
Malam harinya dikediaman keluarga Clark.
Jeje dan Xander serta yang lainnya menyambut kedatangan Ayu dengan sangat ramah, kecuali Aiden dan Gwen yang memasang sebal dan tidak suka. Dan Ayu juga sangat terkejut saat melihat Gwen ada disana.
Ya, Ansel siang itu juga membujuk ibunya agar mengijinkan Ayu tinggal dirumah utama selama berada di Jakarta.
Awalnya Jeje agak keberatan namun setelah berhasil diyakinkan oleh Ansel, akhirnya Jeje menyetujuinya. Dan, disinilah saat ini Ayu berada di tengah-tengah keluarga Clark.
Ayu mengendarkan pandangan keseluruh penjuru rumah tersebut, dan sesekali berdecak penuh kekaguman.
"Gila rumahnya besar sekali? Dan sangat mewah," batin Ayu, mengagumi interior rumah tersebut.
"Ayu, kuliah semester berapa?" tanya Jeje, tersenyum lembut menatap Ayu.
"Semester akhir tante," jawab Ayu sopan dan santun, tentu saja hanya topeng belaka.
Dasar ular betina!
"Sudah menyusun skripsi ya. Fakultas apa?" kali ini Fika yang bertanya.
"Iya, Fakultas ekonomi, Tante," jawab Ayu lagi, tersenyum manis.
Semua orang yang ada disana menganggukkan kepalanya berulang kali.
"Kalau boleh tahu, Kirana kemana ya, Tan?" tanya Ayu, sambil celingukan.
"Kirana ada dikamarnya. Dia sedang tidak enak badan, biasalah lagi hamil muda," jawab Jeje, membuat Ayu terkejut.
"Hah?! Sudah hamil? Masa sih? Sepertinya dia hamil diluar nikah ya? Nggak nyangka ya, padahal baru menikah dua minggu lebih," celetuk Ayu, namun beberapa saat kemudian ia membungkam mulutnya sendiri karena lepas kontrol.
Semua orang yang ada disana saling pandang, sambil menggeleng pelan. Termasuk Ansel yang merasa malu dengan tingkah kekasihnya.
"Iya, kami awalnya juga berpikir seperti itu, tapi setelah mendengar penjelasan Dokter kami percaya jika Kirana dan Nathan tidak melakukan hal yang kelewat batas." jelas Jeje dengan sabar, ia merasa ilfeel dengan gadis yang ada dihadapannya itu.
"Haduh, sepertinya aku salah menilai," batin Jeje.
*
*
*
Malam hari semakin malam. Jeje saat ini sedang merebahkan kepalanya didada bidang suaminya, sambil mengelus si pedang sakti terkulai lemas karena yang beberapa saat yang lalu menyemburkan Vla puding.
"Menurutmu kekasih Ansel itu bagaimana?" tanya Jeje kepada suaminya.
"Tanpa menjawab pasti kamu sudah tahu apa yang ada dipikiranku, kan?" jawab Xander, seraya mengelus punggung polos istrinya itu.
Jeje menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu merubah posisi tidurnya menjadi terlentang dan berbantalkan lengan kekar suaminya. "Aku tidak begitu suka, tapi Ansel terlihat sangat mencintai, Ayu. Kita harus bagaimana?" tanya Jeje, sambil menatap langit-langit kamarnya. Bingung dengan tindakan yang akan ia ambil selanjutnya.
"Ya, kita harus meyakinkan Ansel, jika Ayu bukanlah yang terbaik untuknya. Walaupun nanti putra kita tersakiti, tapi itu hanya akan sesaat dari pada dia mendapatkan jodoh yang salah," jelas Xander, memiringkan tubuhnya menghadap kearah Jeje, kemudian ia mulai mengungkung tubuh ramping istrinya lagi.
Jeje menganggukkan kepalanya, setuju dengan perkataan suaminya.
"Eh! Daddy mau apa?" terkejut saat Xander membuka kedua kakinya dengan lebar.
"Menurutmu mau apa?" Xander balik bertanya, seraya memegang pedang pamungkasnya yang menegang lagi lalu menuntunnya masuk kedalam sarung sempit yang selalu membuatnya candu.
"Eumph!" Jeje memekik tertahan, saat pedang pamungkas itu melesak masuk kedalam intinya dengan satu kali hentakkan. Jeje memejamkan matanya dan sesekali desaahan keluar dari mulutnya ketika Xander bergerak teratur diatas tubuhnya.
"Love You, So Much," ungkap Xander disela aktifitasnya yang memabukkan itu. Malam yang dingin itu, pasangan suami istri yang sudah tidak muda lagi itu meluapkan dan mencurahkan rasa kasih sayang dan cinta mereka melalui penyatuan yang sangat mengenakkan itu.
Jangan ngarep sama yang hot-hot ya. Masih siang soalnya🤣🤣
Ayo bestie, emak mau joget💃💃💃
Kasih sawerannya dong🤣