My Hot ART

My Hot ART
Diatas tempat tidur itu ... ?



Malam semakin larut, seorang gadis cantik meringkuk diatas tempat tidur tanpa menggunakan selimut. Sepertinya gadis itu kedinginan. Tidak berselang lama ada sebuah tangan kekar yang melingkar erat dipinggang gadis itu dan menarik tubuh ramping itu semakin mendekat kearahnya, hingga keduanya tidak berjarak sama sekali.


"Eumh." Gadis itu melenguh dalam tidur, dan menggeliat pelan seraya membenamkan wajahnya kedada bidang yang ada dihadapannya.


Ya, gadis itu adalah Gwen dan sang pria adalah Aiden, yang datang seperti pencuri dan memeluk tubuh Gwen saat gadis itu sudah terlelap, dan akan pergi dari kamar itu sebelum semua orang dirumah tersebut terbangun.


"Tidur yang nyenyak," gumamnya lalu mengecup kening Gwen dengan sangat lembut. Lalu ia sendiri pun mulai memejamkan mata, sambil memeluk gadis tu dengan erat.


*


*


*


Gwen merasa sesak dalam tidurnya dan juga kesulitan untuk bergerak. Ia perlahan membuka kedua matanya, dan hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang seorang pria, dan tercium aroma maskulin yang sangat dikenalnya. Ia menurunkan padangannya, dimana tangan kekar itu melingkar dipinggang rampingnya.


"Aku pasti bermimpi," gumam Gwen, lalu mendongak dan menatap wajah tampan ada didekatnya. Ia membekap mulutnya dengan telapak tangannya, karena sangat terkejut. "Ini pasti mimpi, seperti malam yang sebelumnya."


Jari-jari lentiknya terulur untuk menyentuh wajah tampan itu, dari mulai alis, hidung dan terakhir jarinya menyentuh dan membelai bibir tebal yang sexy itu. Bibir yang telah mengambil ciuman pertamanya dan juga telah mencumbu tubuhnya dan memberikannya kenikmatan.


"Ini nyata," gumam Gwen, sembari menatap jari-jari tangannya yang begitu terasa menyentuh wajah tampan dan rupawan itu.


"Ini memang nyata!" jawab Aiden dengan suara seraknya, matanya perlahan terbuka. Tatapan keduanya bertemu dan saling mengunci.


Aiden sudah bangun sejak tadi saat ia merasakan Gwen menggeliat di dalam pelukannya.


"Iya, malam-malam yang sebelumnya itu benar. Aku selalu tidur disampingmu sepanjang malam," jawab Aiden datar.


Gwen menatap nanar Aiden dan penuh kesakitan. Kenapa pria yang ada dihadapannya ini seolah mempermainkan perasaannya. Gwen menyentak tangan Aiden yang masih berada dipinggang rampingnya, lalu segera mendudukan diri.


Aiden pun ikut mendudukan diri, lalu menatap Gwen yang terlihat menundukan wajah. "Jangan menangis," ucap Aiden, lalu merangkuh pundak Gwen dengan lembut.


"Aku penasaran dengan isi hatimu! Untuk apa kamu melakukan semua ini? Apa kamu sengaja menarik ulur hati dan perasaanku?! Iya!!!!" sentak Gwen lalu melepaskan tangan Aiden yang ada dipundaknya lalu mendorong dada bidang itu dengan kasar.


"Apa kamu perlu tahu isi hatiku? Apa tidak cukup dengan tindakan saja?" tanya Aiden dengan santainya.


"Tindakan apa yang kamu maksud! Tidakan jika kamu selalu menyakitiku?! Dasar batu es tidak peka!" umpat Gwen seraya memukul dada bidang itu untuk melampiaskan kekesalannya.


"Kapan aku menyakitimu?" tanya Aiden lagi, lalu memeluk Gwen dengan erat. Akan tetapi gadis itu memberontak dan melepaskan pelukan itu.


"Keluar dari kamar ku!" Gwen beranjak dari tempat tidur, lalu menunjuk pintu kamarnya. Dia sudah habis ke sabaran menghadapi pria dingin dan tidak peka itu.


Aiden terkekeh, lalu menopang dagunya dengan salah satu tangannya. Ia merasa gemas dengan tingkah Gwen yang sedang marah seperti itu.


"Apa kamu tuli?" sentak Gwen, lalu menarik tangan Aiden, agar pria itu beranjak dari tempat tidurnya. Tapi, bukannya beranjak, pria itu malah menarik tangan Gwen, sehingga membuatnya terjatuh ke dalam pelukan Aiden.


"Sudah marahnya? Sekarang dengarkan penjelasanku," ucap Aiden seraya, menatap wajah cantik Gwen dengam lembut.


Sawerannya dongπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ