My Hot ART

My Hot ART
Harus di segerakan!



Ansel dan Melisa keluar dari dalam kamar dengan tergesa.


Zahra menatap dua orang dewasa itu dengan mata yang menyipit dan menyilangkan kedua tangan di dada. "Kalian kenapa berkeringat seperti itu? Bukankah udaranya sejuk? Dan apakah main congklak bisa menghasilkan keringat sebanyak itu?!" Zahra bukan bertanya, namun lebih tepatnya mengintimidasi dua orang tersebut.


Melisa mengusap keringat di kening dan lehernya, begitu juga Ansel melakukan hal yang sama. Wajah mereka tampak pias, ketika mendapat rentetan pertanyaan yang mengintimidasi mereka. Segera mungkin, mereka harus memberikan alasan yang tepat, agar tidak membuat gadis kecil itu curiga.


"Oh, ini bukan keringat, tadi Om dan Mama kamu sedang bermain air di dalam kamar," jawab Ansel, langsung mendapatkan cubitan dari Melisa.


Yang benar saja memberikan alasan yang tidak masuk akal seperti itu. Pikir Melisa.


"Ya ampun. Air nya sudah masuk ke dalam rumah!" pekik Melisa ketika melihat ruang tamu sudah di genangi air setinggi 10 cm. Sekaligus untuk mengalihkan perhatian Zahra.


"Ah, iya. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ansel, sambil menatap wajah Melisa.


"Tidak ada, hanya berharap jika hujannya cepat reda," jawab Melisa.


Ansel melipat celana panjangnya setinggi betis, lalu berjalan menuju ruang tamu yang sudah di genangi air dan menatap keluar dari jendela. Memperhatikan setengah ban mobilnya yang sudah terendam banjir.


"Hujannya masih deras sekali, kemungkinan banjir akan bertambah tinggi," gumam Ansel. Lalu berjalan menghampiri Melisa dan Zahra.


"Lebih baik kita segera mengungsi, karena aku yakin jika banjirnya akan bertambah naik," usul Ansel.


"Bagaimana? Aku akan menyewakan hotel untuk kalian," ucap Ansel sambil menatap Melisa.


"Tidak!" jawab Melisa dengan tegas, karena ia yakin jika Ansel akan mengambil kesempatan dalam kesempitan. "Aku yakin kalau hujan sebentar lagi akan reda, lebih baik kamu bersihkan diri kamu dulu," ucap Melisa kepada Ansel.


Melisa beranjak menuju kamarnya, mengambilkan handuk baru untuk Ansel.


Ansel menuju kamar mandi, setelah menerima handuk tersebut. Membersihkan tubuhnya dari sisa keringat percintaan mereka. Ansel, tersenyum sendiri saat mengingat adegan panas yang beberapa saat yang lalu terjadi.


Ansel menoel Si Jono yang mengkerut dan gondal-gandul di bawah sana. "Jon, kamu sudah nggak suci lagi, tapi aku bangga sama kamu yang kuat sampai 1 jam," ucap Ansel terkekeh geli sendiri.


Setelah selesai mandi, Ansel memakai pakaian yang sebelumnya, karena tidak ada baju ganti disana.


"Sekarang giliran Zahra yang mandi," ucap Melisa saat melihat Ansel sudah keluar dari dalam kamar mandi terlihat lebih segar dan sangat .... tampan.


"Baiklah, Mama yang cantik," ucap Zahra, lalu mengecup pipi ibunya bergantian. Kini gantian Melisa dan Zahra yang mandi.


*


*


*


"Kenapa tidak pindah. Jika setiap hujan seperti ini terus apa tidak lelah?" tanya Ansel, sambil mengepel lantai.


"Mau pindah kemana? Aku masih bersyukur punya tempat tinggal Ans," ucap Melisa.


"Kalau kita sudah menikah nanti, kamu harus pindah dari sini dan tinggal di rumah utama," ucap Ansel tidak ingin di bantah.


"Ans, apakah kamu serius dengan ucapanmu itu? Maaf bukannya meragukanmu, tapi keluargamu apakah akan menerima ku?" tanya Melisa dengan nada pelan.


"Mereka orang baik, Mel. Mereka pasti akan menerimamu apa adanya. Jangan khawatirkan itu," ucap Ansel seraya tersenyum meyakinkan.


Melisa mengangguk pelan, sebagai jawaban.


Selesai membereskan rumah. Ansel berpamitan pulang karena banjir sudah surut.


"Bye, Om Tampan, nanti main kesini lagi ya," ucap Zahra setelah bersalaman dan mencium kedua pipi Ansel.


"Tentu saja, Sayang," jawab Ansel seraya mengusap pucuk kepala Zahra dengan kasih sayang.


Melisa tersenyum melihat interaksi keduanya. Ada rasa hangat yang menjalar ke relung hatinya.


"Aku pulang dulu, Mel." pamit Ansel.


"Iya." Melisa mengantarkan Ansel sampai di teras rumahnya.


Ansel tersenyum menatap Melisa sebelum masuk ke dalam mobilnya. "Besok aku akan datang tidak sendiri, aku akan membawa kedua orang tuaku kesini," ucap Ansel, menatap wajah Melisa dengan lembut.


"Secepat itu kah?" Melisa terkejut mendengarnya.


"Harus di segerakan, Mel, karena kita sudah melakukannya," jawab Ansel, seraya menarik pinggang Melisa dengan cepat kemudian mengecup bibir Melias sekilas.


"Ans!" kesal Melisa, sambil memperhatikan sekitar rumahnya, takut ada yang melihat.


Ansel tersenyum saja menanggapinya, lalu melepaskan pinggang Melisa dan segera memasuki mobilnya. Melambaikan tangannya berulangkali saat akan menjalankan mobilnya.


Niat baik, harus di segerakan ya Ans, takutnya tekdung lebih dulu,, biasa bahaya nanti🤭🤭