
Demi kalian ya, demi kalian tak belain up🤧🤧
"Kamu masih tidak percaya kepadaku? Oke!" Aiden menggulingkan badannya ke samping Gwen, lalu merogoh kantong celananya, mengambil sesuatu dari dalam sana.
"Oh! My God." Gwen membekap mulutnya, saat Aiden memperlihatkan cincin berlian kepadanya.
"Sekarang kamu percaya?" tanya Aiden, seraya mendudukan diri, lalu menarik tangan kiri Gwen, menyelipkan cincin berlian itu ke jari manis yang lentik itu. Dan ternyata sangat pas.
Gwen masih tergugu dan begitu terkejut, bahkan ia belum sadar jika cincin berlian itu sudah melingkar dijari manisnya.
"Dan kamu sudah resmi menjadi calon istriku! Jadi, jangan pernah macam-macam atau berdekatan dengan pria lain, paham!" Aiden berkata tegas, sembari menuding kening Gwen sedikit keras, sehingga membuat gadis itu tersadar.
"Hei! Apa-apaan ini?!" Gwen ingin melepaskan cincin berlian itu dari jarinya, akan tetapi tidak bisa, cincin tersebut sudah melekat erat dijarinya.
"Bukti kalau kamu sudah menjadi calon istriku." Aiden mengulangi lagi ucapannya.
"What!!! Kamu gila!!" Gwen memukul dada Aiden dengan sangat kuat, seraya melotot tajam ke arah pria tersebut. "Ini bukan lamaran, tapi paksaan. Bagaimana bisa, kamu melamar seorang gadis seperti ini?!"
"Karena aku tidak menerima penolakan!!" jawab Aiden, lalu mulai mengungkung Gwen lagi, kemudian menarik tangan kiri gadis itu dan mengecupnya dengan lembut.
"Ini namanya pemaksaan!" balas Gwen penuh penekanan.
"Dan aku tidak peduli!" Aiden mencubit lembut dagu Gwen, kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya. "Yang penting sekarang, kamu sudah menjadi calon istriku. Kedua orang tuamu dan orang tuaku sudah menyetujuinya," bisik Aiden tepat didepan bibir ranum yang sedikit terbuka itu. Terlihat menggoda dan menggiurkan jika dilewatkan.
Gwen terkejut dan kali ini, ia percaya jika Aiden tidak main-main dengan ucapannya. Belum hilang rasa terkejutnya, kini ia semakin dibuat syok, saat ada benda kenyal mendarat sempurna di bibirnya.
Awalnya hanya sebuah kecupan, tapi kini berubah menjadi sesapan. Aiden menyesap bibir mungil itu atas bawah bergantian dengan penuh kelembutan tentunya.
Gwen pun mulai memejamkan mata, mulai menikmati dan membalas ciuman itu. Jujur, ia sangat merindukan ciuman itu, ciuman yang sangat memabukkan dan membuatnya selalu terbayang.
"Gwen." Aiden berkata lirih, matanya yang berkabut gairah menatap Gwen dengan sayu.
Wajah Gwen terlihat semakin cantik saat terkena cahaya lampu tidur, Aiden semakin terpukau melihatnya. Betapa beruntungnya, ia bisa mendapatkan wanita yang sempurna seperti Gwen Aurora.
"Aku mencintaimu," ungkap Aiden, tatapan matanya masih terpaku pada wajah cantik Gwen.
Gwen terdiam sesaat, dan jantungnya berdetak tidak karuan, saat mendengar ungkapan cinta dari Aiden.
Apakah dia bermimpi? Atau berkhayal?
Ah, Gwen masih tidak mempercayai semua ini.
"Coba cubit tanganku," pinta Gwen, membuat Aiden mengernyit heran.
"Hah? Untuk apa?" tanyanya heran.
"Memastikan jika semua ini, bukanlah mimpi. Oh, tidak, biarkan aku saja yang mencubitmu," ucap Gwen, lalu mencubit lengan kekar yang tengah mengungkungnya.
"Awww! Gwen!!" pekik Aiden, saat merasakan cubitan kepiting dari tunangannya.
Cie .... tunangann. 🤣
"He he hee, kamu merasakan sakit? Berarti aku sedang tidak bermimpi. Sekarang, ungkapkan lagi perasaanmu kepadaku, aku ingin mendengarnya," pinta Gwen, di iringi senyuman bahagia, dan sorot mata yang berbinar.
"Tidak mau!" jawab Aiden, lalu menggulingkan badannya ke samping Gwen, kemudian membelakangi gadis itu.
Gwen cemberut kesal, lalu menusuk-nusuk pundak Aiden. "Aiden, aku ingin mendengarnya lagi."
"Ngantuk!" jawab Aiden dengan ketus, padahal ia sedang menahan tawanya, saat melihat tingkah lucu Gwen.
Maaf kalau ada yang typo, soalnya ngetiknya pake HP,🙏🙏