My Hot ART

My Hot ART
Kembali ke habitat!



Bibirnya melengkung tipis, tatapan matanya berbinar, saat pertama kali membuka mata yang ia lihat adalah wajah tampan sang kekasih yang masih terpejam. Tatapannya beralih ke jari manisnya, dimana ada cincin berlian yang melingkar indah disana.


Ternyata ini bukan mimpi, ini adalah nyata. Ia masih tidak percaya, akan tetapi mengingat Aiden mengungkapkan perasaannya tadi malam membuatnya tersenyum lagi.


Aku mencintaimu, ungkapan perasaan itu terdengar seperti syair yang begitu merdu, terus menggema di gendang telinga. Ah, seharusnya, ia merekamnya, agar menjadi kenang-kenangan, mengingat Aiden bukanlah seorang pria yang begitu mudah mengumbar kata cinta.


Masih saja tersenyum, sampai ia tidak sadar jika mata elang itu tengah mengawasinya.


"Apa kamu masih waras?" Suara serak khas bangun tidur itu mengejutkan Gwen, senyuman yang terlukis di bibirnya kini berubah menjadi mengerucut sebal.


"Tentu aku masih waras!" ketus Gwen, seraya mencebik kesal.


Benar 'kan dugaanya, jika Aiden akan kembali ke habitatnya, menjadi manusia batu es!


Padahal tadi malam, pria itu sangat romantis dan terus mencumbu tubuhnya, memberikan kenikmatan yang tiada terkira. Ya, hanya sekedar cumbuan belaka, tidak lebih. Keduanya masih mengingat batasan.


"Hem, benarkah?" Terkekeh pelan, salah satu tangannya terulur untuk menyentuh kening Gwen. "Ck, aku rasa kamu sudah gila dan juga demam."


Gwen mengernyit lalu memukul dada yang tidak tertutup kain itu dengan keras. "Kamu yang gila!" umpat Gwen.


"Aku belum selesai bicara." Aiden menangkap tangan Gwen yang tengah memukul dadanya, lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut.


Gwen marah dan kesal, kini menjadi malu-malu meong. Karena tersentuh dengan perlakuan, Aiden.


"Kamu gila dan demam cintanya Jaiden Clark," lanjut Aiden, lalu tergelak keras dan melepaskan tangan Gwen begitu saja.


Gwen berdecak kesal mendengarnya, namun ia tidak memungkirinya, jika dia sudah tergila-gila dengan pria yang tidur disampingnya itu. Lalu ia tersenyum dan menghambur memeluk Aiden, dan merebahkan kepalanya di dada bidang yang polos itu.


Gwen hanya mengangguk malu menanggapinya, sembari mengelus roti sobek Aiden dengan gerakan pelan.


Aiden tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Gwen, seraya menangkap tangan gadis itu yang masih menari diatas perutnya. "Jangan memancing sesuatu yang sudah bangun, karena dia dapat memangsa kamu saat ini juga."


Sontak, Gwen langung menjauhkan dirinya, bergidik ngeri sendiri, membayangkan jika hal itu terjadi.


"Dasar monster!" gerutu Gwen, seraya berajak dari tempat tidur, menuju kamar mandi.


Aiden tersenyum tipis saja menganggapinya. Kamudian ia merenggangkan salah tangannya yang terasa pegal karena semalaman dijadikan bantal oleh Gwen. Ia mendudukan diri, dan mengambil kaosnya yang tersampir di headboard tempat tidur, kemudian memakainya.


Ia menatap pintu kamar mandi, dan terdengar suara gemericik air dari sana, bertanda jika Gwen saat ini sedang membersihkan diri. Ia beranjak dari tempat tidur, dan segera keluar dari kamar tersebut.


Menoleh ke kiri dan ke kanan, memperhatikan keadaan sekitar. Seperti seorang pencuri yang akan mengambil jemuran baju tetangga. Setelah memastikan keadaan aman, ia segera berlari menuju lift yang ada di dekat ruang keluarga.


"Huh!" Aiden menghembuskan nafasnya dengan lega, saat ia sudah berada di kamarnya. "Spot jantung," gumam Aiden, lalu segera menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Bibirnya melengkung, saat melihat pantulan dirinya dicermin kamar mandi, sembari mengelus pundaknya yang terdapat, tanda cinta dari Gwen.


"Dasar gadis bau kencur."


Baper nggak sih? Pagi-pagi dah kayak orang waras, mesam-mesem sendiri☺


Kasih sawerannya jangan lupa, dan kasih like-nya juga dong, jangan ketinggalan😆💃💃