My Hot ART

My Hot ART
Di Abaikan



Gwen dan Aiden berusaha untuk mengotrol detak jantung mereka yang tidak karuan. Aiden melirik Gwen, begitu pula sebaliknya.


"Tidak apa-apa, Mom, aku lupa jika hari ini ada meeting. Bohong Aiden, lalu beranjak dari duduknya seraya mengambil tas kerjanya yang ia letakkan di kursi sebelahnya.


"Eh! Kamu main pergi begitu saja! Sekalian antar Gwen ke sekolah," ucap Jeje, kepada putranya.


"Tidak perlu Aunty, aku bisa berangkat sendiri," tolak Gwen.


"Tidak ada penolakan! Ayo, Aiden antar Gwen!" ucap Jeje sekali lagi kali ini dengan nada yang tegas.


Aiden berdecak kesal, dan menatap Gwen dengan malas. "Ayo!" ajak Aiden, berjalan mendahului, dengan terpaksa gadis itu mengikuti. Tapi sebelumnya ia berpamitan kepada Jeje dan Xander dan tidak lupa mencium tangan keduanya.


*


*


*


Aiden berdehem pelan untuk mengurangi rasa canggung yang sedang ia rasakan saat ini. Sedangkan Gwen meremas kedua tangannya bergantian, merasa gugup saat berada didekat Aiden.


Aiden mengetuk-ngetukan jari tangannya di stir mobil, seraya melirik Gwen yang menundukan kepala sejak tadi.


"Emh ..." Bibirnya terkatup lagi, merasa ragu menanyakan hal itu kepada Gwen.


Gwen mendongak menatap pria itu dari samping sekilas, lalu menundukkan kepalanya lagi.


Aiden menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk membuang canggungnya.


"Apa kakimu baik-baik saja?" tanya Aiden datar, tanpa menoleh sedikit pun.


"Iya," jawab Gwen, seraya mengangguk pelan.


"Aku minta maaf atas kejadian tadi pagi," lanjut Aiden.


"He'em." Gwen berdehem pelan menganggapinya, kemudian ia memalingkan wajahnya ke sisi kiri.


Aiden lega mendengarnya, kemudian ia melajukan mobilnya menuju ke Sekolah Gwen, dimana gadis itu menimba ilmu.


Aiden memilih fokus menyetir, sedangkan Gwen menatap jalan raya dari jendela mobil.


Tidak berselang lama mobil yang dikendarai Aiden sudah sampai didepan pintu gerbang sekolahan Gwen.


"Nanti siang aku jemput," ucap Aiden, tanpa menoleh.


"Iya," jawab Gwen, seraya melepaskan seatbelt dan segera keluar dari mobil tersebut.


"Huh!" Menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.


Berdekatan dengan Gwen membuatnya tidak bisa menahan diri untuk mengulangi perbuatannya tadi pagi. Maka dari itu, ia enggan untuk menatap Gwen yang pagi itu terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Apalagi, sekilas ia melihat bibir Gwen terlihat bengkak kerana ulahnya, menambah kesan sexy dan sangat menggoda.


"Sial!" umpat Aiden, karena tidak bisa lepas dari bayangan bibir ranum yang terasa sangat manis, lembut dan sangat memabukkan itu.


Aiden menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh dari jangkauan matanya. Kemudian ia segera melajukan mobilnya menuju perusahaannya.


Sampai di Warja Grub, Aiden mengernyit heran saat melihat Ansel sudah berada sana bersama seorang wanita.


"Kenapa pagi-pagi sekali kamu ada disini?" tanya Aiden kepada Ansel, seraya mendudukan diri dikursinya tanpa memperdulikan seorang wanita yang duduk disebelah Ansel yang menatapnya penuh damba.


"Iya, aku ingin memperkenalkanmu kepada kekasihku," jawab Ansel seraya menggenggam lembut tangan Ayu.


"Oh," jawab Aiden dengan cuek dan datar.


"Hai, Aiden. Apa kamu masih mengingatku? Aku datang ke Jakarta ingin berlibur," ucap Ayu, menebar senyuman manisnya.


Aiden mengangguk pelan dan tanpa menoleh sedikitpun. Dokumen yang ada dihadapannya lebih menarik dari pada pembahasan yang sedang ia dengarkan saat ini.


Ayu cemberut kesal karena merasa dicueki oleh Aiden, kemudian ia melepaskan genggaman tangan Ansel dengan kasar.


Nggak tahu diri Si Ayu! Getok pakai palu nih!🔨🔨


Kasih sawerannya duongg🌹🌹🌹☕