My Hot ART

My Hot ART
Sangat kejam!



Suasana kamar yang biasanya terasa hangat dan penuh kemesraan kini tidak ada lagi. Hanya ada suara tangisan lirih dibalik selimut tebal itu.


Xander menghembuskan nafasnya berulang kali guna mengusir emosi yang sudah menyelimuti hatinya. Sebenarnya dia tidak tega melihat istrinya menangis seperti itu, tapi mau bagaimana lagi dia terlanjut kecewa dengan sikap istrinya yang menyembunyikan kelakukan Sean di belakangnya.


Tapi, dia mencoba untuk mengalah karena rasa cinta sangat besar untuk istrinya.


Ditariknya selimut tebal itu yang membungkus tubuh istrinya.


"Honey." Xander memanggil istrinya dengan lembut, seraya merebahkan diri dibalik punggung Jeje. Lalu dipeluknya tubuh istrinya dari belakang dengan erat.


"Hei, jangan menangis lagi. Kamu sudah berjanji tidak akan mengeluarkan air matamu lagi. Apa kamu masih ingat janji itu?" Xander semakin mengeratkan pelukkanya dan mengecup bahu istrinya dengan penuh kehangatan.


Ya, Jeje tentu saja masih mengingatnya. Tapi, bagaimana dia tidak menangis, sementara hatinya sangat kecewa dan terluka karena tingkah putranya sendiri. Ia semakin terisak lirih, lalu membalikkan badannya, berhadapan dengan suaminya.


"Maafkan aku." Jeje mengucapkan dengan bibir yang bergetar, menahan tangisnya.


"Ssttt, jangan meminta maaf." Xander menempelkan jari telunjuknya didepan bibir Jeje.


"Tapi, aku salah. Aku juga gagal mendidik Sean. Ya Tuhan, maafkan hambamu ini." Jeje tidak kuasa menahan air matanya lagi. Membayangkan aksi bejat putranya itu, yang penuh dosa.


Xander mengusap air mata yang membasahi pipi itu dengan lembut. Hatinya berdenyut nyeri melihat istrinya sangat terluka. "Jangan dipikirkan lagi, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang anak itu sudah mendapat hukumannya. Semoga dengan ini dia memperbaiki dirinya menjadi lebih baik," ucap Xander, lalu membawa istrinya kedalam dekapan hangatnya.


*


*


Di pavilun belakang.


Sean berdecak kesal saat melihat paviliun mewah namun tidak terawat dengan dua kamar didalamnya dan ada ruang tamu di bagian depan.


"Pak Win ini yang benar saja, seperti rumah hantu," ucap Sean, sembari menyampu atas meja dengan jari telunjuknya dan banyak debu yang menempel di jarinya itu.


"Pak, bisakan anda membantuku untuk membersikan tempat ini?" tanya Sean.


"Tuan Besar melarang saya dan pelayan lainnya untuk membantu Anda, jadi saya minta maaf," jawab Pak Win, mendapat tanggapan decakan kesal dari Sean.


"Kalau begitu saya permisi." Pamit Pak Win segera keluar dari paviliun tersebut.


"Sial!!!" umpat Sean, saat Pak Win sudah tidak terlihat lagi.


"Hah!! Berapa lama aku harus terkurung disini?" gumam Sean, memasuki kamar yang terlihat rapi namun banyak debu disana.


"Ck!" Sean berdecak kesal, seraya menggaruk kepalanya resah. Lalu ia keluar dari kamar tersebut menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.


Ternyata di dapur sudah disiapkan beberapa makanan instan dan beras. Juga ada alat kebersihan seperti sapu, alat pel dan lainnya.


"Sepertinya Daddy sudah merencanakan ini semua. Dan apa ini? Makanan instan? Astaga! Aku bisa mati jika memakan makanan seperti ini," gerutu Sean, lalu mengambil sapu, alat pel beserta ember yang sudah ia isi air, untuk membersihkan paviliun tersebut.


"Entah bersih atau tidak yang penting aku bisa tidur nyenyak!" gerutu Sean, mengganti sprei tempat tidur dengan yang baru. Setelah itu ia menyapu dan mengepel seluruh paviliun tersebut.


"Sudah selesai semua, sekarang waktunya istirahat sambil menyusun rencana kedepannya." gumam Sean, lalu merebahkan dirinya diatas tempat tidur itu. Beruntung dikamar tersebut ada AC jadi dia tidak kepanasan.


Sean mengambil ponselnya, lalu mengecek saldo M-bankingnya.


"What!!! Daddy sangat kejam!" kesal Sean, sambil mengacak rambutnya frustasi karena semua M-banking nya di blokir.


"Lalu bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku?!" Sean semakin frustasi di buatnya.


Semangat Sean ! Dengan kehidupan yang baru🤣🤣🤣