My Hot ART

My Hot ART
Pagi yang hangat



Pagi berlalu begitu cepat, didalam kamar hotel, tepatnya kamar pengantin baru. Irene melepaskan tangan Sean yang melingkar di perutnya.


"Ah, tubuhku remuk rasanya." Irene mengeluh sembari merenggangkan otot tubuhnya. Tadi malam, Sean sudah menunjukkan taringnya, begitu ganas, beringas dan tidak ada lelahnya sama sekali terus mencumbu dan mencicipi tubuhnya.


"Pagi sayang." Sean menyapa dengan suara seraknya khas bangun tidur, tersenyum hangat ketika melihat pagi pertamanya yang ia lihat adalah istri cantiknya.


"Pagi juga, Se," jawab Irene dengan raut wajah yang kesal.


Sean terkekeh, lalu menarik tubuh mungil Irene kedalam pelukannya. Sean tahu, pasti istrinya itu marah kepadanya, karena tadi malam dirinya minta tambah sebanyak dua kali, dan bermain dengan berbagai gaya.


"Tubuhku sangat lelah!" Irene berengut kesal, seraya mencubit gemas perut Sean yang kotak-kotak seperti tahu itu. Akan tetapi, Sean tidak merasakan sakit sedikit pun, malah sebaliknya merasa geli dan cubitan Irene, memangunkan sesuatu yang ada di bawah sana.


"Lo membangunkan Si Joni, Ren" bisik Sean dengan pelan, terasa menggelitik di indra pedengaran Irene.


Ya, Irene merasakannya, ada sesuatu mengganjal yang menempel di pahanya, membuatnya bergidik mengeri. "Jangan macam-macam, Se! Tubuhku benar-benar sangat lelah," rengek Irene.


Tapi, sepertinya Sean tidak kehabisan akal untuk. dan tidak akan menyerah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Tubuh Irene sudah seperti candu untuknya. "Once again, Ren. Please."


"No!"


"Please." Memasang wajah semelas mungkin, agar istrinya mengijinkan dirinya melakukan pendakian di pagi hari itu.


Irene bisa apa? Jika melihat muka yang memelas itu. Terlihat sangat tampan dan menggemaskan. Membuatnya tidak kuasa untuk menolak lagi. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "Pelan-pelan," ucap Irene saat, suaminya menyibakkan selimut dan mulai mengungkung tubuhnya lagi.


"Tentu," jawab Sean. Bersorak didalam hati.


"Love you, Ren," bisik Sean ketika si joni sudah besarang di dalam sana. Terasa ketat, sempit dan sangat nikmat yang dirasakan oleh Sean.


"Me too, Sean," balas Irene, seraya mengalungkan kedua tangannya erat di leher suaminya.


Sean tersenyum simpul ketika melihat istrinya sudah tidak kaku, seperti awal mereka bercinta. Irene berlajar dengan cepat dan kini bisa mengimbangi permainan suaminya.


Sean mulai memaju mundurkan senjatanya, dengan gerakan yang pelan namun pasti.


"Ah ... ah." Suara desahaan Irene keluar tanpa di minta saat merasakan kenikmatan yang tiada terkira.


Sean semakin bersemangat ketika mendengar suara desaahan Irene yang terdengar seperti nyanyian merdu di telinganya. Ia mempercepat gerakannya, sembari mencium bibir istrinya sangat rakus, bertukar saliva-nya dan membelit lidah, sehingga suara decapan, lenguhan dan desaahan terus menggema di kamar pengantin baru itu. Sampai pada akhirnya keduanya itu mencapai pelepasan bersama-sama.


Sean menghentakkan si joni sampai ke titik yang paling dalam, saat akan memuntahkan mayones kedalam rahim istrinya untuk yang kesekian kalinya, dengan harapan agar istrinya cepat hamil buah hatinya.


Sean mengecup wajah lelah Irene dan tidak lupa mengucapkan rasa terima kasih.


"I Love You, Ren."


Pagi-pagi kasih yang anget aja. 🙈


Jangan lupa kasih like, dan sawerannya ya. 😆💃