
Malam hari telah tiba.
Ansel menatap Zahra yang tidur di Jok sampingnya, seraya menghela nafas dengan kasar dan mengusap wajahnya dengan gundah. Ia sudah memberi tahukan mengenai Zahra kepada Mommy dan Daddy-nya. Akan tetapi, ia mendapatkan omelan dan kedua orang tuanya marah besar kepadanya, dan menuduhnya menculik anak orang. Dan lebih parahnya lagi, menuduhnya mempunyai anak di luar nikah. Beruntung ada Nathan yang membantu menjelaskan, sehingga kedua orang tuanya percaya kepadanya.
Tidak berselang lama, mobil yang di kendarainya sudah sampai di halaman rumahnya. Keluar dari dalam mobil, dan membuka pintu sebalah kiri lalu menggendong Zahra dengan hati-hati, agar gadis kecil itu tidak terbangun.
Jeje dan Xander, juga anggota keluarga lainnya sudah menanti kehadirannya di ruang tamu. Keluarga Emanuel juga masih disana, sebenarnya mereka ingin pulang kerumah, akan tetapi kondisi kesehatan Oma Airin menurun lagi. Dan mereka tidak tega harus meninggalkan Jeje merawat Oma Airin sendiri, walaupun disana ada banyak pelayan yang siap membantu.
Jeje beranjak, menghampiri putra bungsunya yang memasuki rumah, namun matanya terpaku saat melihat gadis kecil berads di gendongan Ansel.
"Dia tidur?" tanya Jeje. Ingin marah tidak jadi, saat melihat wajah imut yang tidak berdosa gadis kecil itu.
Ansel mengangguk pelan, sebagai jawaban. Matanya mengedar keseluruh ruang tamu dimana keluarganya berkumpul disana. Bahkan Sean dan Irene pun ada disana, menatapnya penuh selidik.
"Ah, baiklah. Lebih baik, kamu tidurkan dia di kamar tamu," ucap Jeje, dan di angguki oleh Ansel.
"Nue, apakah di butikmu ada baju anak-anak?" tanya Jeje kepada Emanuel.
"Ada, Je." Fika yang menjawab, lalu menghubungi Asisstennya untuk mengantarkan baju anak-anak dengan berbagai model dan ukuran.
"Hah, tadinya aku ingin marah, tapi saat melihat wajah gadis kecil itu, membuat hatiku tidak tega," ucap Jeje, seraya mendudukan dirinya di sofa dengan kasar.
Xander mengusap bahu istrinya dengan lembut. "Dia hanya anak-anak yang tidak berdosa, Sayang," ucap Xander.
"Iya, kamu benar, Dad. Tapi, jika di lihat dari pakaiannya tadi, gadis kecil itu dari kalangan yang berada. Dan kenapa orang tuanya setega itu meninggalkannya di tepi jalan," ucap Jeje, merasa geram dan kesal.
"Entahlah. Kita tinggal menunggu informasi dari orang kepercayaan kita," jelas Xander lagi.
Dan yang lainnya yang ada disana, terdiam sambil menyimak pembicaraan Xander dan Jeje.
"Mom, aku sudah menidurkan Zahra di kamar," ucap Ansel seraya mendudukan diri di samping ibunya, dan merebahkan kepalanya di pundak Jeje dengan manja.
"Ck! Minggirlah, Ans!" kesal Xander, jengah dengan tingkah manja putranya.
"Daddy yang minggir dan diam! Kepalaku pusing sekali, Mom," rajuk Ansel, seraya mengerucutkan bibirnya dan memeluk Jeje dari samping.
Semua oraang yang ada disana, menggeleng pelan lalu membubarkan diri. Termasuk Irene dan Sean yang akan kembali ke Paviliun, namun segera di cegah oleh Jeje.
"Menginaplah disini," mohon Jeje.
Irene mendongak, dan menatap suaminya yang berdiri menjulang tinggi di sampingnya.
"Baiklah, Mom," jawab Sean pada akhirnya, diselingi senyuman, lalu menarik tangan istrinya menuju kamarnya yang sudah sangat ia rindukan.
"Astaga! Sean!! Jangan gempur istrimu terus!" ucap Jeje sedikit berteriak.
"Mommy ingin cucu yang banyak tidak?" seru Sean yang akan menaiki lift. Irene mencubit lengan suaminya dengan gemas, malu mendengar ucapan suaminya yang absurd.
"Ah, tentu saja mau. Ya sudah sana, main sampai pagi, biar cucu-cucuku cepat jadi," jawab Jeje dengan hebohnya.
"Hais!!!" Ansel dan Xander mendesis bersamaan ketika melihat Jeje yang heboh sendiri.
Likenya jangan lupa ya,❤❤