
Perjalanan jauh mereka di mulai di pagi hari itu. Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan kota menuju Tol Cikampek.
Oborolan ringan dan canda tawa di antara keduanya mengiri perjalanan mereka agar tidak membosankan.
Situasi jalan Tol tersebut senggang tidak terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang, hanya ada beberapa truk tronton, mobil box dan mobil pribadi yang melintasi jalan Tol tersebut.
"Apa kamu sudah lelah?" tanya Kirana, menoleh ke arah Nathan yang terlihat fokus menyetir mobil.
Entah kenapa pria itu terlihat semakin tampan jika sedang serius seperti itu.
"Belum," jawab Nathan, menoleh ke samping sesaat.
"Sebentar lagi kita sampai di Indramayu, kita istirahat di Rest Area sana," usul Kirana, dan di angguki Nathan.
"Tentu, Sayang. Apa kamu merasa lelah? Atau bosan?" Nathan balik bertanya.
"Sedikit," jawab Kirana, seraya menggigit bibir bawahnya sambil menggerakkan bokongnya dengan gelisah. Wajahnya menjadi pias, saat merasakan sesuatu yang keluar dari daerah sensitifnya.
Kenapa datang lebih awal sih? Batin Kirana, ingin menangis histeris.
"Ada apa kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya Nathan, merasa jika Kirana menyembunyikan sesuatu darinya.
"Em itu anu ...." Kiraan merasa enggan untuk mengatakan kepada Nathan, dia merasa malu.
"Ada apa? Jangan membuatku khawatir."
"Aku sepertinya kedatangan tamu bulanan," cicit Kirana, sambil meremat kedua tangannya bergantian dan wajahnya bersemu merah, karena ia harus mengalami hal memalukan seperti ini di depan Nathan.
"Apa?!" Nathan terkejut mendengarkan ucapan Kirana. Ia mengusap wajahnya dengan tangan kirinya.
Sebagai pria dewasa tentu saja dia tahu tentang hal yang berbau sensitif tersebut.
"Bisakah di tahan dulu?" tanya Nathan.
"Apanya yang di tahan?" Wajah Kirana semakin merah seperti kepiting rebus.
"Ya itunya," jawab Nathan, absurd sambil menunjuk sela paha Kirana.
Plak
Kirana memukul tangan Nathan dengan kuat. "Dasar tidak sopan!!" ketus Kirana, menatap tajam kekasihnya.
"Bekal apa? Kalau nasi aku bawa, tuh di jok belakang," jawab Kirana, sambil menunjuk tasnya yang tergeletak di jok belakang.
"Bukan bekal nasi, tapi bekal penyumbat selai stroberry," jawab Nathan ambigu, membuat Kirana pusing tujuh keliling karena tidak mengerti maksud ucapan Nathan.
Melihat Kirana yang terlihat bingung, Nathan pun membuka suara.
"Itu, pem•balut," ucap Nathan pelan, seraya memalingkan wajahnya kesamping kanan. Dia juga merasa malu menyebutkan nama benda tersebut.
Wajah Kirana kembali merona saat mendengarkan ucapan Nathan. "Nah, itu aku tidak membawanya," cicit Kirana.
"Huh!" Nathan terdengar menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Sabar ya, sebentar lagi kita sampai di Rest Area," ucap Nathan, pada akhirnya dan menambah kecepatan mobilnya.
"Iya," jawab Kirana pelan.
*
*
*
Mobil Nathan terparkir rapi di depan Rumah makan yang ada di kota Indramayu. Nathan mematikan mesin mobilnya dan bersiap keluar dari dalam mobil namun tangannya di cekal oleh Kirana.
"Ada apa?" tanya Nathan, menoleh ke arah Kirana.
"Belikan penyumbat untukku, Sayang," pinta Kirana, dengan nada memohon dan wajah yang memelas.
Nathan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, dan menelan ludahnya dengan kasar. Sungguh pengalaman hidup yang sangat membagongkan yang pernah ia jalani.
"Baiklah! Tapi, kamu harus membayar semua ini!" jawab Nathan.
"Ih! Dasar perhitungan! Katanya cinta!!" sungut Kirana, melepaskan tangan Nathan dengan kasar.
"Cinta dong, cinta banget malahan tapi di dunia ini tidak ada yang gratis sayang!" Nathan tersenyum licik saat mengucapkannya.
"Kenapa aku merasa kalau ucapanmu itu mengandung kemesuman yang hakiki?!"
Nathan tergelak ketika mendengar kekesalan kekasihnya, lalu ia segera keluar dari dalam mobil dan mencari benda yang di butuhkan kekasihnya.