My Hot ART

My Hot ART
Pingsan?



Irene bedecak kesal, saat sambungan teleponnya diputus secara sepihak. Ia menatap layar ponselnya, kemudian menghubungi Sean lagi namun ponsel kekasihnya sudah tidak aktif.


"Sean! Kamu kemana sih?!" Berbagai prasangka buruk mulai melintas dikepalanya, namun ia dengan cepat menepisnya. Mencoba untuk tetap tenang dan meyakinkan hatinya agar memberi kepercayaan kepada Sean.


"Huh!" Satu helaan nafas keluar dari mulutnya, dan segera beranjak saat menyadari paviliun tersebut sangat berantakan.


"Dari pada mikir yang macam-macam, lebih baik membersihkan tempat ini. Ya, ampun, Sean, kamu jorok banget!" Irene menggerutu sembari melangkah kan kakinya kedapur untuk mengambil sapu dan mulai membersihkan paviliun tersebut.


*


*


Sedangkan dirumah utama, Aiden menyeringai licik saat melihat Gwen baru keluar dari kamar mandi. Ia bersembunyi didekat tangga, karena kebetulan kamar mandi yang dipakai Gwen ada didekat sana.


"Huh, lega," gumam Gwen, sambil mengelus perutnya. Kemudian ia berjalan menuju halaman rumah, namun langkahnya terhenti saat merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia menoleh kebelakang dan menatap sekelilingnya namun tidak ada siapapun disana, karena sebagian pelayan ada di halaman belakang dan sebagiannya lagi sudah beristirahat, mengingat hari sudah malam.


"Nggak ada siapa pun, tapi kenapa kayak ada yang merhatiin aku ya?" gumamnya sembari mengusap tengkuknya yang terasa merinding. Kemudian ia melanjutkan langkahnya. Akan tetapi, baru akan melangkahkan kakinya, ia dikejutkan oleh makhluk yang memakai pakaian serba putih, berwajah seram, dan berambut panjang berdiri dihadapannya.


"Huwaaaaa!!" teriak Gwen, lalu menangkup wajahnya dengan kedua tanganya, ia sangat ketakutan. "Mama, Gwen takut," lirihnya, karena ia memang takut dengan sejenis makhluk halus.


"Gwennn." Panggil makhluk tersebut terdengar lirih namun sangat menakutkan.


Tubuh Gwen semakin bergetar takut, ditambah lagi kedua kakinya mendadak kaku dan tidak bisa untuk berjalan.


"Please, jangan ngganggu aku. Pahit .... Pahit ... Pahit .... Pergi sana," ucap Gwen bergetar, dan masih menangkup kedua matanya.


Makhluk tersebut semakin mendekati Gwen, lalu menyetuh bahu Gwen dengan pelan, membuat gadis itu mengintip dari sela jarinya. Matanya membulat lalu berteriak histeris hingga akhirnya tidak sadarkan diri.


Tubuh Gwen tergeletak diatas lantai, makhluk tersebut langsung membuka topeng, wig dan juga jubah warna putih yang ia kenakan.


"Ya, pingsan!" ucapnya sambil menggoyangkan kaki Gwen dengan kakinya.


"Gwen! Bangun! Kamu pingsan beneran atau bohongan?" ucap Aiden yang menyamar menjadi kuntilanak.


Tidak ada pergerakan dari Gwen, membuat Aiden menjadi sangat cemas.


"Ah, sepertinya pingsan beneran deh. Mati aku bisa digantung sama Bang Juna dan Om Nue," ucap Aiden cemas, kemudian ia membuang jubah, topeng, dan juga wig tersebut ketempat sampah. Setelah itu, ia menghampiri Gwen lagi.


Aiden berjongkok lalu menggoyangkan bahu Gwen sedikit keras. "Gwen! Kamu 'kan jagoan, masa pingsan sih? Gwen jangan bikin aku takut!" ucap Aiden lagi, namun tetap tidak ada pergerakan dari Gwen.


Karena takut jika ada yang melihatnya, ia pun segera mengangkat tubuh Gwen dan membawa kekamarnya.


Aiden meletakkan tubuh Gwen secara perlahan diatas tempat tidurnya. Aiden menatap wajah cantik Gwen yang terlihat sempurna jika dilihat dari dekat. Bulu mata lentik, hidung, mancung dan bibir mungil yang sangat ranum, membuatnya terdiam sesaat menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang ada dihadapannya ini. Dan ia merasakan getaran aneh didalam dadanya. Namun ia segera menggeleng pelan, agar tersadar, lalu menegakkan badannya.


"Bagaimana caranya aku membangunkannya dari pingsan?" gumam Aiden, seraya menggaruk kepalanya dengan kasar.


Iseng banget sih Bang?🤣🤣


Dadanya mulai berdetak tidak karuan ya Bang? Tandanya apa ya?🤣


Jangan lupa kasih Saweran buat Aiden dan Gwen❤❤