
Ansel sujud syukur kepada Tuhan sebagai ungkapan rasa terima kasih karena bayinya lahir dengan selamat sedangkan Melisa baik-baik saja. Rasa resah dan pikiran buruk yang tadinya menggelayuti pikirannya kini sudah sirna, tergantikan dengan perasaan bahagia yang tiada terkira.
Hati Ansel terasa bergetar kedua matanya berkaca-kaca saat melihat bayi mungil yang sedang menyedot sumber makanannya dengan kuat di pangkuan Melisa. Rasa haru dan bahagia membuncah di dalam dada, senyum tipis pun terlukis di wajah tampannya.
“Dia tampan sekali,” ucap Melisa, mengelus pipi mulus bayinya dengan lembut.
“Tentu saja tampan, apakah kamu tidak melihat jika bibitnya juga sangat tampan,” sahut Ansel seraya menepuk dada dengan bangga, dan tersenyum tengil.
“Ish!” Melisa mencebikkan bibir namun ia juga setuju dengan ucapan suaminya.
Jeje memasuki ruang rawat Melisa karena sebelumnya ia dari luar bertemu dengan Dokter untuk membicarakan Anaya, cucu ketiganya.
“Hello, baby boy,” sapa Jeje dengan penuh kebahagiaan, berjalan mendekati cucunya yang ada di dalam pangkuan sang ibu. “Minggir!” usir Jeje kepada Ansel yang duduk di tepian tempat tidur.
“Mommy sudah tidak lagi sayang denganku.” Ansel mendumel sembari menggeser duduknya.
Jeje menoleh ke arah putranya yang masih sangat manja kepadanya. Ia menggeleng pelan seraya menonyor bahu Ansel sedikit keras. “Heh! Anakmu sudah ada dua dan kenapa kamu masih saja seperti anak kecil! Apakah kamu tidak malu dengan anak dan istrimu?” omel Jeje sembari berdecak kesal, tidak habis pikir dengan putranya itu yang masih sangat manja kepadanya.
“Apa salahnya aku manja dengan Mommy?” gerutu Ansel sembari memalingkan wajahnya kesal.
“Astaga!” Jeje menggeleng pelan melihat sikap putranya, sedangkan Melisa terkekeh geli karena suaminya itu menurutnya sangat menggemaskan.
“Mel sepertinya kamu harus bersabar menghadapi bayi besar ini,” ucap Jeje kepada menantunya itu.
“Aku sudah strong, Mom,” jawab Melisa seraya melirik suaminya yang semakin cemberut kesal.
“Ish! Kalian sama saja!” gerutu Ansel seraya beranjak menuju sofa later L yang ada di ruang rawat tersebut, mendudukkan dirinya di sana lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Sean.
“Yang sabar ya, Mel. Ansel memang yang paling manja di antara ketiga saudaranya,” ucap Jeje seraya mendudukkan diri di tempat tidur, menatap cucunya yang masih kuat menyedot sumber makanannya. “Duh, sudah dong minum susunya, Boy,” ucap Jeje sembari menepuk pelan bokong cucunya itu.
“Aku sudah biasa menghadapi sikap manjanya, Mom. Walau begitu dia adalah sosok ayah dan suami yang sangat baik,” jawab Melisa, dengan jujur. Ada semburat merah di pipinya saat mengatakannya.
“Uhh ... kamu ternyata sangat bucin dengan putra Mommy,” goda Jeje, membuat menantunya tersipu malu.
“Tapi, Mommy sangat berterima kasih kepadamu karena sudah menyayangi dan mencintai Putra Mommy,” ucap Jeje dengan tulus.
“Kamu pantas mendapatkan semua ini, Mel. Jangan berkecil hati,” jawab Jeje tersenyum tipis.
“Lalu baby boy ini namanya siapa?” tanya Jeje.
“Matteo Clark,” sahut Ansel dari arah sofa di sudut ruangan tersebut.
“Pi, kenapa namanya seperti itu?” protes Melisa kepada suaminya.
“Ada yang salah? Namanya bagus kok,” jawab Ansel.
“Kalau berdasarkan dari buku novel yang sering aku baca, Metteo adalah pria yang arogan dan juga menyebalkan, aku tidak ingin jika anakku nanti mempunyai sifat seperti itu,” jelas Melisa cemberut kesal karena tidak terima dengan pemberian nama dari suaminya yang di tunjukkan pada bayinya.
“Astaga, Melisa. Kamu kebanyakan halu,” jawab Jeje seraya menepuk jidatnya pelan.
“Pokoknya nama anak kita Matteo Clark, titik!” ucap Ansel tidak bisa di bantah.
“CK!” Melisa menanggapinya dengan decakan kesal.
*
*
*
Sementara itu di lokasi berbeda namun masih satu kota. Gwen sedang menatap Anaya yang terbaring di tengah ranjang dengan lelapnya. Hatinya masih merasa sedih melihat kondisi putrinya yang tidak bisa mendengar.
“Kenapa anakku berbeda?” lirih Gwen seraya mengusap air matanya dengan kasar.
***
Jangan lupa dukungannya untuk baby anaya🥺🥺