
"ASTAGA!" pekik pria tersebut yang tak lain adalah Ansel.
Seketika itu Aiden dan Gwen langsung menjauhkan diri. Kedua pasangan yang baru kepergok berciuman itu terlihat salah tingkah.
"Apakah aku ketinggalan berita?" tanya Ansel, lalu mendudukan diri disamping Ayu. Sedangkan Ayu, yang dipepet oekh Ansel cemberut kesal.
"Dan Kamu, Ay, kenapa masih disini jika melihat hanya dijadikan obat nyamuk?" tanya Ansel kepada sang kekasih.
Ayu hanya menjawabnya dengan senyuman yang terpaksa.
"Semua yang kamu lihat hanya ilusi, tidak sungguhan jadi—" ucapan Gwen terputus saat tangannya dicengkram oleh Aiden.
"Jadi?" Ansel menunggu kelanjutan perkataan Gwen sambil menaikan kedua alisnya.
"Jadi cepatlah bawa kekasihmu pergi dari sini sekarang juga!" Aiden yang menjawab dengan nada yang sangat kesal.
"Hei? Memang apa yang di lakukan oleh kekasihku? Sehingga membuatmu kesal begitu?" tanya Ansel seraya menatap Aiden lalu beralih menatap kekasihnya bergantian.
Ayu menaikan kedua bahunya dengan cuek, seraya berkata. "Aku tidak tahu!"
Aiden menatap tajam Ansel, membuat pria itu berdecak kesal seraya menarik tangan Ayu dan segera keluar dari ruangan tersebut. "Satu lagi! Jangan katakan kepada orang rumah jika aku dan Gwen tadi—"
"Aku tidak bisa janji!" potong Ansel, dan segera berlalu dari sana dengan perasaan yang sangat kesal.
PLAK
Gwen memukul tangan kekar Aiden dengan sangat keras, sehingga membuat pria itu memekik kesakitan. "Gara-gara kamu! Ansel sekarang pasti salah paham?!" kesal Gwen berkacak pinggang seraya menatap tajam Aiden yang juga tengah menatapnya.
"Dia tidak akan salah paham! Bukan kah kita tadi sedang akting?" ucap Aiden dengan enteng, seraya beranjak dari duduknya dan kembali kemeja kerjanya.
"Hanya akting?!" beo Gwen. Hatinya berdenyut nyeri mendengarnya dan matanya mulai mengembun namun dengan cepat ia menguasai dirinya agar tidak terbawa perasaan.
"Iya. Apa kamu berharap lebih? Jangan pernah bermimpi!" jawab Aiden dengan datar, membuat dada Gwen terasa sangat sakit bagai tertancap ribuan belati.
"Kenapa hati ini terasa sangat sakit?" batin Gwen terasa pedih.
Aiden yang mendengar kalimat terakhir Gwen pun mengernyit heran dan kepalanya berfikir keras. "Oppa Jungkook? Siapa dia? Apakah dia berselera dengan aki-aki?" batin Aiden bertanya-tanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Aiden, saat Gwen akan keluar dari ruangannya.
"Mau makan siang bareng Oppa Jungkook," jawab Gwen tanpa menoleh, lalu keluar darin ruanngan tersebut.
Sedangkan Aiden masih mencerna dan memikirkan perkataan Gwen. Tidak mau ambil pusing, akhirnya ia mengikuti Gwen dari belakang.
*
*
*
Disisi lain, Ansel sedang merasa pusing dengan tingkah laku Ayu.
"Boleh ya, aku menginap di rumahmu?" pinta Ayu dibuat semanja mungkin. Sangat menjijikan.
"Ay! Aku mohon mengerti posisiku! Di rumahku itu peraturannya sangat ketat!" kesal Ansel, kepada kekasihnya yang sedang merajuk sambil mengerucutkan bibirnya. Sok imut!🙄
"Masa nggak boleh sih? Dulu Kirana boleh." Masih berusaha untuk membujuk kekasihnya.
"Dulu alur ceritanya beda, Ay! Kamu mau jadi ART dirumah ku? Kalau mau sih nggak apa-apa, kita saling dekat nantinya," ucap Ansel, sambil menjawil dagu kekasihnya.
"Dih! Ogah!!" jawab Ayu dengan ketusnya. "Pokoknya akun mau menginap dirumahmu, kalau nggak boleh kita putus!" ancam Ayu, memasang wajah kesal.
Udah ah, aku kasih pedang🗡
Kesel banget aku🤣🤣
Jangan lupa kasih vote, like dan sawerannya dikencengin. Biar Emak semakin semangat ya💃💃