My Hot ART

My Hot ART
Semua demi, Lo!



Irene memasak di dapur sembari bersenandung, sedangkan Sean sedang membersihkan diri dikamar mandi.


"Se? Apa kamu sudah selesai? Kenapa lama sekali sih?" seru Irene, sembari menatap pintu kamar mandi yang tidak kunjung terbuka. Padahal Sean sudah didalam kamar mandi sana hampir satu jam.


"Yeah, sebentar lagi!" jawab Sean sedikit berteriak dari dalam sana.


"Sebenarnya apa yang kamu lakukan didalam sana? Apa kamu sakit perut?!" tanya Irene lagi, berjalan mendekat ke pintu kamar mandi, menempelkan telinganya disana.


"Tidak! Ini sudah selesai," jawab Sean, seraya membuka pintu kamar mandi dengan gerakan cepat, sehingga membuat Irene yang ada didekat sana hampir terjengkang kedepan.


"He he he he." Irene tersenyum meringis, menjadi salah tingkah.


"Lo mau ngintip gue ya?" goda Sean, seraya menaik turunkan alisnya.


"Ih! Nggak!" jawab Irene, lalu berjalan menuju dapur.


"Nggak bohong? Sabar dong sebentar lagi 'kan halal, atau lo mau lihat dulu?" Sean semakin menggoda Irene yang terlihat salah tingkah, sambil menyeduh kopi susu untuk Sean.


Irene menoleh sambil memasang wajah sebal seraya membenarkan kaca matanya yang melorot dari hidung mungilnya. "Ngomong lagi, aku beri nih!!!" ancam Irene sambil menunjukan kepalan tinju kepada Sean. Bukannya takut, Sean malah semakin mendekat seraya tertawa keras.


"Silahkan kalau lo mau mukul gue. Tapi, gue bakalan balas saat malam pertama nanti," ucap Sean, menyeringai licik seraya mengambil secangkir kopi tersebut. Kemudian menyesap kopi itu sedikit. Ah, rasanya sangat manis, seperti Irene yang begitu manis dimatanya.


Sean mengerling nakal seraya menyesap kopinya lagi. Kemudian ia beranjak keluar dari dapur meninggalkan Irene yang masih mematung ditempat. Ia yakin, jika gadis itu saat ini sedang sangat ketakutan saat mendengar perkataannya.


"Huh!" Irene menghembuskan nafasnya dengan kasar, saat Sean sudah tidak terlihat. "Bagaimana bisa dia berkata sefrontal itu kepada gadis yang polos sepertiku ini?" gumam Irene, merutuki Sean.


*


*


*


Sean dan Irene berangkat kerja bersama. Sean mengantarkan Irene ke Warjah Grub, setelah itu ia baru berangkat ke Restoran.


"Hari ini lembur lagi?" tanya Irene, saat Sean membantunya turun dari motor.


"Heum. Kenapa?" tanya Sean, sembari menyelipkan anak rambut dibelakang telinga sang kekasih.


"Jangan terlalu lelah bekerja. Aku tidak ingin kamu sakit, Se," jawab Irene, menatap pria jangkung itu dengan dalam.


Sean tersenyum tipis mendengarnya. "Semua demi lo, Ren. Gue pengen segera ngehalalin lo, biar hubungan kita nggak ngegantung kayak gini," jawab Sean, saraya membenarkan kaca mata Irene yang terlihat melorot.


"Sean," lirih Irene dengan mata yang berkaca-kaca. Terharu dengan segala perjuangan kekasihnya. "Terima kasih, Se," ucap Irene, ingin menghambur memeluk kekasihnya, namun gerakannya tertahan saat kepalanya ditahan oleh Sean.


"Jangan main peluk sembarangan. Belum halal dan malu dilihat orang," ucap Sean, sok jual mahal. Sembari menatap sekitar lapangan parkir disana yang masih terlihat sepi.


Irene terkekeh mendengarnya, namun beberapa saat kemudian ia cemberut kesal ketika mendengar perkataan Sean yang sangat menyebalkan.


"Kalau cium bibir boleh. Biar dosanya nggak nanggung," lanjut Sean, sembari menunjuk bibirnya yang ia monyongkan.


"Dasar Buaya Amazon! Kadal Buntung!" kesal Irene sambil memukul lengan Sean dengan gemas.


"Ha ha ha ha," Sean tertawa keras saat melihat wajah kesal Irene, kemudian ia segera menaiki motornya.


"Awas kamu ya!!" omel Irene, berkacak pinggang seraya melotot tajam kearah Sean.


Saweran kembang sama kopi jangan kendor ya. Syukur-syukur dikasih kursi pijat, alhamdulillah sekali ya besti.🤣🤣🤣