My Hot ART

My Hot ART
Pucuk dicinta ulam pun tiba



"Hayo!! Ketahuan kalian ya!" Oma Airin menyembulkan kepalanya sedikit dari balik pintu, memergoki pasangan yang akan berpelukan itu.


Sean langsung menjauhkan dirinya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Irene menundukkan kepalanya malu seraya beranjak dari duduknya, dan memberi hormat kepada Oma Airin dan Jeje yang kini sudah berada didalam ruangannya.


"Kami tidak melakukan apapun," sangkal Sean dan diangguki oleh Irene.


Jeje berjalan mendekat, lalu menjewer telinga putranya.


"Mommy sakit, Mom!!" pekik Sean, sambil memegangi tangan ibunya agar telinganya terlepas.


"Rasakan! Dasar anak nakal! Mommy melihat sendiri kalau kamu mau memeluk Irene!!!" Jeje semakin menarik telinga putranya hingga membuat Sean menjerit kesakitan.


"Ya, bagus tarik terus, Je. Sampai putus bila perlu, biar kapok nggak bandel lagi!" Oma Airin mengompori Jeje yang sedang emosi itu.


Irene yang melihat kejadian tersebut meringis sambil memegangi kedua telinganya, seolah dirinya juga merasakan sakit seperti yang dirasakan Sean.


Jeje melepaskan telinga putranya setelah puas menjewernya.


Sean mengusap telinganya yang terasa panas dan perih itu berulang kali, dan ia yakin jika telinganya kini berwarna merah.


"Huh!!" Jeje mengembuskan nafasnya dengan kasar lalu menatap tajam putranya, sedang Sean yang ditatap seperti itu langsung bersembunyi dibelakang tubuh Irene yang mungil itu.


Oma Airin menatap Irene, lalu tersenyum penuh arti.


"Sini kalian berdua!" tegas Jeje, kepada Irene dan Sean.


Lalu keduanya pun menurut berjalan mendekati Jeje.


"Maaf, Nyonya. Pak Sean tidak bersalah, apa yang kalian lihat tadi salah paham," ucap Irene, sembari menundukkan pandangannya.


"Tidak perlu kamu membelanya, Irene!!" ucap Jeje.


"Mom—" ucapan Sean terputus saat ibunya membentaknya.


"Diam kamu!! Hukumanmu itu belum selesai, lalu untuk apa kamu kesini kalau bukan untuk mengganggu Irene?!" ucap Jeje, menatap tajam putranya.


"Kata Gwen, kamu sudah punya calon istri? Mana?" Kali ini Oma Airin yang bersuara.


"Tuh, calon istriku," jawab Sean sambil menunjuk Irene.


"Sean!!" kesal Irene tertahan, lalu menatap Oma Airin dan Jeje dengan canggung.


Oma Airin dan Jeje menatap Irene penuh selidik, dan menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Kamu beneran calon istrinya anak bangor ini?!" tanya Oma Airin tidak berfilter sambil menunjuk Sean yang mengerucutkan bibirnya sebal.


"Emmhh ... itu ...." Irene tidak tahu harus menjawab apa, ia menggerakkan kedua bolanya matanya kekiri dan dan kekanan dengan pandangan yang tertunduk. Dalam hatinya terus mengumpati Sean yang telah menyudutkannya.


"Irene calon istriku, Oma dan Mommy, kita tadi baru saja membicarakan rencana pernikahan kita, ya 'kan Sayang?" Sean langsung merangkul bahu Irene dengan paksa.


Sean tentu saja mengambil kesempatan ini, agar bisa secepatnya menikahi Irene.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Batin Sean, tersenyum penuh kemenangan.


Irene berusaha melepaskan tangan kekar itu dari bahunya, sambil melirik tajam Sean.


"Benarkah itu Irene?" tanya Jeje.


"Ngg ..... Awww! Iya Nyonya," jawab Irene, sembari meringis kesakitan saat bahunya dicengkram erat oleh Sean.


Oma Airin dan Jeje saling pandang, kemudian tersenyum lebar. "Benarkah? Lalu kapan kalian akan menikah?" tanya Jeje, berbinar.


"Secepatnya," jawab Sean, membuat Irene terkejut.


"Ah, benarkah?" Oma Airin berseru heboh lalu berpelukan dengan Jeje, namun beberapa saat kemudian Oma Airin terdiam lalu melepaskan pelukan tersebut dan menatap Irene dengan selidik.


"Segelmu belum dibuka sama anak bangor ini, kan?" tanya Oma Airin tidak berfilter.


"Oma!!" protes Sean.


Emak dah up 5 bab, hari ini.


Sawerannya jangan kendor dong. 🤭