
Hari ini sudah up 4 bab ya❤
Setelah dari Bandara, Keluarga Clark melanjutkan perjalanannya menuju Desa Kirana menggunakan dua mobil yang sudah di siapkan Aiden sebelumnya. Xander, Jeje dan Ansel berada di satu mobil, sedangkan Oma Airin, Sean dan Aiden berada di mobil yang satunya lagi. Tapi, sebelumnya mereka pergi Mall untuk membeli buah tangan untuk keluarga Kirana.
Lagi-lagi Xander mengumpat kesal, karena medan perjalanan menuju Desa sangat jauh, bukan itu saja tapi jalanannya juga sangat jelek.
"Siapa pemimpin di daerah sini? Kenapa mereka membiarkan jalanan disini rusak! Haisshh! Bokongku terasa sakit!!" umpat Xander, ketika mobil melewati jalan berlubang.
"Sudahlah, Dad! Jangan terus menggerutu. Bokongku juga sakit tahu!" cetus Jeje, melirik sebal suaminya.
Xander menoleh ke samping kiri dimana Istrinya duduk di sebelahnya. "Bokongmu sakit? Oh, tidak bisa di biarkan!" Xander langsung mengangkat tubuh Jeje tanpa beban dan membawa ke pangkuannya.
"Ck!" Ansel yang sedang menyetir mobil sampai berdecak kesal, melihat tingkah ayahnya yang berlebihan. "Stop! Jangan berlebihan, Dad! Dan turunkan Mommy!" seru Ansel, menatap sengit ayahnya dari spion tengah, karena Xander dan Jeje duduk di jok belakang.
"Diam! Dan fokus menyetirlah, Boy!" Xander berucap tanpa mengalihkan pandangan dari wajah cantik istrinya.
"Hih!! Aku membencimu, Dad!!"
"I Don't Care!" jawab Xander cuek, lalu mengeratkan pelukannya di pinggang istrinya dan menelusupkan wajahnya di leher Jeje.
"Apa kamu sudah merasa nyaman? Hem? Bokongmu sudah tidak sakit?" tanya Xander, mendongak lalu mengecup bibir istrinya sekilas.
"Aku tidak apa-apa, Dad. Jangan berlebihan, lihatlah putramu merajuk," ucap Jeje, merasa jengah dengan tingkah suaminya yang semakin hari, semakin posesif.
"Jangan terlalu memanjakannya!" tegas Xander. "Kamu adalah sebongkah berlian dan tidak boleh lecet atau merasa sakit sedikit pun." Ucapan Xander terdengar sangat berlebihan menurut Jeje.
"Huek!" Ansel merasa mual ketika mendengar gombalan ayahnya yang ditunjukan kepada ibunya.
Xander hanya melirik malas putra bungsunya itu.
"Ayolah, Dad. Jangan berlebihan." Jeje melepaskan belitan tangan suaminya, turun dari pangkuan Xander dan mendudukan diri ke posisi semula.
"Mulai lagi! Dasar Crazy Rich!" dumel Jeje, malas menanggapi perkataan suaminya.
*
*
Dimobil lainnya Oma Airin sedang mengeluarkan isi perutnya karena mabuk perjalanan, menggunakan kantong kresek.
"Malin!!!" Sean menutup hidungnya dan menjauhi Omanya yang sedang mabuk perjalanan itu.
"Diam kau cucu luknut!! Hais!! Sepertinya kalian harus membangun jalanan rusak ini. Oh, ya ampun, perutku terasa di aduk! Hoek!!" Oma Airin mengeluarkan isi perutnya dan menampungnya di kantong kresek yang di pegangnya.
Sean mengambil parfum yang ada di dalam tasnya lalu menyemprotkannya ketubuh Oma Airin.
"Cucu kurang asam! Kurang garam!! Aku kutuk kau jadi kecebong!" umpat Oma Airin, lalu dengan sengaja ia menyerahkan kantong kresek itu kepada Sean.
"Oh, No!! Jauhkan itu dari ku Malin!!" Sean menutup hidungnya dan memojokkan dirinya sampai terpentuk pintu mobil.
"Ini isinya harta karun tahu!! Karena sebelum berangkat kesini, aku makan roti berlapis emas dan lihat sekarang terbuang sia-sia," gerutu Oma Airin, lalu membuang kresek tersebut dari jendela mobil.
"Dasar Crazy Rich!" umpat Sean, seraya mendengus kesal.
Aiden yang sedang menyetir tidak kuasa menahan tawanya, lalu ia membuka kaca jendela di sisi kanannya agar udara yang ada di dalam mobil tersebut keluar dan tergantikan dengan udara yang segar.
Orang kaya makannya beda ya, Mak. Rotinya berlapis emas🤣
Apalah dayaku yang cuma bisa makan roti tawar🤣