My Hot ART

My Hot ART
Jangan menyalahkan mereka



Sampai di rumah Gwen.


Xander, Jeje dan Aiden berjalan tergesa memasuki rumah tersebut, dan salah satu pelayan yang ada disana mengintruksi mereka untuk ke lantai dua.


Arjuna menoleh, saat melihat ketiga orang tersebut memasuki kamar ibunya, Matanya menyalang, tangannya yang tadinya bersedekap di dada sambil bersender di dinding kini terkepal kuat. Ia berjalan menghampiri Aiden tanpan berbasa-basi atau tendeng aling-aling, ia langsung memberikan bogem mentah ke wajah Aiden.


Sontak saja aksi Arjuna yang brutal membuat orang yang disana terkejut dan menjerit.


Xander yang melihat putranya yang babak belur dihajar oleh Arjuna pun menghela nafas, tanpa berniat melerainya. Sudah di duga jika Arjuna akan bertindak seperti ini, karena pria itu mempunyai tempramental yang tinggi.


Nue dan Bondan yang ada disana, langsung menarik Arjuna menjauh dari Aiden yang wajahnya sudah babak belur.


"Biarkan aku menghabisinya! Lepas!" Arjuna tetap memberontak, belum puas menghajar Aiden.


"Diam Arjuna! Kendalikan emosimu!" bentak Bondan dengan keras dan berhasil membuat Arjuan diam, seraya mengumpat kesal.


Nue sampai bergetar takut, melihat putranya yang membabi buta menghajar Aiden, entah keturunan dari siapa itu, putranya mempunyai jiwa iblis.


Jeje membantu putranya yang tergeletak diatas lantai dengan kondisi wajahnya yang sudah memar, salah satu matanya bengkak dan sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah. Aiden meringis kesakitan, ia tidak melawan saat Arjuna menghajarnya, karena ia memang pantas mendapatkannya.


"Aku sebagai orang tua Aiden meminta maaf dengan terjadinya masalah ini. Kita sama-sama teledor dan kecolongan dengan mereka berdua. Dan mereka melakukannya suka sama suka, tidak ada paksaan sama sekali." Xander bersuara ketika suasana sudah sedikit tenang, walau masih ada sedikit ketegangan disana.


Semua terdiam mendengarkan perkataan Xander yang bijak. Ya ... benar yang di katakan Xander jika mereka sebagai orang tua sudah teledor dan kecolongan. Mereka juga yang salah karena terlalu membebaskan Aiden dan Gwen karena percaya jika Aiden mampu menjaga Gwen sampai tiba waktunya. Akan tetapi, tidak disangka jika kepercayaanya malah memberikan kesempatan untuk mereka melakukan hubungan diluar batas. Tidak sepatutnya jika hanya menyalahkan kedua pelakunya saja.


"Aiden akan bertanggung jawab, dan itu pasti. Jangan menyakiti anak-anak kita dengan kekerasan, karena semua sudah terlanjur terjadi. Mau seperti apa pun menghajar mereka, semua tidak akan kembali seperti semula. Rasa kecewa pasti ada, tapi kembali lagi ke hati kita masing-masing, mampu tidak untuk berlapang dada menerima semua ini?" terang Xander dengan sangat bijaksana.


Semuanya masih terdiam dan mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Xander. Suasana juga semakin tenang, Arjuna pun sudah mengendalikan emosinya. Mereka sudah berfikir jernih saat ini, tidak di kendalikan emosi lagi.


"Di kamarnya," jawab Fika yang terduduk diatas tempat tidur dengan mata yang sembab.


*


*


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Jeje kepada Oma Rima yang sedang menepuk-nepuk punggung Gwen dengan lembut. Gwen memeluk Oma Rima dengan erat dan menumpahkan tangisnya.


"Ya, begitulah, dia sangat terpukul dan juga merasa sedih karena sudah membuat semua orang kecewa," jawab Oma Rima sembari menghela nafas.


Aiden meringis sambil memegangi pipinya, lalu duduk di tepian tempat tidur dan mengusap lengan Gwen dengan lembut. Rasa bersalah menyeruak masuk ke dalam dadanya, karena dia lah Gwen menjadi seperti ini.


"Apakah sudah di bawa ke dokter kandungan?" tanya Xander yang berdiri di samping Jeje sambil merangkul bahu istrinya.


"Sudah tadi sama Arjuna, dan kehamilannya sudah berusia 9 minggu," jelas Oma Rima.


Sontak Jeje dan Xander melotot horor kepada Aiden. "Pada waktu kamu ingin menikah dengan Gwen dua bulan yang lalu, kamu sudah melakukannya, Ai?" tanya Xander dengan tajam.


Aiden menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Xander menggeram kesal, tangannya terkepal kuat ingin melayangkan tinju ke wajah putranya, namun di urungkannya. Merasa kasihan karena wajah Aiden sudah babak belur.


"Hari ini juga kalian menikah!" tegas Xander.


Hiyakk, detik-detik menuju endπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ