My Hot ART

My Hot ART
Xander yang bijak



Aiden yang sedang berada dikantor terkejut saat mendapatkan telepon dari ibunya, yang menyuruhnya untuk pulang secepatnya, ditambah lagi suara Jeje terdengar tidak bersahabat. Aiden mengernyitkan kening. Lalu memasukkan ponselnya ke dalam kantong jas-nya. Dan bergegas pulang kerumah.


Aiden memaasuki rumahnya dengan perasaan yang biasa saja, ia tidak merasakan sesuatu yang salah.


"Tuan Muda sudah di tunggu di ruang pribadi Tuan Besar." Salah satu Pelayan berkata dengan sopan kepada Aiden.


Aiden mengangguk pelan, dan berjalan menuju lantai dua dimana ruang pribadi ayahnya. Mengetuk pintu beberapa kali saat akan memasuki ruangan ayahnya. Sampai terdengar sahutan dari dalam ruangan tersebut, barulah ia membuka pintu dan memasuki ruangan tersbeut dengan perlahan. "Daddy dan Mommy ada apa menyuruhku pulang?" tanyanya, ketika sudah berada di hadapan kedua orang tuanya yang menatapnya dengan penuh amarah. Bulu kuduknya berdiri ketika merasakan situasi yang mulai menenggang. Perasaannya mulau gundah, dan sedikit takut. Tapi, ia berfikir, apa salahnya? Sampai-sampai kedua orang tuanya menatapnya dengan penuh mengintimidasi.


"Duduk." Akhirnya setelah beberapa detik terdiam, kini Xander bersuara dengan nada yang tegas dan terdengar sangat mengerikan. Aiden menatap wajah kedua orang tuanya. Jeje memalingkan wajahnya kesal dan penuh kekecewaan saat tatapan matanya berbentur dengan tatapan mata Aiden. Fix! Aiden berpikir jika dirinya sedang menghadapi masalah yang besar, tapi ia tidak tahu apa itu.


"Ada apa, Dad?" Masih terlihat bingung, namun ia juga menetralkan degub jantungnya bertalu-talu bagai genderang perang yang di tabuh.


"Daddy tidak ingin menghajarmu atau pun memarahimu. Kamu sudah dewasa dan sudah tahu mana yang baik dan tidak. Dan segala perbuatan baik atau tidak pasti kamu bisa mempertanggung jawabkannya 'kan. Benar tidak?"


Aiden mengangguk sebagai jawaban, membenarkan perkataan Daddy-nya.


"Tapi, Daddy hanya ingin bertanya, apa yang sudah kamu lakukan kepada Gwen?" Satu pertanyaan yang membuat jantungnya semakin tidak karuan, wajahnya yang terlihat biasa kini berubah pias.


"Well, tidak perlu kamu jawab, karena Daddy sudah tahu jawabannya." Xander menyatukan kedua tangannya diatas meja, menatap putranya dengan datar, namun mampu menusuk sampai ke jantung putranya. Aiden menundukkan kepalanya, merasa takut dengan sorot mata itu.


"Maaf, Dad." Hanya mengucapkan kata maaf, tanpa menyebutkan apa kesalahannya.


"Tidak kah kamu bisa menahannya sedikit lagi? Sampai harus merusaknya?" Kali ini Jeje yang bersuara dan menatap penuh kekecewaaan.


"Sudah tidak perlu banyak bicara lagi! Kamu harus bertanggung jawab atas semua perbuatanmu!" tegas Jeje, sambil menghapus air matanya yang menetes tanpa diminta.


"Gwen hamil, Ai. Apa kamu sudah gila? Melakukannya disaat Gwen masih duduk di bangku sekolah?" desis Xander.


Ya ... sebelumnya Arjuna sudah menghubungi Xander dan Jeje memberitahukan hal tersebut, sontak saja mendengar hal tersebut membuat Jeje hampir pingsan. Namun, Xander segera menenangkannya.


Deg


Jantung Aiden sudah ingin loncat dari tempatnya karena sangat terkejut, ia terdiam bagai patung, tenggorokkannya mendadak seret. Perasaannya campur aduk tidak karuan yang ia rasakan saat ini. Tidak menyangka jika perbuatannya ternyata membuahkan hasil.


"Mommy ingin sekali menampar wajahmu dan memukulmu hingga babak belur, tapi bersyukurlah karena Daddy mencegahku agar tidak melukai fisikmu! Kamu sudah membuat malu keluarga kita Aiden. Kami yang percaya, jika kamu bisa menjaga Gwen ternyata salah. Kami kecolongan dan akhirnya seperti ini." Jeje berbicara panjang lebar, meluapkan rasa kecewa kepada putranya.


"Mom, maafkan aku," ucap Aiden penuh rasa bersalah.


"Sudah! Mau di bahas sampai di ujung dunia pun tidak akan pernah membalikkan keadaan!" tegas Xander. "Kita ke rumah keluarga Emanuel sekarang, tapi bersiaplah jika nanti kamu mendapat hukuman dari Arjuna atau Opa Bodan," lanjut Xander.


**


Stttt.. Jangan emosi. Calm Down, wokayy. 😆


Jangan lupa ramaika karya baru emak yang berjudul Menggenggam rindu (Sebuah penantian) 😘😘