My Hot ART

My Hot ART
Seorang gadis?



Aiden mengeraskan rahangnya saat mendengar suara samar-samar seperti desaahan dari kamar sebelah. Ia berdiri didekat jendela bertelanjang dada dan memasukan kedua tangannya kedalam kantong celananya. Matanya menatap kosong kegelapan malam diluar sana melalui jendela kamarnya.


Kegelapan malam yang sama persis seperti hatinya yang terasa gelap dan juga hampa. Berulang kali ia menarik nafas panjang agar dirinya menjadi tenang. Tapi tetap saja percikan api didalam dadanya semakin berkobar tidak mampu untuk dipadamkan.



Aduh Bang Ai.. ❤🔥


"Mencintaimu dalam diam, nyatanya sangat menyakitkan. Kamu yang berada didekat ku tidak mampu untuk ku gapai. Kenapa sesakit ini yang aku rasakan?! Kenapa?" gumam Aiden, semakin mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya yang ada didalam kantong celananya.


Dadanya bergemuruh dan terasa panas, menahan api yang berkobar didalam sana.


Apalagi saat ia membayangkan Kirana dan Nathan bercinta membuat dadanya terasa sesak dan sangat sakit.


Lalu ia berjalan menuju nakas, dan mengambil ponselnya. Dibukanya ponselnya itu dan menekan aplikasi galeri dimana ia menyimpan foto Kirana yang ia ambil secara diam-diam saat gadis itu masih menjadi ART-nya.


"Kamu cantik, sangat cantik malahan," gumam Aiden, seraya mengusap foto Kirana yang terlihat cantik natural.


Lalu ia meletakkan ponselnya kembali diatas nakaa, dan merebahkan badannya diatas tempat tidur yang empuk itu.


Menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan hampa.


*


*


*


Disisi lain Sean merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat lelah, setelah seharian bekerja.


Ya, Sean sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran. Walau hanya sebagai Waiter, tapi dia masih bersyukur setidaknya masih mendapatkan pekerjaan yang halal.


"Lelahnya," gumam Sean, karena seharian ini harus mondar-mandir melayani pengunjung restoran itu. Saat ini dirinya berada diparkiran khusus karyawan yang letaknya dibelakang gedung restoran tersebut.


"Wah, hari pertama bekerja sudah lancar ya, Jo," ucap Manager restoran tersebut yang baru datang keparkiran dan menghampiri Sean.


"Iya dong kebutuhan hidup, Bu. Harus semangat," jawab Sean, seraya tersenyum paksa.


Manager tersebut mengacungkan kedua jempol tangannya seraya tersenyum manis kepada Sean.


"Ini motor kamu?" tanyanya berbasa-basi, sembari menunjuk motor CBR berwarna merah yang ada didekat Sean.


"Iya," jawab Sean, singkat.


Hidupnya terasa tidak bergairah lagi saat ia mendapat hukuman. Bahkan ia sekarang malas menanggapi para wanita yang mendekatinya, termasuk Manager-nya ini.


"Keren banget cocok sama cowok ganteng dan macho kayak kamu," mulai menunjukkan belangnya, membuat Sean memutar kedua matanya dengan malas.


"Saya permisi, Bu," ucap Sean, lalu menunggangi kuda besinya itu, tanpa memperdulikan ucapan Managernya yang masih ingin berbicara kepadanya.


Ia mengendarai motornya membelah jalanan kota Jakarta yang mulai sepi itu dengan kecepatan penuh.


Namun ia menghentikan motornya secara mendadak saat ia melihat seorang gadis yang bediri di halte bus seorang diri di seberang jalan sana. Gadis itu sangat dikenalnya. Pikirannya bersikap cuek dan tidak peduli akan tetapi hatinya berkata lain.


Bagaimana jika wanita itu nanti mengalami hal yang tidak diinginkan apalagi kondisi sudah malam hari. Ia pun akhirnya memutar arah melewati Verboden. Beruntung disana tidak ada polisi, jika ada dirinya sudah pasti akan ditilang.


Ia menghentikan motornya tepat dihadapan gadis itu. Membuat gadis yang sedang berdiri dan menundukan kepala kini menatapnya tidak percaya.


"Pak ..."


Hayo siapa gadis itu?