
Hari berlalu dengan begitu cepat. Anak-anak Four J sudah bertumbuh anak-anak yang lucu-lucu dan menggemaskan. Ya ... bayi-bayi lucu itu kini sudah berusia satu tahun, sudah bisa berjalan dan berceloteh meski tidak tidak terlalu jelas.
Kebahagiaan menyelimuti keluarga Clark, mereka menikmati tumbuh kembang si kecil dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan Gwen yang merasa senang dengan putrinya yang bisa mendengar walau harus di bantu dengan alat pendengaran.
"Anaya, tidak boleh Sayang." Gwen mencegah tangan putrinya yang hendak melepas alat pendengaran yang terpasang di telinga kecilnya.
"Mimi ... Hiks ... Hiks ..." Anaya merengek saat ibunya menahan kedua tangannya. Ia merasa tidak nyaman dengan alat yang tertempel di kedua telinganya.
Gwen menghela nafas panjang, lalu menggendong putrinya agar tidak bersedih lagi. "Sayang, tidak boleh melepas alat ini, karena alat inilah yang membantu Naya bisa mendengar. Boleh di lepas kalau mau tidur," ucap Gwen memberikan pengertian kepada putrinya, namun tetap saja Anaya adalah seorang gadis kecil yang baru berusia 1 tahun dan belum memahami apa yang di katakan oleh ibunya itu.
"Kenapa Sayang?" tanya Aiden yang baru keluar dari kamar mandi, ia mendengar putrinya terus merengek di gendongan sang istri.
"Biasa, Dad. Naya tidak mau memakai alat bantu dengarnya lagi," jawab Gwen dengan raut wajah sedihnya.
"Mungkin dia merasa tidak nyaman, Mom. Sini sama Daddy." Aiden mengambil alih putrinya ke dalam gendongannya.
Aiden melepaskan salah satu alat bantu dari telinga kanan putrinya itu, dan benar saja telinga putrinya terlihat memerah, sepertinya iritasi.
"Sakit ya, Sayang? Daddy lepas semuanya dulu ya," ucap Aiden dengan penuh kelembutan. Anaya hanya diam karena tidak mendengar apa yang di ucapkan oleh ayahnya itu.
"Mom, telinganya iritasi," ucap Aiden kepada istrinya yang menatap nanar ke arah putrinya itu. Tentu saja hatinya masih merasa sedih, di saat anak-anak lain tumbuh normal akan tetapi putrinya harus menderita, seperti saat ini. Menggunakan alat bantu dengar setiap hari membuat telinga Anaya yang masih lembut menjadi iritasi.
"Iya, Mommy ambilkan obatnya dulu," jawab Gwen, menghapus sudut matanya yang berair lalu berjalan mengambil kotak obat yang terletak di atas nakas. Ia mengambil obat oles khusus untuk iritasi yang biasa dipakai oleh Anaya.
Anaya tersenyum sembari bertepuk tangan. Gadis kecil itu sepertinya merasa lebih baik dari sebelumnya.
Aiden menciumi wajah putrinya dengan gemas, sehingga membuat Anaya merasa geli dan tertawa terbahak.
Sebenarnya Aiden merasakan hal yang sama seperti yang di rasakan oleh istrinya. Akan tetapi ia segera menutupi perasaan sedihnya itu dengan bersendau gurau dengan putrinya.
Gwen tersenyum tipis saat melihat suami dan anaknya tertawa lepas. Namun setelah itu ia meneteskan air matanya, lalu segera keluar dari kamar tersebut untuk mencari udara segar yang membuatnya merasa tenang.
"Gwen ada apa?" tanya Kirana yang sedang menggendong putranya. Kirana melihat Gwen yang duduk di taman belakang rumah dengan wajah yang sedih dan murung.
"Rana, sepertinya Tuhan tidak adil kepadaku," jawab Gwen, menatap Kirana yang kini duduk di sampingnya.
Kirana menurunkan putranya di rerumputan hijau di taman tersebut, dan membiarkan putranya berjalan bebas di sana.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Kirana, sambil menepuk bahu Gwen
Gwen menelan ludahnya dengan kasar, tenggorokannya terasa tercekat, kedua matanya berkaca-kaca saat menatap Ricko yang berjalan bebas sambil berceloteh tidak jelas.
"Kenapa Anaya tidak seperti anak-anak kalian?" tanya Gwen, lalu menumpahkan tangisnya di sana.
Kirana menepuk-nepuk bahu Gwen, lalu memeluk Gwen, seolah menenangkan dan memberikan kekuatan. "Anaya tidak berbeda Gwen, dia anak yang spesial," ucap Kirana, yang sama halnya seperti Gwen, menumpahkan air matanya.