
Nathan membalik posisi Kirana, yang tadinya berada dipangkuannya kini menjadi dibawah kungkungannya. Nathan tersenyum tipis, mengagumi kecantikan dan kemolekan tubuh istrinya yang sangat sexy.
"Jangan menatapku seperti itu," ucap Kirana merasa malu, lalu memalingkan wajahnya.
"Memang kenapa? Semua yang ada didalam dirimu adalah milikku. Termasuk ini," ucap Nathan sembari memilin pucuk dada itu bergantian, hingga membuat Kirana membusungkan dadanya karena tidak kuasa menahan geli dan enak bercampur menjadi suatu kenikmatan yang tiada terkira.
"Dan juga ini." Nathan berucap sembari menyentuh bagian inti istrinya dan memainkannya sejenak.
Kirana memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya, saat merasakan si sarung sempit dipermainkan suaminya.
"Mas, jangan menyiksaku," ucap Kirana sembari menahan desahaannya.
Nathan tersenyum lalu menarik jarinya dan mulai memposisikan dirinya disela paha istinya. "Apa kamu siap?" tanya Nathan, seraya menggesekkan si kepala plontos pedang saktinya ke daging yang merekah dan terbelah dua itu.
"Mas!" rengek Kirana, karena merasa dipermainkan oleh suaminya.
Nathan terkekeh, lalu menundukkan kepalanya. Mulai mencumbu istrinya itu bersamaan dengan ia melesakkan si pedang sakti madra guna kedalam sarung sempitnya.
"Ahh ... Oh My God ... ." racau Nathan saat pedang saktinya tertanam sempurna disarung sempitnya dengan sekali hentakan. Terasa hangat, sempit dan berdenyut. Sangatlah nikmat.
Dan percintaan panas itu pun dimulai. Keduanya saling memberi kenikmatan. Suara desaahan terus terdengar hingga memenuhi setiap sudut kamar itu. Bahkan mereka tidak menghiraukan suara ketukan pintu dari luar kamar.
Udara pagi hari yang sejuk dan hawa AC yang terasa dingin tidak mampu menyurutkan gairah keduanya, hingga tiba saatnya keduanya itu mencapai pelepasan bersamaan.
Nathan menghentakkan pedang saktinya saat akan menyemburkan mayones kedalam rahim istrinya.
Peluh membasahi tubuh keduanya dan nafasnya pun naik turun tidak beraturan, bertanda jika percintaan mereka sangat dahsyat.
"Iya, Mas," jawab Kirana, seraya memejamkan matanya karena kepalanya terasa pusing dan merasa mual kembali. Ia memijit pelipisnya sambil berdesis.
"Kenapa, Dek," tanya Nathan, lalu mendudukan dirinya. Menatap cemas istrinya.
"Nggak tahu, tiba-tiba kepala aku pusing dan mual lagi," jawab Kirana, sambil menutup mulutnya karena perutnya terasa diaduk lalu segera beranjak menuju kamar mandi dan di ikuti oleh Nathan. Tubuh keduanya masih sama-sama polos, dan Nathan membiarkan bagian bawahnya gondal-gandul begitu saja.
"Hoek ... ." Kirana memuntahkan isi perutnya, namun tidak ada apapun yang keluar, karena memang perutnya masih kosong.
Nathan mengusap dan memijit tengkuk istrinya dengan kelembutan. Sebagai seorang suami, tentu saja dia sangat cemas melihat kondisi istrinya yang seperti itu.
"Aku akan memanggil Dokter untuk memeriksa kondisimu, jangan membantah lagi!" ucap Nathan dengan tegas, saat melihat Kirana hendak protes.
"Aku takut, Mas. Takut jika sakit parah," jawab Kirana seraya menatap suaminya dengan berkaca-kaca.
Nathan menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu menggendong istrinya keluar dari dalam kamar mandi.
"Makanya kamu harus di periksa oleh Dokter agar tahu penyakitmu ini apa," ucap Nathan dengan nada bicara yang mulai melembut, sembari mendudukkan istrinya ditepian tempat tidur.
"Tapi, jika benar aku sakit—"
"Jangan berperasangka buruk, kita harus berfikir positif," potong Nathan, sambil memakaikan dress beserta dalaman-nya ketubuh Kirana dengan sangat telaten.
Seperti biasa kasih saweran kembang dan kopi biar Emak semakin semangat. Dan hari ini Emak akan Crazy up lagi 6 Bab, jadi pantengin terus My Hot Art😘😘