
Aiden menatap Gwen dengan tajam, dan terpaksa ia mengancingkan seragam Gwen dengan tangan yang bergetar.
Sial! Umpat Aiden saat tangannya semakin terasa bergetar, dan jantungnya berdetak tidak karuan ditambah lagi belahan dada putih Gwen terpampang nyata didepan matanya, membuat perasaannya semakin tidak karuan, bahkan ia sampai menahan nafas.
"Bisa nggak sih? Masa mengancingkan seragam saja lama banget!" gerutu Gwen, lalu menepis tangan Aiden, dan mengancingkan sendiri seragamnya itu.
Setelah itu, ia berjalan masuk kedalam restoran tersebut, meninggalkan Aiden yang masih berdiri mematung.
Gwen tersenyum puas, karena berhasil membuat pria dingin itu mati gaya.
Kena kau! Sekarang, aku tahu bagaimana caranya menghadapimu, Tuan Batu Es! Batin Gwen, tersenyum miring.
Aiden mengusap keringat yang membasahi dahinya dengan kasar, berhadapan dengan Gwen selain membuatnya naik darah tapi juga bisa membuat tubuhnya panas dingin seperti yang ia rasakan saat ini.
"Aku dikerjai lagi! Dasar gadis bau kencur!" umpat Aiden, lalu berjalan mengikuti Gwen masuk kedalam restoran cepat saji tersebut.
*
*
*
Aiden terkesiap saat melihat Gwen memesan banyak makanan.
"Kamu yakin akan menghabiskannya?" tanya Aiden, seraya menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tentu saja tidak! Karena ada Om yang membantu menghabiskannya," jawab Gwen dengan entengnya, sambil memperlihatkan senyuman manisnya.
Aiden menggeram kesal saat mendengar perkataan Gwen. Ia sangat menjauhi makanan cepat saji yang menurutnya tidak sehat itu.
"Aku tidak biasa makan makanan murahan seperti ini!" ucap Aiden, sembari menatap Burger, spaghetti, ayam goreng krispi, Cream soup, cream puff dan ada beberapa makanan lainnya lagi yang tersaji diatas meja itu.
Astaga! Melihatnya saja sudah membuatku mual! batin Aiden kesal.
"Bukan urusanku, Om mau suka atau tidak!" jawab Gwen, lalu mulai memakan ayam goreng krispi dengan penuh semangat.
Aiden menggeleng seraya memalingkan wajahnya, matanya mengendar kesetiap sudut restoran tersebut. Ada beberapa para gadis yang duduk tidak jauh dari mejanya, mereka menatap dirinya dengan kagum, namun Aiden bersikap cuek saja lalu menatap Gwen kembali.
Aiden menyunggingkan senyumannya saat melihat Gwen begitu rakus memakan makan siangnya.
"Apa kamu tidak takut gendut?" tanya Aiden.
Gwen menggeleng sebagai jawaban, karena mulutnya saat ini penuh dengan makanan.
"Om mau?" Gwen menyodorkan burger kedepan mulut Aiden.
"Nggak!" jawab Aiden, seraya mendorong tangan Gwen.
"Coba dikit saja, enak kok" ucap Gwen lagi dengan paksa.
"Nggak Gwen!!!" tegas Aiden lagi, seraya melotot tajam.
"Ih!! Om nyebelin!!" pekik Gwen lalu cemberut kesal, dan memakan burger itu dengan rakus.
Suara pekikan Gwen yang lumayan keras membuat para pengunjung restoran tersebut menatap kearah Aiden, dan berprasangka buruk tentang Aiden dan Gwen.
"Tuh bocah juga gatel banget masih kecil saja mau jadi sugar baby!" celetuk yang lainnya.
Gwen dan Aiden memejamkan matanya dengan erat. Keduanya itu merasa kesal dan marah saat mendengar perkataan pedas dari para ibu-ibu yang suka ghibah.
Gwen menoleh dan menatap tajam para ibu-ibu yang duduk di disebelah kiri mejanya.
"Bilang saja kalian iri! Lihat Daddy ku sangat tampan, single, dan kaya raya! Toh, kita juga saling mencintai!! Ya 'kan Dad?" tanya Gwen kepada Aiden.
Gwen mengerlingkan matanya, sebagai tanda jika Aiden harus berkata 'iya'.
Aiden memijat pangkal hidungnya sebelum menjawab pertanyaan Gwen yang menyudutkannya. Kepalanya berdenyut nyeri, ingin sekali ia meratakan restoran rata dengan tanah dan juga ingin membekap mulut gadis bar-bar itu.
"Iya!" jawab Aiden pada akhirnya, namun dengan malas.
"Tuh, kalian dengar kalau kita saling mencintai!" ucap Gwen sangat kesal.
Dan ibu-ibu itupun langsung diam tidak bersuara.
Aiden beranjak dari duduknya, dan menarik tangan Gwen, keluar dari restoran tersebut.
"Tunggu, Om! Aku belum selesai makan!" seru Gwen, saat dirinya ditarik paksa oleh Aiden.
"MASUK!" titah Aiden dengan dingin dan menatap tajam gadis tersebut sambil membuka pintu mobil untuk Gwen.
"Nggak usah bentak juga kali!" Gwen balik menatap tajam Aiden tanpa rasa takut sedikit pun, lalu segera masuk kedalam mobil tersebut dan di ikuti oleh Aiden.
*
*
"Punya otak nggak sih kamu itu!" bentak Aiden, sambil menuding dahi Gwen, tanpa memperdulikan perasaan gadis itu.
Gwen menepis tangan Aiden dengan kasar, dan memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.
"Aku memang salah, karena membenarkan perkataan ibu-ibu itu. Niatku 'kan hanya ingin membela diri!" balas Gwen, tanpa menatap Aiden.
"Kenapa harus memanggilku dengan sebutan Om? Mereka jadi salah sangka!" ucap Aiden lagi dengan nada datar dan dingin, seraya menyugar rambutnya dengan kasar.
"Karena kau itu tua dan pantas dipanggil Om! Puas!!!" jawab Gwen lantang, dan menatap Aiden dengan mata yang berkaca-kaca.
Eh!
Aiden terkejut saat melihat Gwen menangis. Namun Aiden tidak memperdulikannya, lalu segera melanjutkan perjalanannya yang tertunda.
Dan tidak berselang lama, mobil yang dikendarai Aiden sampai tujuan dengan selamat. Keduanya keluar dari dalam mobil dan memasuki perusahaan WG bersamaan.
Hai, hari ini udah up 5 bab ya, seperti biasa Emak minta dukungan dari kalian. Biar Emak makin semangat dan besok bisa up banyak lagi.
Emak juga makasih banget udah setiap baca karya Emak yang satu ini dari awal sampai detik ini. Emak love banget sama kalian. Semoga dimana pun kalian berada sehat selalu dan dilancarkan rejekinya. Amin🙏🙏🙏
Ketemu lagi besok ya, love sekebun cabe buat kalian semua❤❤❤❤