
Disisi lain, Sean saat ini sedang berada di apartemen Irene. Pria itu sedang duduk didepan televisi sambil bertopang dagu, sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan kasar karena perutnya sudah terasa lapar tapi sang kekasih tak kunjung selesai memasak.
"Sebenarnya lo itu masak apa sih, Ren?" tanya Sean, kepada Irene yang sedang sibuk dengan wajan penggorengan.
Kebetulan Apartemen tersebut minimalis, jarak antara ruang tamu dan dapur sangatlah dekat.
"Masak nasi goreng," jawab Irene, tangannya sambil mengaduk-aduk nasi yang ada dipenggorengan.
"Ck! Lama banget sih!" gerutu Sean, lalu beranjak menuju dapur. Menatap sang kekasih yang terlihat sangat cantik saat sedang memasak.
"Nggak usah bawel deh!" ketus Irene, sedetik kemudian ia memekik keras saat ada tangan melingkar diperutnya. "Se! Kamu menyalahi aturan lagi!" kesal Irene, lalu mencubit tangan kekar itu hingga pemiliknya meringis sakit dan melepaskan belitan tangannya.
"Dasar pelit!" sungut Sean cemberut kesal, lalu bersender didekat wastafel, bersedekap didada sambil menatap Irene yang sedang mencicipi nasi goreng yang masih ada didalam penggorengan.
"Tetap pada aturan awal, Se. No hugs, no kisses, let alone se•x, so don't touch me. Paham!" tegas Irene, seraya berkacak pinggang menatap sebal Sean.
"Yes, I understand," jawab Sean, dengan malas lalu menuju ruang tamu lagi dan mendudukan diri disana.
"Good Boy!" seru Irene, seraya terkekeh pelan, saat melihat wajah melas kekasihnya.
"Awas saja jika sudah SAH nanti, aku akan mengurungmu didalam kamar!" gumam Sean dengan perasaan kesal.
Tidak berselang lama dua piring nasi goreng beserta dua gelas es teh manis sudah tesaji diatas meja ruang tamu.
"Masak kayak begini saja lama banget sih! Udah laperrrrrr banget tahu!" ucap Sean dan menekan kata 'r' seraya mengambil satu piring nasi yang ada diatas meja.
"Bawel!" jawab Irene, dan ia pun ikut mengambil satu piring diatas meja dan mulai memakannya.
Keduanya itu makan nasi goreng dengan tenang, sesekali Irene melirik Sean yang terlihat lahap memakan masakannya. Ada rasa bahagia didalam hatinya, melihat orang terkasih menyukai masakannya.
Sean yang merasa diperhatikan pun menoleh kearah Irene, membuat gadis itu langsung fokus pada makan malamnya lagi.
"Kenapa ngelihatin gue kayak gitu? Gue ganteng ya? Naksir ya?" tanya Sean dengan gaya narsisnya.
"Dih! Narsis!" jawab Irene, masih malu untuk mengakui perasaannya.
"Ih! Kamu ini gaje banget sih," kesal Irene namun juga tersenyum lebar, sembari memukul pelan lengan kekar Sean.
Sean menangkap tangan Irene yang masih memukulnya, kemudian mengecup tangan mungil itu dengan penuh kelembutan, membuat Irene yang tadinya tersenyum kini mendadak sangat gugup.
Keduanya saling memandang, tatapan mereka saling bertemu. Bagai terhipnotis, Sean memajukan wajahnya dan mendekatkan bibirnya dengan bibir Irene.
Semakin dekat....
Semakin dekat ...
Dan...
Hap
Sean terkejut saat bibirnya dibungkam oleh tangan Irene. Mata Sean melotot sempurna, saat tersadar apa yang sedang ia lakukan.
"Sean!!" geram Irene, menatap tajam kekasihnya.
"He he he he." Sean tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya, lalu menegakkan punggungnya dan mulai memakan makan malamnya lagi dengan salah tingkah, hingga dirinya sampai tersedak.
"Uhuk .... uhukkk ...." Sean menepuk dadanya dan segera meminum es teh manisnya hingga tandas.
Irene yang melihat tingkah Sean hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.
Hai hari ini udah up 5 bab ya.
Jangan lupa kasih dukungan buat Emak ya. 😘
Selamat bermalam minggu dan selamat berkumpul dengan orang terkasih.
Sampai jumpa besok lagi. ❤❤