
Dering suara ponsel, membuat pasangan yang tidur berpelukan dibalik selimut tebal itu terkejut. Sang pria melonggarkan pelukannya dari tubuh istrinya. Kemudian, meraih ponselnya yang terletak di atas nakas.
"Siapa, Se?" tanya Irene, sembari mengeratkan pelukannya di perut Sean.
"Aiden," jawab Sean seraya menyipitkan matanya, saat menatap layar ponselnya. Lalu mengangkat telepon dari Aiden.
"Ada apa?" tanya Sean, sembari menyusut setiap sudut matanya.
"Mainnya nanti malam lagi kata Mommy, sekarang sudah waktunya makan malam," ucap Aiden.
Sean menjauhkan ponselnya, lalu menatap jam yang ada disudut kiri layar ponselnya itu. Ternyata sudah jam 7 malam. Kemudian, ia menempelkan ponselnya lagi ketelinganya.
"Katakan kepada Mommy, makan malam gue dan Irene bawa ke kamar saja," jawab Sean, lalu di sambut sorakan di ujung telepon sana, membuat Sean berdecak kesal karena Aiden sengaja mengaktifkan pengeras suara.
"Bagaimana rasanya? Enak nggak?" tanya Aiden.
"Enak banget dong, muantep banget! Cobain deh sama Gwen!" kesal Sean lalu menutup panggilan teleponnya secara sepihak. Kesal karena terus diledek saudara kembarnya.
Sedangkan Aiden yang ada di restoran di hotel tersebut cemberut kesal, sambil memasukan ponselnya kedalam kantong celanannya.
Sedangkan yang lain, hanya berdehem saja. Karena mereka mendengar ucapan Sean. Fika segera menarik putrinya dari dekat Aiden, takut di mangsa.🤣
"Sabar beberapa bulan lagi, Gwen sudah lulus kok," ucap Xander sekaligus meledek putranya.
Aiden hanya berdecak kesal, sembari menyesap kopinya.
*
*
*
Disudut lain, Ansel sedang berbicara dengan seorang wanita. "Mau kamu apa, hah!" Ansel berkata penuh emosi.
Ansel mengusap wajahnya dengan kasar, seraya mengeraskan rahangnya. "Berapa yang kamu butuhkan? Aku tidak mau berhubungan dengan wanita sinting kayak kamu!"
"Ya ampun, Ans! Serendah itu kamu menilai aku?" ucapnya dan memasang wajah sedih. Walaupun, ia membutuhkan uang akan tetapi ia tidak akan mudah untuk menyerah begitu saja, karena mendapatkan Ansel lebih dari segala-galanya, dan ia akan mempunyai ATM berjalan.
"Nggak usah munafik, Yu!!" sentak Ansel, sudah merasa muak dengan wanita yang duduk berseberangan dengannya itu.
"Ih, kok kamu jahat banget sama aku? Hikss ..." Sengaja menangis agar orang disekitarnya bersimpati kepadanya.
Ansel menatap sekitarnya, dimana orang-orang menatapnya dengan rasa kesal. Mereka berfikir, jika dia telah menyakiti perasaan Ayu.
"Aku tidak peduli, walaupun kamu nangis darah sekali pun!" Ucapan Ansel terdengar sangat sadis dan tidak berperasaan, akan tetapi Ansel tidak memperdulikannya.
"Tega kamu, Ans!"
"Disini yang tega siapa? Kamu atau aku!! Hah!" Ansel mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan Video beberapa waktu yang lalu, kepada Ayu.
"Lihat dan buka mata kamu!" sentak Ansel.
Mulut Ayu mengang lebar, kemudian segera membekapnya dengan telapak tangan. "Bagaimana bisa?" tanya Ayu gugup dan wajahnya berubah pias.
"Dirumahku penuh dengan CCTV , jadi kamu tidak bisa mengelak lagi! Apa kamu berfikir, aku mau kembali dengan wanita sepertimu?!"
"Kamu mencintai aku Ans! Bukankah begitu? Bukankah yang namanya cinta itu harus bisa memaafkan? Dan di video itu aku memang salah, dan saat ini aku sudah menyadari kesalahanku, bukankah kamu harus memaafkan aku?" terang Ayu dengan tidak tahu malu, dan sangat percaya diri.
Ansel tersenyum sinis ketika mendengar perkataan Ayu yang membuatnya geleng-geleng kepala.
"Apa kamu lupa jika aku ini adalah Jansel Clark, pria tampan, kaya, dan sangat sukses? Hanya dengan menjentikan jariku saja, aku bisa mendapatkan wanita manapun! Dan wanita seperti kamu tidak ada artinya sama sekali untukku!" balas Ansel dengan santai, namun terdengar datar dan sangat dingin.
Bagus Ansel, hempaskan Yuyu kangkang!😈
Sawer mana sawerannya?💃