My Hot ART

My Hot ART
Bonus Chapter 12



Kirana sudah di pindah ke ruang rawat VIP. Sudah hampir 2 jam lebih, Kirana terus merasakan kontraksi yang begitu hebat, namun pembukaan jalan lahir tidak kunjung bertambah. Rasanya hidupnya sudah di ambang kematian. Nathan selalu berada di samping istrinya dan selalu memberikan dukungan, dan memberikan kata-kata penyemangat.


Kirana duduk di tepian tempat tidur pasien, sembari memeluk suaminya dengan sangat erat, dan salah satu tangannya menggenggam tangan suaminya dengan kuat.


"Aku ingin ibu, Mas," pinta Kirana dengan nada yang lirih, lalu meringis saat merasakan kontraksi itu datang lagi.


"Iya, Ibu dan Bapak sedang menuju kesini, menggunakan Jet pribadi," jawab Nathan, seraya mengusap lembut pipi istrinya, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Rasanya aku ingin mati. Ini sangat sakit, Mas. Bolehkah aku berbicara kepada Daddy dan Mommy? Aku ingin minta maaf kepada mereka," pinta Kirana dengan nada memohon. Air matanya mengalis begitu deras, ia menggenggam tangan suaminya dengan kuat, saat kontraksi itu datang lagi.


"Sayang, kamu adalah wanita yang sangat kuat. Kenapa berbicara seperti itu? Jangan membuat Mas, cemas, Dek," ucap Nathan dengan suara yang serak, menahan kesedihannya. "Ayo berjuang demi buah hati kita," ucap Nathan, lalu menciumi seluruh wajah istrinya.


"Rasanya aku tidak sanggup lagi. Mas, jika aku punya salah dan selama ini menjadi istri yang kurang baik, mohon maafkan aku, Mas," ucap Kirana seraya tersenyum tipis.


"Iya, Mas, maafkan," jawab Nathan seraya mengangguk pelan.


"Mana Mommy dan Daddy?" tanya Kirana lagi.


Nathan melepaskan genggaman tangan Kirana. "Sebentar, aku akan memanggilkan mereka," ucap Nathan, segera keluar dari ruangan tersebut untuk memanggil kedua orang tuanya.


"Kenapa, Nak?" tanya Jeje saat sudah memasuki ruangan rawat Kirana. Jeje langsung memeluk manantunya dengan erat, seolah memberikan kekuatan. Ia tahu hal ini tidak akan mudah untuk Kirana, tapi ini semua sudah kodratnya sebagai seorang wanita.


"Aku minta maaf kepada, Mommy. Mungkin selama ini aku belum menjadi menantu yang baik. Maafkan aku jika banyak kesalahan," ucap Kirana terisak, sembari meringis kesakitan, ketika kontraksi itu datang lagi.


"Kamu adalah wanita yang kuat, dan menantu yang baik," ucap Jeje seraya mengusap punggung menantunya dengan lembut, menyalurkan kekuatan. Kirana mengurai pelukannya, lalu ia menatap Xander yang berdiri di belakang Jeje.


"Terima kasih, Dad," ucap Kirana dengan berlinang air mata. Lalu tiba-tiba saja, perutnya semakin mulas luar biasa, dan merasakan dorongan dari dalam. "Sepertinya anak-anakku akan keluar," pekik Kirana histeris.


"Nathan cepat panggilkan dokter dan Bidan!" titah Jeje, seraya merebahkan menantunya di atas tempat tidur, dan segera membuka Dress Kirana, namun sebelum itu, ia melirik suaminya agar keluar dari ruangan tersebut.


Nathan tergesa keluar ruangan untuk memanggil Bidan dan juga Dokter. Di luar ruangan tersebut semua keluarganya menunggu dengan cemas.


*


*


*


Dokter, Bidan dan juga dua perawat sudah mengelilingi Kirana. Nathan berada di samping kiri Kirana, dan Jeje berada di samping kanan Kirana, mereka kompak memberikan dukungan dan juga semangat untuk Kirana.


"Dokter apakah tidak di bawa ke ruang bersalin?' tanya Perawat.


"Tidak sempat, lihatlah kepala bayinya sudah kelihatan, siapkan peralatan medis sekarang juga dan juga baju bayinya!" jawab Dokter, lalu mengintruksi Kirana untuk mengejan.


***


Tegang ih, jangan lupa kasih likenya ya❤❤❤