My Hot ART

My Hot ART
S2. Tisu Galon?



Ansel mengetuk-ngetukkan pena di atas meja kerjanya dengan perasaan resah. Sesekali ia melirik jam tangan mewahnya.


Tok ... tok ...


Pintu ruangannya di ketuk dari luar, masuklah Nathan ke dalam ruangan saudara kembarnya sambil membawa berkas di tangannya.


"Ans, pertemuanmu dengan Bu Mega sudah kamu Cancel?" tanya Nathan sambil meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja kerja Ansel.


"Udah!" jawab Ansel singkat, padat dan jelas.


"Hei, kamu kenapa?" Nathan bertanya sambil mendudukkan diri di hadapan meja kerja Ansel.


"Ck! Nggak usah sok nggak tahu!" ketus Ansel dan melemparkan lirikan tajam kepada Nathan.


"Pasti karena Melisa 'kan? Kenapa? Istri masih marah? Dan kamu di suruh tidur di lantai? Ha ha ha." Nathan tertawa terbahak di ujung kalimatnya.


Ansel mendengus kesal, lalu mengambil salah satu berkas dan menggulungnya, kemudian memukulkannya tepat di kepala Nathan.


Bugh ... Bugh ...


Ansel memukul kepala Nathan berulang kali, bukannya merasa kesakitan, saudara kembarnya itu malah semakin tertawa terbahak-bahak.


"Sial!" umpat Ansel menjadi lelah sendiri. Menghentikan aksinya lalu meletakkan berkas yang ia pegang di atas meja dengan kasar.


"Jangan marah kita 'kan brother," ucap Nathan sembari menepuk dadanya sendiri, dan diiringi dengan tawa cekikikan saat melihat wajah masam Ansel.


"Benar kata Oma, kalau kamu itu cucu kurang asam!" balas Ansel, mendengus kesal sambil melirik jam tangannya lagi. "Jam makan siang, aku mau pulang ke rumah. Nggak enak banget di diamkan oleh istri," keluh Ansel.


"Kemarin Sean yang di diamkan sama istri, sekarang kamu. Mungkin karena wajah kalian mirip, jadi kesialan kalian juga sama, ha ha ha ha." Ledek Nathan sambil tertawa tertabak-bahak.


"Sial!" umpat Ansel kepada Nathan.


"Nggak usah pulang. Kan kita ber-empat mau lunch di Restoran X." Nathan mengingatkan.


"Oh iya, aku hampir saja lupa. Tapi, Melisa bagaimana, Othan?" Keluh Ansel, meminta solusi kepada saudaranya itu.


"Kamu 'kan raja gombal, gunakan jurus itu dong biar istri kamu klepek-klepek kayak ikan mujair," jawab Nathan seraya beranjak dari duduknya.


"Sudah nggak mempan," jawab Ansel lesu.


"Nanti aku bantu pikirkan, sekarang kita harus ke Restoran, Aiden dan Sean pasti sudah menunggu," ucap Nathan, dan di angguki oleh Ansel.


Begitulah 4 J selalu menyempatkan waktu di sela kesibukan mereka untuk berkumpul bersama dan melepaskan lelah mereka walau pun hanya sejenak.


*


*


"Lama banget kalian," protes Sean, saat Ansel dan Nathan memasuki ruangan VIP yang sudah di pesan sebelumnya.


"Macet!" jawab Nathan, lalu mendudukkan diri di sofa, di ikuti oleh Ansel.


"Kok belum pesan makanan? Sudah lapar nih," lanjut Nathan, sembari menatap meja yang masih kosong.


"Mau pesan apa? Kita 'kan nunggu kalian datang," jawab Aiden, sambil mematikan bara api di ujung rokoknya di permukaan asbak.


Nathan mengambil buku menu dan memesan menu terbaik di restoran tersebut.


"Itu mukanya kenapa? Kayak jemuran lecek belum di setrika," tanya Sean kepada Nathan, sembari menunjuk Ansel yang duduk dengan lesu.


"Nggak dapat jatah dari istrinya," jawab Aiden lalu tergelak keras, dan di ikuti yang lainnya.


"Kalian senang sekali melihat aku menderita!" kesal Ansel mengerucutkan bibirnya tajam.


"Uluh-uluh, si bontot ngambek, ha ha ha ha," ledek Sean lalu tergelak keras.


"Sial!" umpat Ansel. "Kalian bukannya memberikan solusi malah meledek!" rajuk Ansel sambil menggerakan kedua kakinya dengan kesal.


"Melisa marah kenapa?" tanya Aiden kepada Ansel.


Ansel mendengus, lalu menceritakan akar permasalahannya dengan sangat detail.


"Main api kamu!" Sean berucap sambil menggosok dagunya berulang kali.


"Body, Bu Mega 'kan seperti Ariel tantum, maka dari itu dia langsung terpesona, sampai lupa sama istrinya." Nathan semakin menyulut sumbu amarah Ansel.


"Brengsek kalian semua!" kesal Ansel.


"Nih, aku kasih solusinya," ucap Aiden sambil merogoh kantong celananya. Dan memberikan sesuatu kepada Ansel.


"Wait, apa ini? Tisu galon?" tanya Ansel sembari membolak-balikan kemasan tisu kecil yang ada di tangannya.


"Polos atau Volos?" cibir Sean sambil tergelak keras.


"Itu tisu Mag*c," jawab Aiden, sontak saja Ansel langsung meleparkan benda tersebut kesembarang arah.


"Sial! Kalian pikir, aku sudah impoten apa?!" kesal Ansel dengan raut wajah yang memerah.


Sedangkan Nathan, Sean, dan Aiden tertawa terbahak-bahak, sampai mengeluarkan air mata.


***


Jangan lupa dukungannya❤❤