Panggil Irene pelan.


Sean terkejut saat mendengar namanya dipanggil, ia menoleh dan menatap Irene yang juga tengah menatapnya.


Sean tersenyum tipis saat kepulangannya disambut sang kekasih, rasa lelah yang mendera sedikit menguap.


"Kok baru pulang?" tanya Irene, beranjak dari duduk dan menghampiri Sean yang masih berdiri ditempat.


"Kan sudah bilang tadi, gue lembur," jawab Sean sedikit berbohong, karena ia tidak ingin jika Irene khawatir kepadanya.


Irene mengulas senyum dan bernafas lega, saat mendengar penjelasan Sean.


"Capek ya? Sudah makan belum?" tanya Irene.


"Capek banget, tapi pas lihat lo capeknya langsung hilang, dan udah makan tadi di resto," jawab Sean, lalu beralih duduk disofa dan di ikuti Irene yang turut duduk disampingnya.


Ada rasa bahagia didalam hati Irene saat mendengar perkataan Sean, terdengar seperti gombalan tapi pria itu mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.


"Mau mandi?" tanya Irene lagi.


"Iya, tapi sudah malam. Kan nggak bagus buat kesehatan dan juga tulang," jawab Sean, seraya menyenderkan punggungnya disenderan sofa. Melepas rasa lelahnya.


Sean menganggukkan kepalanya dengan cepat, dan salah satu tangannya membelai pucuk kepala Irene dengan lembut. "Terima kasih," ucapnya.


"Sama-sama," jawab Irene tersenyum malu, segera beranjak menuju dapur memasak air hangat untuk mandi Sean, sekaligus membuatkan teh hangat untuk kekasihnya.


Lima belas menit kemudian, Irene kembali dari dapur sembari membawa secangkir teh hangat.


Irene meletakkan cangkir tersebut diatas meja, lalu beralih menatap Sean yang sudah terpejam dengan posisi yang sama, bersender disofa.


"Sean, mandi dulu. Nanti baru tidur lagi." Irene membangunkan Sean dengan sangat lembut agar kekasihnya itu tidak terkejut.


"Heum." Sean berdehem seraya membuka kedua matanya.


"Mandi dulu, sudah aku siapkan air hangat dan baju gantimu dikamar mandi," ucap Irene, dan diangguki oleh Sean.


Kemudian pria itu beranjak menuju kamar mandi dengan langkah malas.


Irene mengambil ponsel, dompet dan juga kunci motor Sean lalu menyimpannya didalam kamar kekasihnya.


Tidak berselang lama Sean sudah selesai mandi lalu memasuki kamarnya. Sean terlihat lebih segar dan sangat tampan. Kaos singlet berwarna hitam agak kedodoran dan celana pendek berwana putih sangat pas dibadannya.


Irene yang sedang menata isi lemari Sean, sangat terkejut saat ada tangan melingkar diperutnya. Wangi aroma sabun menguar di indra penciumannya, terasa segar dan wangi.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja," pinta Sean, dengan lirih, semakin mengeratkan pelukannya sambil memejamkan matanya.


Seperti ini saja sudah cukup baginya, memeluk sang kekasih sebagai obat rasa lelahnya dan juga penambah semangatnya. Agar ia mampu melewati hari esok.


Irene tersenyum simpul seraya melepaskan tangan yang melingkar diperutnya itu. Lalu membalikkan badan, menghadap Sean.


"Biar aku yang memeluk kamu," ucap Irene mendongak lalu tersenyum manis, kemudian berhambur memeluk tubuh jangkung dan kekar itu dengan erat.


Sean membalas senyuman itu penuh kebahagiaan. Sesederhana inikah bahagia hidup bersama Irene?


"Love you, Ren," ucap Sean, seraya mengecup pucuk kepala Irene bertubi-tubi.


"Mee too, Se," jawab Irene, membenamkan wajahnya didada Sean.


Sean, kok Emak yang bikin kisahnya kamu, jadi pengen mewek ya? Kamu memang bukan pria yang romantis, tapi kamu membuktikan kasih sayang dan cintamu dengan tindakan langsung. Emak terharu sama kamu, Se. ❤❤


Kasih saweran buat Sean dan Irene dong.


Terima kasih, semuanya❤