My Hot ART

My Hot ART
Buaya Amazon!



Tuk


Tuk


Tuk


Aiden memukul kepala Gwen dengan Map lagi hingga beberapa kali, pria gemas dengan mulut Gwen yang berbicara tanpa filter. "Kamu itu masih kecil, tapi bicaramu itu nggak disaring sama sekali!" kesal Aiden, melotot tajam kearah Gwen


Sedangkan Gwen mencebikkan bibir sembari mengusap kepalanya yang baru saja di pukul oleh Aiden. "Aku ini sudah besar, dan sebentar lagi lulus SMA!" bantah Gwen tidak terima dianggap anak kecil oleh Aiden.


"Halah! Belajar dari mana kamu, bisa tahu onderdil bekas segala! Hah?!" tanya Aiden. Ia menyipitkan matanya, menatap Gwen penuh selidik.


Gwen yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah, karena ia takut ketahuan karena dirinya sering menonton blue film di laptop Abangnya dengan sembunyi-sembunyi.


"Ih! Ngapain lihatin aku kayak gitu?" Gwen mengalihkan perhatian, ia langsung beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Aiden, saat melihat Gwen berjalan menuju pintu ruangannya.


"Pulang!" jawab Gwen ketus, dan segera membuka pintu ruangan itu.


"Besok pulang sekolah langsung kesini untuk melakukan pemotretan," titah Aiden, kepada Gwen yang sudah berada diambang pintu.


"Jemput dong," balas Gwen, menoleh sesaat kearah Aiden, lalu segera melenggang pergi.


"Dasar bocil!" gumam Aiden, seraya menggelengkan kepalanya berulang kali, saat Gwen sudah tidak terlihat lagi.


*


*


Sedangkan diruangan lainnya. Irene menatap sebal Sean yang sejak tadi menatap dirinya.


"CK! Mau sampai kapan sih, kamu berada disini?" Irene mulai risih dengan beradaan Sean, yang duduk dihadapannya dan menatapnya tidak berkedip.


"Suka-suka gue, ini 'kan kantor gue," balas Sean dengan cueknya.


"Iya, percaya tapi itu 'kan dulu," sahut Irene dengan nada mengolok, saraya menahan tawanya.


NGEK


Sean mengalihkan pandangannya, sedangkan Irene mulai fokus ke perkerjaanya. Gadis itu memeriksa beberapa dokumen dengan teliti sebelum ia berikan kepada atasannya yaitu Aiden.


Sean memanfaatkan kesempatan untuk mengambil foto Irene dengan ponselnya.


"Cantik," gumam Sean, namun masih didengar oleh Irene.


"Kamu bilang apa?" tanya Irene, mendongakkan kepala seraya menatap Sean dengan alis yang berkerut.


"Nggak, ini gue lihat foto model di ponsel gue, cantik-cantik," bohong Sean, masih terlalu gengsi mengakuinya.


"Oh!" jawab Irene, seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Kenapa sih hatiku sakit banget. Ingat! Dia itu nggak akan pernah berubah dan akan tetap menjadi tukang celup. Apa yang kamu harapakan dari dia? Batin Irene, merasa sesak didada.


Duh, Lo bego banget sih? Sean merutuki dirinya didalam hati, karena mulutnya selalu berbicara bertentangan dengan hatinya.


Beberapa saat kemudian keduanya itu saling diam dan tidak ada yang bersuara sama sekali. Hanya terdengar suara ketikan papan Keyboard yang menjadi musik pengiring keheningan di ruangan tersebut.


"Ren," panggil Sean, menatap Irene yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Hem." Hanya deheman saja yang keluar dari bibir Irene tanpa menoleh, tatapan matanya terfoku pada layar laptopnya.


"Lo serius mau pindah dari paviliun?" Akhirnya pertanyaan yang sudah ia tahan diujung lidahnya sejak tadi terlontar juga.


"Iya," jawab Irene singkat.


"Lo yakin? Nanti kalau Ayah tiri lo datang lagi bagaimana?" tanya Sean, berusaha menghasut Irene agar tidak jadi pindah, karena dia tidak rela harus berjauhan dari gadis itu.


"Kata Tuan Nathan, di Apartemen itu keamanannya terjamin. Lagi pula hidup berdampingan dengan buaya Amazon itu sangat berbahaya." jawab Irene penuh sindiran dan melirik tajam pria itu, tanpa memperdulikan reaksi Sean yang terkejut karena perkataanya.


Dia menyamain gue dengan buaya Amazon?! Wah, nggak bisa dibiarkan ini!


Satu kata buat Sean. Sukurinnn🤣


Jangan lupa like, vote dan saweran kembangnya yang banyak.