
Masih Warning! Bocil minggir dan jomblo minggir dari pada nanti ngiler!
Aiden tersenyum tipis saat melihat jawaban Gwen, kemudian ia menundukkan kepalanya dan mencium bibir ranum yang mulai bengkak itu penuh kelembutan. Gwen pun membalas ciuman itu dengan lembut. Mata keduanya sudah menggelap terbakar gairah menutupi hati dan pikiran mereka.
Salah satu tangan Aiden menarik penutup bukit kembar itu hingga terlepas. Air liurnya hampir menetes saat melihat bukit kembar yang terlihat bulat sempurna dengan pucuk dada berwarna pink kemerahan, sangat menggoda.
Dengan tidak sabaran, ia langsung menyesap pucuk dada itu bergantian dengan sangat rakus. Hingga membuat pemiliknya mendesaah dan melenguh nikmat.
"Aiden ...." Desaah Gwen, memejamkan matanya seraya meremat rambut tebal pria yang sedang menggagahinya itu.
Aiden semakin berkabut gairah saat mendengar desaahan Gwen. Ia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Dia menginginkan hal yang lebih dari ini.
"Aiden ... Jangan ... Ughhh.." Desaah Gwen, seraya menahan tangan Aiden yang mulai masuk kedalam underwear-nya. Ia tersadar jika dia sudah melewati batas. Ia berusaha menarik tangan Aiden yang sudah menyentuh bagian intinnya.
"Aiden ... Please!! Jangan lakukan ini kepadaku," pinta Gwen menitihkan air mata.
Mendengar Gwen terisak, Aiden menghentikan aksinya. Mendongak dan menatap wajah Gwen yang terlihat memerah.
Dan seketika itu ia tersadar jika dia sudah melakukan hal yang diluar batas.
"Gwen," panggil Aiden, lalu memeluk gadis itu dengan erat dan menarik selimut yang ada dibawah kakinya untuk menutupi tubuh keduanya yang sudah sudah hampir polos.
"Hei, maafkan aku," ucap Aiden penuh sesal. Ia memejamkan matanya dengan erat, guna merendam gairah dan juga menahan rasa sakit dibagian bawahnya yang ingin dituntaskan.
Gwen menelusupkan wajanya didada bidang Aiden, dan terisak disana menumpahkan segala rasa penyesalan dan juga kebodohannya.
Aiden mengusap punggung polos Gwen berulang kali, untuk menenangkan gadis itu.
Tidak berselang lama terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya, di iringi teriakan dari ibunya.
"Aiden!! Sudah jam 7 pagi! Apa kamu tidak berkerja?" teriak Jeje dari luar sana.
Aiden terdiam dan tidak mungkin ia meninggalkan Gwen dengan kondisi seperti saat ini.
"Sakit? Kamu sakit? Hei!! Kenapa kamu mengunci pintu kamarmu?" teriak Jeje lagi, sambil menggerekkan gagang pintu dengan kasar, lalu mengetuk pintu kamar itu lagi dengan keras.
"Ya, aku butuh privasi. Aku sudah besar, Mom. Dan aku hanya merasa sedikit pusing," jawab Aiden, dari dalam kamar dan masih memeluk tubuh Gwen dengan erat.
Jeje yang ada diluar sana merasa heran dengan tingkah putranya yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa, Mom?" tanya Nathan, yang keluar kamar sambil mengancingkan lengan kemejanya.
"Adikmu bilang kalau sedang tidak enak badan, tapi kenapa dia harus mengunci pintu," jawab Jeje, masih menatap pintu kamar Aiden.
"Mungkin dia sedang butuh sendiri, Mom. Lagi pula dia 'kan sudah besar, jadi jangan terlalu mencamaskannya," jawab Nathan, berfikir positif.
Jeje menghela nafasnya, seraya mengangguk pelan. "Keadaan Kirana bagaimana? Apakah masih mual?" tanya Jeje, beralih mengkhawatirkan menantunya.
"Masih, Mom. Aku tidak tega melihatnya," jawab Nathan, merasa kasihan dengan istrinya yang menderita karena mengandung buah hatinya.
"Sabar nanti kalau sudah lewat trimester pertama juga kembali normal," jawan Jeje, melangkahkan kakinya menuju kamar Nathan untuk melihat menantunya. Akan tetapi langkahnya terhenti saat mendengar Emanuel berteriak heboh.
"Eh, Mommy. Kamu sembunyikan dimenong intan permata eike, hah??!" seru Nue, berjalan menghampiri Jeje dan Nathan dengan wajah yang cemas.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Jeje.
"Si Gwen lah, siapa lagi!" jawab Nue ketus. "Ah, ya amidong! Baru menginap satu malam disini tapi intan permataku hilang," lanjut Nue, sembari memegang kepalanya yang pusing.
Sedangkan didalam kamar sana. Aiden dan Gwen masih berpelukan dibalik selimut tebal itu.
"Bagaimana ini? Aku juga harus kesekolah," ucap Gwen cemas sembari menggigit bibir bawahnya.
Sedangkan Aiden terdiam sambil menelan saliva-nya saat melihat Gwen menggigit bibir bawah itu, terlihat menggoda dan ketagihan untuk mencicipinya.
Nah 'kan udah ketagihan🤣🤣🤣🤣