
Jika Ansel dan Melisa sedang olah raga malam, berbeda dengan Aiden yang saat ini tengah tersiksa karena keinginan istrinya yang tengah mengidam.
"Sudah! Aku tidak sanggup!" Aiden melambaikan tangannya ke arah kamera yang di pegang oleh Arjuna. Ya, malam itu Aiden menginap di rumah mertuanya bersama Gwen.
"Ayo habiskan! Ini keinginan anak kamu loh!" Gwen mengerucutkan bibirnya kesal, sembari berkacak pinggang.
"Huah .... Aku sudah tidak sanggup, Gwen," keluh Aiden, sembari menjulurkan lidahnya karena kepedasan, lalu mengusap keringat yang ada di keningnya dengan punggung tangannya. "Bilang sama Baby kita, minta jangan yang aneh-aneh," lanjut Aiden sembari meneguk segelas susu yang ada di atas meja.
"Namanya juga orang ngidam, pasti mintanya yang aneh-aneh lah! Jangan mau enaknya saja pas bikin! Giliran di suruh menuruti keinginan istri ngidam mengeluh. Ingin di pecat jadi ipar?!" ketus Arjuna, memasang wajah garang.
"Nggak, Bang. Tapi, ini beneran pedes banget. Huah ..." Aiden menjulurkan lidahnya lagi kepedasan.
Bagaimana tidak kepedasan, jika dirinya di suruh memakan seblak level 5 yang pedasnya nampol. Jika bukan karena istrinya tengah mengidam, mungkin dirinya tidak akan mau memakan makanan yang menurutnya tidak sehat itu. Dan sepertinya, setelah ini ia akan keluar masuk kamar mandi.
"Ya sudah kalau tidak mau menghabiskan, biar aku saja!" Gwen mengambil mangkok Aiden yang berisi seblak itu.
"Eh! Tidak boleh! Nanti anak kita kepedasan. Sudah aku saja yang menghabiskan," cegah Aiden, sembari menepis tangan Gwen yang mengambil mangkok seblaknya.
Dengan terpaksa Aiden menghabiskan seblak setan itu, ia menghabiskannya dengan cepat. Lebih baik dirinya saja yang sakit perut dari pada istrinya yang tengah mengandung anaknya.
Rasanya kepala Aiden sudah keluar asapnya, karena merasakan rasa pedas yang luar biasa di mulutnya. Wajahnya kian memerah, keringat mulai bercucuran membasahi kening dan juga tubuhnya.
Gwen tidak kasihan melihat suaminya yang seperti itu, justru sebaliknya, ibu hamil itu malah tersenyum senang dan sembari tepuk tangan kecil.
"Sial! Apakah anak yang ada di dalam kandungan istriku itu sedang balas dendam kepada Daddy-nya?" batin Aiden kesal.
"Kamu semakin tampan jika wajahmu merah seperti itu. Terima kasih, Sayang. Kamu adalh suami yang terbaik di dunia. Makin cinta dan sayang deh," ucap Gwen lebay, sembari memeluk manja tangan suaminya.
Sedangkan Arjuna yang masih ada di sana, mendengus seraya mencibir pasangan yang ada di dekatnya itu. "Dasar bucin!"
"Sirik bilang Bos!" balas Aiden, seraya menengguk air putih yang baru saja di berikan oleh Gwen.
Aiden ngambil beberapa lembar tisu untuk mengusap wajahnya yang banjir keringat. "Kamu benar-benar menyiksa Daddy?" Aiden mengusap lembut perut istrinya yang masih terlihat rata itu.
Gwen tersenyum simpul, ada rasa hangat yang menjalar ke hatinya saat Aiden mengusap perutnya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Gwen seraya mengusap rahang tegas suaminya dengan penuh kelembutan.
"Hanya terima kasih?" Aiden menaikan sebelah aliasnya, dan menatap datar istrinya.
Gwen menggigit bibirnya dengan resah."Iya, nanti malam 2 ronde," ucap Gwen malu-malu.
Aiden mengulas senyum, rasa pedas di dalam mulutnya langsung luntur sekeitka saat mendengar ucapan istrinya.
"Aku mau DP-nya dulu," Aiden menunjuk bibirnya dengan jari telujuknya.
"Masa di sini? Malu kalau ada yang lihat." Gwen menatap sekitarnya, memastikan tidak orang di ruang makan.
"Ayo cepatlah!" Aiden memoyongkan bibirnya.
Dengan ragu, Gwen mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir suaminya sekilas, namun Aiden segera menekan tengkuk Gwen dan melumaat bibir Gwen dengan sangat rakus.
"Emphhh ..." Gwen yang mendapat serangan mendadak itu pun terkejut, namun dengan cepat ia mengimbangi ciuman suaminya yang sangat buas. Saling membelit lidah, menyesap, hingga terdengar suara decapan yang memecah kesunyian di ruang makan tersebut. Hingga ciuman mereka terlepas saat mendengar teriakan seseorang.
"Ya amidong!!!! Hot jeletott!!!!"
Ya amidong mengganggu banget sih🤣🤣🤣
Jangan lupa likenya ya❤❤