
Melisa mengucapkan banyak terima kasih kepada Jeje karena sudah merawat Zahra dengan baik.
"Kamu tidak mengucapkan terima kasih kepadaku?" tanya Ansel, menatap sengit ibu satu anak itu yang duduk bersebrangan dengannya.
"Terima kasih, Tuan," jawab Melisa dan tersenyum paksa.
"Yang ikhlas bilang terima kasihnya!" Masih kurang puas dengan ucapan Melisa, sehingga Jeje turun tangan menggeplak paha putranya dengan keras.
"Sakit Mommy!" rengek Ansel dengan manja, seraya mengusap pahanya yang terasa sangat sakit.
"Diam kamu!" kesal Jeje, melotot tajam kearah putranya lalu beralih menatap Melisa dan Zahra dengan senyuman yang sangat manis.
"Jangan di dengarkan anak bangor ini," ucap Jeje.
Ansel melotot ketika mendengar ucapan ibunya, sedangkan Melisa menahan tawanya.
"Melisa, kami sudah tahu tentang masalah kamu. Terus terang, suamiku menyelidiki tentang latar belakang Zahra, kamu dan juga mantan suamimu," jelas Jeje.
Melisa menyimak dengan seksama, sambil membelai rambut panjang Zahra. Dan ia sudah menebak jika keluarga Clark akan melakukan hal itu, dan dirinya tidak keberatan sama sekali.
"Aku rasa lebih baik Zahra tinggal disini saja agar lebih aman," ucap Jeje lagi, langsung di tolak Melisa karena tidak ingin merepotkan.
"Maaf Nyoya, saya rasa tidak perlu. Saya tidak ingin merepotkan lebih banyak lagi. Ini saja sudah bersyukur dan lebih dari cukup untuk saya," ucap Melisa menolak halus, permintaan Jeje.
Jeje tidak memaksa keputusan Melisa, niatnya hanya ingin membantu saja.
"Baiklah kalau begitu, nanti Ansel akan membantumu untuk mendapatkan hak asuh Zahra," jelas Jeje, membuat tangis Melisa langsung pecah.
"Nyonya, anda begitu sangat baik dan mempunyai hati yang tulus dan mulia. Saya tidak tahu harus membalas dengan apa, tapi saya berdoa, semoga Tuhan selalu memberikan kebahagiaan untuk anda dan keluarga, anda. Amin."
"Amin ... ." Jeje dan Ansel mengaminkan doa Melisa.
"Saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Nyonya dan juga Tuan Ansel," ucap Melisa dengan sangat tulus, air matanya terus mengalis membasahi pipi. Zahra mendongak, lalu menatap mamanya yang terlihat menangis pun ikut menangis.
"Sudah jangan menangis lagi. Lihatlah gadis cantik ini ikut menangis." Jeje menatap keduanya itu dengan sendu, ikut merasakan kesedihan dan juga kebahagiaan.
Melisa mengangguk, seraya meminta maaf lalu menghapus air matanya, dan mendekap putrinya dengan erat.
Tidak berselang lama, Melisa ingin berpamitan kepada Jeje, Ansel dan juga yang lainnya.
"Jangan nakal ya kalau tinggal sama Mama," pesan Jeje kepada Zahra.
"Anak pintar," ucap Jeje, lalu mengecup kedua pipi Zahra dengan sayang.
Kehadiran Zahra walau hanya satu malam, membawa kebahagiaan sendiri dirumah tersebut. Dan semua orang sangat menyukai Zahra. Tapi, Zahra tidak suka semuanya, hanya satu orang yaitu Daddy Xander. Menurut Zahra, wajah Daddy sangat menyeramkan, maka dari itu Zahra tidak menyukainya.
"Ansel antarkan Melisa dan Zahra," titah Xander kepada putranya.
"Hah?! Kenapa harus aku!" Ansel menunjuk hidungnya dengan mata yang melotot lebar.
"Jangan membantah, Ans!" tegur Jeje, membuat Ansel langsung diam dan tidak punya pilihan lain.
"Oke!" jawab Ansel dengan malas, dan segera beranjak menuju mobilnya, sambil menarik koper kecil milik Zahra dan memasukkanya ke dalam bagasi.
*
*
*
"Dasar menyusahkan!" gerutu Ansel, tapi masih di dengar oleh Melisa.
"Apakah anda terpaksa membantu saya, Tuan Ansel?" tanya Melisa, sambil mendekap putrinya yang ada di pangkuannya.
"Pikir saja sendiri!! Kenapa harus bertanya!" jawab Ansel dengan perasaan kesal.
"Om Tampan, kenapa marah kepada Mama?" tanya Zahra.
Ansel menoleh, lalu tersenyum manis. "Om, tidak marah kepada Mama kamu," jawab Ansel, sambil mengacak gemas pucuk kepala Zahra.
"Aneh, kenapa sikapnya berubah sangat manis sekali, jika sedang berbicara dengan Zahra?" batin Melisa, heran dengan sikap Ansel yang seperti bunglon.
"Benarkah? Kata Papa, kalau wanita dan pria sering bertengkar itu adalah sepasang suami istri. Jadi, apakah kalian sudah menikah?" tanya Zahra dengan polosnya.
"Apa?!" Ansel tercengang mendengar pertanyaan Zahra. Bahkan, ia sampai mengerem mendadak mobilnya.
Melisa memejamkan matanya sesaat, lalu membekap bibir putrinya yang tidak berfilter itu.
"Ah, Zahra, jangan berbicara seperti itu." Batin Melisa, sangat malu.
Kasih like dan votenya ya. Love you all❤