
WARNING YA WARNING!!
Udah ditulis segede itu, tahu 'kan artinya apa?π
Sedangkan yang sedang dibicarakan diruang makan, kini sedang berpelukan diatas tempat tidur.
"Aku panggil Dokter ya, Dek," tawar Nathan yang sudah kesekian kalinya, namun istrinya itu selalu menolak.
"Nggak, Mas. Aku sudah lebih baik jika berada didekatmu," jawab Kirana, sembari mengeratkan pelukkannya.
"Tapi, wajah kamu pucat banget loh. Aku itu khawatir sama kamu. Dari tadi subuh mual terus dan sekarang tidak ada makanan sedikitpun yang masuk kedalam perutmu," ucap Nathan menahan rasa kesal didalam hatinya.
"Aku yakin banget deh, kalau kamu ini keracunan makanan," lanjut Nathan, sambil mengusap pipi istrinya dengan sangat lembut.
"Keracunan makanan apa? Aku tidak pernah jajan sembarangan dan juga makananku selalu terjaga," jawab Kirana. Ia mendudukan badannya dan baru teringat suatu hal.
"Mas, bisa ngerokin nggak?" tanya Kirana, membuat Nathan mengerutkan keningnya.
"Ngerokin itu apa?"
"Itu loh yang punggungnya dikerok sama koin," jelas Kirana, lalu beranjak dari atas tempat tidur. Ia mengambil minyak telon dan juga uang koin kemudian menyerahkannya kepada Nathan.
"Aku nggak tahu caranya, Dek." Nathan menatap bingung dua benda yang ada ditangannya itu.
Kirana membuka dress-nya dihadapan Nathan membuat jangkun pria tersebut naik turun tidak beraturan. "Kamu nggak lagi menggodaku 'kan?" Nathan ingin meremat dua bulatan kenyal yang terpampang dihadapannya dan tidak terbungkus kain itu, namun tangannya ditepis oleh Kirana.
"Ish, ditahan dulu apa! Istrimu lagi sakit nih!" Kirana memanyukan bibirnya kesal, lalu duduk memunggungi suaminya.
Nathan menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.
Tahan ini ujian! Ya, elah. Kenapa harua bangun disaat yang tidak tepat? Batin Nathan kesal, menundukkan kepala dan menoel pedang saktinya yang menonjol dibalik boxer berwarna hitam itu. π€£
"Mas, cepat dikerokin," ucap Kirana tidak sabaran.
Glek
Nathan menelan ludahnya kasar saat menatap punggung mulus istrinya itu penuh minat.
"Lebih keras lagi, Mas," pinta Kirana, memejamkan matanya menikmati pijatan dari suaminya.
Cup
"Mas!" desaah Kirana saat kedua tangan Nathan meremat bukit kembarnya bergantian dan suaminya itu mengendus dan menyesap leher jenjangnya hingga meninggalkan jejak kemerahan.
"Gimana enak 'kan?" tanya Nathan yang tangannya masih meremat dua bulatan kenyal itu.
Kirana menganggukkan kepalanya pelan, seraya menikmati kelakuan nakal suaminya. Ia tidak mampu menolak aktifitas yang mengenakkan itu. Karena dirinya sudah tersulut api gairah dan menginginkan hal yang lebih.
"Ahh, shh." Kirana mendesis seperti ular saat pucuk dadanya dipilin suaminya dengan gemas, salah satu tangan kekar itu merambat turun dan berhenti dibawah pusarnya.
"Kenapa sayang?" tanya Nathan dengan suara seraknya, lalu menggigit cuping telinga istrinya dengan lembut.
"Enak banget, Mas," racau Kirana, sambil membuka kedua kakinya dengan lebar saat jari-jari nakal suaminya bermain dibagian intinya.
"Mau lebih enak lagi?"
"Yeahhh .... Ahhh," jawab Kirana disela desaahannya. Ia menarik tangan Nathan yang masih keluar masuk didalam intinya, lalu membalikkan badannya berhadapan dengan suaminya.
Mata keduanya saling bertatap sayu, menandakan keduanya sudah sangat bergairah. Kirana menarik tengkuk Nathan lalu mencium, melumaat dan menyesap bibir suaminya dengan sangat rakus. Begitu pula dengan Nathan membalas ciuman istrinya tidak kalah rakusnya, lalu ia melepaskan boxernya tanpa melepaskan ciumannya itu.
Kemudian ....
Bersambung.....
π€£π€£π€£π€£
Udah panas digantung lagi, maafkan saya yang solehah iniπ€£π€£π€£π
Up besok lagi ya. Besok crazy up 6 bab sehari.
Jadi dukung karya Emak, biar makin semangat!